Dongkelan Masa Lalu dan Kini

Makam Kiai Dongkel atau Kiai Syihabuddin yang menjadi asal-usul nama Dongkelan. YUNI KUSUMAWATI

Dongkelan adalah sebuah desa di tanah Ngayogyakarta Hadiningrat. Desa ini terletak di perbatasan utara Kabupaten Bantul. Dahulu, Pedukuhan Dongkelan menjadi desa anti upeti kepada kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) I. Anti upeti terjadi berkat jasa Kiai Syihabuddin.

Singkat cerita, menurut selebaran yang didapat dari Darpo selaku sesepuh Dongkelan, pada masa Sultan HB I, Kiai Syihabuddin merasa gundah. Kegundahan tersebut terjadi karena Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I atau Raden Mas Said yang dikenal sebagai menantu Sri Sultan sedang naik tahta.

Konflik antara Raden Mas Said dan Sri Sultan HB I terjadi pada tahun 1757 hingga 1758. Sri Sultan ingin mengalahkan menantunya itu di medan laga tanpa merasa membunuhnya.

Menurut bisikan gaib yang diperoleh Sri Sultan ketika berada di Sumolangu—sekarang bernama Kebumen, Sultan harus mencari jago wiring kuning putih dari daerah Banyumas. Ternyata maksud bisikan gaib tersebut tak lain adalah Kiai Syihabuddin, yang saat itu tinggal di sisi timur Sungai Winongo atau sebelah selatan Keraton Yogyakarta.

Setelah terjadi perundingan, Kiai Syihabuddin menyanggupi permintaan tersebut dengan dua syarat. Pertama, apabila tugasnya berhasil, ia meminta diangkat menjadi patih untuk syiar dakwah. Kedua, ia meminjam tombak Kanjeng Kiai Hageng Pleret untuk menjalankan tugasnya.

Suatu ketika, terjadi kesepakatan adu kesaktian antara Kiai Syihabbuddin dan Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Saat sedang beradu, khadam atau senjata dari Sri Mangkunegara I tidak dapat menembus kulitnya. Kiai Syihabuddin melakukan perlawanan dengan cara menikam Sri Mangkunegara I menggunakan senjatanya, ia berkata, “Kau pergi sajalah, mertuamu tidak ingin kau terluka.”

Kejadian tersebut membuat Sri Mangkunegara I sangat malu dan menceraikan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bandara, putri dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan GKR Kencana. Mereka resmi bercerai pada Desember 1763 melalui Pengadilan Belanda di Semarang.

Atas keberhasilannya tersebut, ia meminta kepada Sri Sultan agar tuntutannya dipenuhi. Namun, karena pertimbangan berbagai hal, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Kiai Syihabuddin tidak dapat diangkat menjadi patih. Posisi tersebut sudah terisi oleh Tumenggung Yudanegara, Bupati Banyumas yang kemudian bergelar Patih Danureja I. Sultan tidak berdaya untuk memenuhi janjinya sendiri. Kejadian ini mengakibatkan Kiai Syihabuddin mengambek.

Walaupun tidak menjadi patih, Kiai Syihabuddin diangkat menjadi penghulu keraton pertama. Namun, jabatan ini pun tidak berlangsung lama. Rasa kecewa Kiai Syihabuddin tak terelakkan sebab permintaan utamanya adalah menjadi patih. Kekecewaan inilah yang menjadi asal-usul ia mendapat julukan Kiai Dongkol (kiai yang kecewa).

Lambat laun, sebutan tersebut mengalami perubahan ucapan menjadi Kiai Dongkel. Selain itu, nama kampung yang ditempati Kiai Syihabuddin pun diberi nama Kampung Dongkelan untuk menghormati jasa Kiai Dongkel. Terdapat masjid bernama Masjid Pathok Negoro di wilayah Dongkelan. Itu merupakan hadiah yang diberikan Sri Sultan kepada Kiai Dongkel dan menjadi monumen penting lahirnya Kampung Dongkelan.

Dongkelan sebagai Tanah Koplakan

Menurut Darpo, yakni salah satu keturunan pemilik tanah koplakan, menuturkan bahwa Dongkelan pada masa lalu dikenal dengan alasnya yang lebat. Tahun demi tahun daerah tersebut kian ramai ditinggali masyarakat. Pada 1940-an, daerah Dongkelan, tepatnya selatan perempatan Dongkelan saat ini, dikenal dengan nama koplakan.

Koplakan berasal dari nama tempat peristirahatan gerobak. Pada masa penjajahan, tempat tersebut digunakan masyarakat dari penjuru kota untuk berhenti membawa gerobak yang mengangkut aneka hasil bumi.

Tahun demi tahun, gerobak tak lagi difungsikan sebab tergantikan dengan kendaraan modern. Gerobak yang tersisa hanya satu buah, yakni milik Darpo yang biasa digunakan untuk mengangkut rendeng (tanaman kacang).

Dongkelan dan Dongkelan Kauman

Dongkelan dan Dongkelan Kauman merupakan dua kata yang sama hanya mempunyai perbedaan kata ‘kauman’. Raden Muhammad Burhanudin yang merupakan keturunan dari Kiai Syihabuddin mengungkapkan latar belakang perbedaan tersebut karena untuk menghilangkan kekecewaan Kiai Syihabuddin.

Dongkelan Kauman berasal dari kata ‘dongkelan’ dan ‘kauman’ yang artinya Kampung Dongkelan, sedangkan kata ‘kauman’ artinya perkampungan orang muslim. Jadi, masyarakat yang tinggal di Dongkelan Kauman semuanya menganut agama Islam.

Masjid yang dibangun oleh Keraton Yogyakarta, dibuat menyerupai masjid keraton yang di halaman depannya diberi kolam, di sebelah barat terdapat kuburan, memiliki tembok tinggi, dilengkapi dengan bedug, serta pegawai (abdi dalem) yang bertugas untuk menegakkan salat berjamaah.

Setelah masjid berdiri, kegiatan umat dan komunitas Islam berpusat di salah satu Masjid Pathok Negara, yakni Masjid Dongkelan. Fungsi lainnya sebagai tempat benteng keamanan keraton dari serangan Belanda ataupun serangan luar. Selain itu, dahulu kiai-kiai juga memberikan pelajaran agama, pelajaran bercocok tanam, dan pelajaran berdagang di masjid tersebut.

Dongkelan dan Dongkelan Kauman saat ini menjadi dua nama pedukuhan, tetapi terletak di kecamatan yang berbeda. Dongkelan terletak di timur Sungai Winongo, sedangkan Dongkelan Kauman terletak di barat Sungai Winongo.

Dongkelan Masa Kini

Pedukuhan Dongkelan merupakan salah satu pedukuhan dari empat belas pedukuhan di Desa Panggungharjo. Letak Pedukuhan Dongkelan sendiri berada di perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta sehingga sangat strategis untuk kawasan perekonomian.

Dongkelan terbagi menjadi sepuluh RT dengan jumlah penduduk mencapai 2.349 jiwa. Kepala dukuh yang menjabat saat ini bernama Edi Sarwono yang bertempat tinggal di RT 8. Beliau menjabat hingga tahun 2025. Agama yang dianut oleh masyarakat Dongkelan antara lain Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan penghayat kepercayaan.

Menurut cerita Edi Sarwono, Dongkelan awalnya adalah sebuah hutan, tetapi dibabat oleh Kiai Syihabuddin hingga akhirnya berdatangan masyarakat yang mau menetap. Kini Dongkelan menjadi tempat mata pencaharian dari berbagai kalangan.

Meskipun Masyarakat Dongkelan saat ini semakin modern, mereka masih menjunjung tinggi kebudayaan, contohnya mengadakan latihan kesenian jatilan, melakukan tradisi nyadran, tahlilan, dan lain-lain.

Add Comment