Dua Puluh Empat Jam Bantu Pengendalian Covid-19

Pengendali Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Satgas Covid-19 Kabupaten Sleman, Dikau Mardika, memberikan pengarahan kepada Tim Posko sebelum bertugas di lapangan. HUMAS PEMKAB SLEMAN

Pandemi Covid-19 dianggap sebagai bencana yang mengancam keselamatan hidup umat manusia mulai akhir Desember 2020. Kasus kematian akibat virus yang berasal dari Wuhan itu tak dapat terelakkan lagi, selalu bertambah setiap harinya, bahkan dengan jumlah yang terkadang di luar prediksi. Menghadapi hal berat tersebut, Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kabupaten Sleman tak gentar dalam membantu penanganan pandemi sesuai tugas dan fungsinya.

Dikau Mardika, salah satu tokoh di balik percepatan penanganan pandemi di Sleman, mengemban tugas pentingnya sebagai Pengendali Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Satgas Covid-19. Ia mengawali pekerjaan tersebut sekitar tanggal 22 April 2020, ketika pandemi mulai menjadi perbincangan masyarakat yang menerimanya dengan setengah kepercayaan.

Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Covid-19 bertugas memakamkan jenazah yang terpapar Covid-19. Di samping itu, melakukan dekontaminasi armada ambulans, mobil jenazah, ataupun kendaraan operasional lainnya. Kegiatan dekontaminasi tersebut dilaksanakan di posko dekontaminasi yang berlokasi di area Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman.

Sejak awal berdirinya Posko, Dikau Mardika, sosok yang sebelumnya bekerja di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Sleman ini telah menyusun konsep agar Posko dapat beroperasi dengan semestinya. Dalam perjalanannya, ia selalu memastikan semua prosedur berjalan dengan baik, berusaha mengantisipasi agar relawan dalam timnya tidak sampai terpapar Covid-19, juga memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan peralatan yang digunakan untuk disinfeksi.

Dikau mengisahkan, sebelum shelter karantina Wisma Sembada di Kaliurang dikosongkan akibat adanya erupsi Merapi, satu tim pemakaman terdiri dari delapan orang relawan, enam orang untuk tim dekontaminasi, satu orang admin, dan satu pengendali posko yang kebetulan diampu langsung oleh dirinya. Peran sebagai pengendali posko tersebut dijalankannya bersama seorang petugas lain bernama Huda.

Selanjutnya, ia mendapatkan tambahan amanah berupa layanan call center yang beroperasi 24 jam nonstop. Setiap ada jenazah yang harus dimakamkan, baik dari kasus suspect, probable, maupun confirmed Covid-19, call center digunakan sebagai prasarana yang memudahkan koordinasi antara pihak Tim Posko Dekontaminasi dan Pemakaman dengan pihak rumah sakit, Dinas Kesehatan, maupun masyarakat yang membutuhkan.

Pada Desember 2020, tercatat ada 101 jenazah yang dimakamkan oleh Tim Posko, dan mengalami peningkatan di bulan Januari 2021, yaitu sebanyak 129 jenazah. Saat itu, dalam satu hari, Tim Posko dapat memakamkan hingga 9 jenazah. Kondisi di lapangan yang kalut sering kali membuat Tim Posko kewalahan, salah satunya akibat kekurangan personel.

Semakin banyak kasus, penanganan yang dilakukan oleh Tim Posko tidak menutup kemungkinan akan terasa lebih berat lagi. Dikau menjelaskan, setiap harinya, Tim Posko mendapatkan update infografis mengenai penambahan kasus Covid-19 di wilayah Sleman dari Gugus Tugas Covid-19.

Setiap ada penambahan kasus tersebut, Tim Posko harus siap-siap. Sebab, seperti pada pengalaman sebelumnya, dalam satu hari Tim Posko harus melakukan dekontaminasi dengan melibatkan 29 armada.

Dikau menuturkan, Tim Posko saat ini hanya memiliki empat tim yang masing-masing beranggotakan delapan sampai dengan sembilan orang. Sekalipun ada permintaan pemakaman jenazah Covid-19 yang cukup banyak, delapan orang tersebut tidak bisa dibantu lagi oleh orang lain, mengingat pemakaman hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang terlatih dan siap secara fisik maupun mental.

Oleh sebab itu, sebelum memakamkan jenazah, Tim Posko perlu melihat informasi assesment mengenai ukuran liang kubur serta kesiapannya terlebih dahulu, baru kemudian bertolak ke rumah sakit untuk mengecek apakah pemulasaraan jenazah sudah selesai dan peti yang digunakan pun sesuai.

Tugas Kemanusiaan Penuh Risiko

Selama bertugas di Posko, Dikau mengaku mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga yang akan ia kenang seumur hidupnya. Misalnya, pengalaman dalam pengorganisasian relawan dalam tim yang terdiri dari banyak karakter, memanajemen emosi, dan pengalaman untuk mencari sumber daya manusia di situasi genting.

Di samping itu, tentu lebih banyak pengalaman yang berkaitan dengan tugas Tim Posko Dekontaminasi dan Pemakaman itu sendiri, yakni urusan pemakaman jenazah Covid-19, meliputi cara memperhitungkan liang kubur, berikut dalam mengelola waktu serta risiko yang kemungkinan dihadapi.

Pekerjaan di lapangan yang menguras tenaga dan pikiran berlangsung tanpa kenal waktu, bahkan menurut Dikau, bisa 24 jam penuh. Hal tersebut mengharuskan waktu istirahatnya berkurang, yaitu hanya dua sampai dengan tiga jam dalam sehari. Ia juga mengaku tidak pernah libur. Kalaupun ada waktu libur, ia selalu me-remote PC dan menyampaikan laporan melalui ponsel, juga memantau kondisi di lapangan dengan radio.

Tugas kemanusiaannya pun tidak luput dari cemoohan masyarakat, sebuah respons yang mengalir akibat kekhawatiran yang berlebihan pada masyarakat itu sendiri. Lama-lama, Dikau mengaku sudah terbiasa dengan cemoohan tersebut.

“Malah dulu itu ada pengalaman lucu. Waktu itu, kita selalu berkoordinasi dengan kepala salah satu instansi cukup besar di DIY. Dan ada salah satu tenaga kerja instansi yang anggota keluarganya meninggal karena Covid-19,” kenang Dikau.

“Saya merasa sedih dan sakit hati karena dicaci maki, padahal kami berusaha membantunya. Orang tersebut juga mengatasnamakan diri sebagai kepala instansi, padahal bukan siapa-siapa. Ketika Dikau saya berkoordinasi dengan kepala instansi, kemudian dilakukan penyelidikan langsung. Itu benar-benar pengalaman yang lucu,” lanjutnya kemudian.

Meskipun demikian, dari pengalaman yang didapatkan selama membersamai Tim Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Satgas Covid-19, Dikau merasa senang karena dapat memberikan bantuan dan pelayanan terbaik kepada orang lain. Ketika ada warga yang terkonfirmasi positif dan meninggal di rumah, Tim Posko bisa memberikan solusi. Pendek kata, jika ada masalah, tim dapat menyelesaikannya.

Dikau Mardika juga memberikan penilaiannya terhadap penanganan pandemi yang dilakukan di wilayah Kabupaten Sleman selama ini. Secara pribadi maupun mewakili Tim Posko Dekontaminasi dan Pemakaman Satgas Covid-19, menurutnya pengendalian Covid-19 di Kabupaten Sleman sudah sangat baik.

Dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain yang ada di DIY, bisa dikatakan lebih mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY, karena perjalanan dan kiprahnya yang prosedural dan rapi.

Meskipun begitu, ia menyatakan ketidaktahuannya tentang penanganan pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, sebab itu berkaitan dengan petugas kesehatan. Ia juga sedikit menyayangkan ketika mengamati pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Saya rasa, penutupan tempat kurang maksimal, dalam artian pedagang-pedagang kecil justru ditutup usahanya. Jam tujuh malam angkringan sudah ditutup. Padahal di kafe-kafe, yang pelanggannya banyak dan mereka nongkrong lama, justru hanya sedikit yang ditutup,” ungkap Sang Pengendali Posko.

Dikau berpendapat, seharusnya kafe-kafe yang masih buka lebih mendapatkan penegasan mengenai pembatasan. Dengan demikian, pembatasan dilakukan secara maksimal, tidak hanya diberlakukan bagi usaha terlihat di pinggir jalan.

Add Comment