Dusun Krapyak Kulon, Riwayatmu Dulu dan Kini

Kandang Menjangan, tempat menyimpan hasil buruan Ngarso Dalem pada jaman dahulu. JAMILLUDIN

Apabila kita memasuki Krapyak Kulon, sederetan warung, kios, dan toko tampak berjajar sepanjang jalan, dari sisi utara hingga sisi selatan. Ada toko, warung makan, angkringan, kedai kopi, warung jajanan, sampai kios fotokopi. Semuanya dipadati pelanggan. Kita juga akan menjumpai santri-santri yang berangkat atau pulang mengaji. Suara sandal yang diseret serta candaan santri terdengar mengalun di jalanan Krapyak Kulon.

Ketika kita sampai di perempatan kampung, terlihat bangunan kokoh setinggi sepuluh meter berwarna putih dan megah. Kampung ini berada di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Namanya ialah Pedukuhan Krapyak Kulon.

Asal-usul Krapyak Kulon

Pada 1760 di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, dibangun sebuah Panggung sebagai pos berburu sekaligus daerah pertahanan dari segala binatang buas. Menurut penuturan Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Projo Suwasono, seorang abdi dalem keraton, pada zaman Ngarso Dalem II atau III, pemerintah membangun hutan buatan, kemudian diberi beberapa binatang.

Ngarso Dalem kemudian membuat ‘panggungan’ sebagai tempat untuk menempatkan hewan-hewan hasil buruan di hutan. Projo Suwasono kemudian bercerita, jika Ngarso Dalem sering mengajak putra-putranya berekreasi di daerah ini.

“Pada zaman Ngarso Dalem II atau III, mereka membuat Panggungan yang sekarang menjadi Gedong Panggung. Prajurit kraton berlomba mencari hewan-hewan di hutan. Nah, cara mencari hewan tersebut dinamakan ngrapyak. Oleh karena itu, wilayah ini akhirnya bernama Krapyak,” kata Projo.

“Hewan-hewan itu kemudian ditaruh di ‘panggungan’. Rusa/menjangan berjumlah paling banyak di antara seluruh hewan. Sebagian masyarakat kemudian menyebut Panggung Krapyak sebagai Kandang Menjangan,” lanjutnya.

Ia menceritakan bahwa Ngarso Dalem selalu menyaksikan kegiatan menangkap hewan dari atas Panggungan. Hewan-hewan tersebut diletakan di bagian bawah panggung, baik hewan yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Djoko Sudibyo, salah seorang tokoh masyarakat, mengatakan bahwa Panggung Krapyak, selain digunakan untuk meletakkan hewan tangkapan, juga berfungsi sebagai Pangongakan, yaitu tempat untuk melihat musuh dari atas.

Terdapat benteng pertahanan di Krapyak bagian selatan, dekat lapangan Patmasuri dan Pondok Pesantren Al Munawwir Kompleks L. Petilasannya masih dapat dilihat sampai sekarang. Selain tanda peninggalan benteng, ditemukan petilasan kolam di Krapyak Wetan. Menurut cerita Djoko Sudibyo, putri-putri keraton dulu menggunakan kolam itu untuk berenang.

Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1946, Krapyak yang semula merupakan kelurahan digabung dengan kelurahan lain, yaitu Kelurahan Prancak dan Kelurahan Cabeyan. Ketiganya menjadi satu, yang kini bernama Kelurahan Panggungharjo. Sejak saat itu, beberapa dusun muncul, salah satunya Dusun Krapyak Kulon. Dengan berjalannya waktu, akhirnya muncul pedukuhan lain, seperti Krapyak Wetan, Glugo, Pelemsewu, Dongkelan, Kweni, dan lain-lainnya.

Setelah status Krapyak Kulon berubah menjadi pedukuhan, pengampu wilayahnya dinamakan dukuh. Sejak awal berdirinya pedukuhan ini hingga sekarang, terdapat tiga dukuh yang memimpin, mereka adalah Muh. Danun yang memimpin Dusun Krapyak Kulon sejak 1946 hingga 1950, Atmo Suparto yang memimpin Pedukuhan Krapyak Kulon menggantikan Muh. Danun sejak 1951 atau 1952 hingga akhir hayatnya pada 1987, dan Kunaini yang diangkat menjadi dukuh pada 1989 di usia 28 tahun.

Pada masa pemerintahan Kunaini, banyak penghargaan yang Krapyak Kulon terima. Ini berlangsung sejak 1995 hingga 2019. Beberapa di antaranya adalah juara 1 Hatinya PKK TK Kabupaten dan juara 2 TK Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1995, juara Kelompok BKB TK Nasional pada 2013, dan juara 1 BKR TK Kabupaten Bantul pada 2019.

Komunitas Kelompok Kesenian

Sejak dulu, kelompok kesenian di Krapyak Kulon adalah Macapatan Panggung Raras Budhaya pimpinan Bapak Mugi Hardjono di Krapyak Kulon RT 02. Ketika saya berkunjung ke padepokannya, terdengar suara karawitan dari tape recorder yang mengalun menemani Bapak Mugi. Ia terlihat bahagia mendengar musik itu.

“Permisi, Pak, kula sowan,” suara saya memecah kegiatan Pak Mugi yang sedang nglaras mendengarkan suara klenengan.

Monggo-monggo,” katanya mempersilakan saya dengan ramah.

Saya mengutarakan keinginan saya berkunjung ke kediaman sesepuh Krapyak Kulon tersebut. Istrinya menyiapkan minuman dan pacitan sebagai teman berbincang. Ada ubi rebus, bakwan jagung, dan emping yang membuat saya semakin betah berlama-lama mendengar cerita dari narasumber berusia delapan puluhan itu. Sebelum menjawab pertanyaan saya, Bapak Mugi Hardjono melantunkan tembang ‘Gambuh’ sebagai berikut:

Rumongso dururung sepuh

Seket pitu tambah telung puluh

Nggegeres kulitipun

Nyikat untu karo singsut

‘Gambuh’ itu merupakan anggitan Bapak Mugi sendiri. Isinya membicarakan keadaan orang lanjut usia. Ini tentang dirinya sendiri.

Kelompok Kesenian Macapatan Panggung Raras Budhaya berdiri pada 1996 dipimpin Mugi Hardjono. Selain itu, ia adalah Ketua Juru Kunci Makam Krapyak. Pada 2005, kelompok keseniannya mendapat penghargaan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka sering tampil di acara-acara yang digelar Pemerintah Desa Panggungharjo, seperti hari jadi Desa Panggungharjo, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), dan sebagainya.

Selain kesenian macapatan, kesenian yang lain, yaitu kesenian Sholawatan Jawi, lahir pada 2 Juni 2016. Namanya Cahyaning Qolbu dengan dua puluh anggota yang mengisinya. Pada 2017, kelompok kesenian ini mendapat izin dari Dinas. Cahyaning Qolbu kini kerap tampil di banyak acara, seperti acara hari jadi Desa Panggungharjo, Merti Desa, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, acara Syawalan, dan sebagainya.

Ada lagi kesenian Sholawatan Jawi lainnya, yaitu Kelompok Sholawat Jawi Kiat Shollu. Pimpinannya Ahmad Junaidi. Didirikan pada 19 September 2017 dan mendapat Nomor Register: 243/DIBUD/III/18. Grup kesenian ini mempunyai personel sebanyak empat belas orang.

Komunitas Kelompok Kerajinan

Kerajinan di Krapyak Kulon adalah kerajinan mebel. Ada beberapa pengrajin mebel yang bertahan hingga sekarang, mereka adalah Gito Sumarto, Wignyo Diharjo, Mulyo Suwito, dan Sunaryo Widodo. Saat ini, kelompok pengrajin mebel tersebut dilanjutkan oleh anak cucu masing-masing.

Kerajinan tersebut semakin maju dengan adanya Pondok Pesantren Krapyak karena pesanan bangku dan kursi senantiasa mengalir untuk menunjang kegiatan belajar. Selain itu, pesanan juga datang dari para pedagang yang berada di sepanjang jalan kampung dan juga masyarakat umum yang membutuhkannya.

Kini, selain kerajinan mebel, muncul kerajinan lain, yaitu kerajinan drum band yang dikelola Majid Mugiono, kerajinan logam yang menghasilkan sendok, wajan, dan mangkok timbangan, kerajinan kaligrafi yang dikelola Masbukhin dan telah mengadakan pameran di berbagai event, kerajinan tas furing dari RT 12, serta tas dari bahan kain perca yang berlokasi di RT 07. Kemudian, ada percetakan di Wilayah Krapyak Kulon, yaitu Percetakan EL’U dan Percetakan JASS.

Terdapat pabrik tekstil yang cukup besar di wilayah Krapyak Kulon bernama PT. Samitex dan sudah berdiri sejak 1973. Pabrik tekstil ini berfokus pada produksi kain, terutama kain tenun berwarna putih dan bahan batik. PT. Samitex memiliki 1.800 karyawan. Warga Krapyak Kulon banyak yang jadi karyawan di pabrik tersebut.

Krapyak Kulon Sebagai Kampung Santri

Terdapat dua pesantren besar di Krapyak Kulon, yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir dan Ponpes Ali Maksum. Pondok Pesantren Al Munawwir semula merupakan bangunan sederhana untuk tempat tinggal santri dan ruang belajar. Dalam perkembangannya, pondok ini dilengkapi masjid beserta sekolah dan madrasah. Pendirinya adalah Kyai M. Munawwir.

Al Munawwir berdiri pada 15 November 1911 dengan nama Pondok Krapyak karena terletak di Dusun Krapyak. Kemudian, pada 1976-an, nama pondok pesantren tersebut ditambah menjadi Al Munawwir. Hal itu bertujuan untuk mengenang pendirinya, yaitu KH M. Munawwir.

Hj. Ida Fatimah, istri salah satu pimpinan Ponpes Al Munawwir, mengatakan bahwa sebelum memimpin Pondok Pesantren, Kyai Munawwir mencari ilmu agama ke Mekkah Al-Mukarromah selama sekitar 21 tahun. Setelah selesai berguru, ia lalu mengajar mengaji.

Semula, ia mengajar ilmu agama di dekat Masjid Besar Kauman karena merupakan kerabat keraton. Beberapa tahun kemudian, Kyai Munawwir akhirnya pindah ke Dusun Krapyak Kulon untuk melanjutkan kegiatannya.

Pondok Pesantren Al Munawwir adalah salah satu lembaga pendidikan yang dalam khazanah ilmu pesantren dikenal dengan istilah salaf. Sampai saat ini, pondok pesantren masih bertahan dan terus berkembang. Pada perkembangan selanjutnya, Pondok Pesantren Al Munawwir tidak hanya mengkhususkan diri pada pendidikan Al-Qur’an, tetapi merambat ke bidang ilmu yang lain.

Pada 2004, Pondok Pesantren Al Munawwir bekerja sama dengan SMK Ma’arif 1 Kretek Bantul untuk membuka Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan Mekanik Otomotif dan Tata Busana .

Secara detail, periode kepengasuhan Pondok Pesantren Al Munawwir sejak 1910 hingga sekarang telah berganti sebanyak lima kali. Diawali dari periode KH. Muhammad Munawwir (1910-1942 M), periode KH. Abdullah Affandi Munawwir dan KH.R. Abdul Qodir Munawwir (1941–1968), periode KH. Ali Maksum (1968–1989 M), periode KH. Zainal Abidin Munawwir (1989–2014 M), dan periode KH. Muhammad Najib Abdul Qodir (2014–sekarang).

Kini kita beralih ke kisah Pondok Pesantren Ali Maksum. Pesantren ini merupakan pesantren modern yang memiliki madrasah aliyah dan tsanawiyah serupa di sekolah lain, tetapi tetap teguh mempertahankan ajaran-ajaran klasik khas pesantren. Konsentrasi kajian pesantrennya adalah ‘huffadzul quran’ atau hafalan Al-Qur’an dan Kitab Kuning. Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum adalah KH. Moenawwir dan KH. Atabik Ali.

Dua Pondok Pesantren tersebut memiliki santri yang cukup banyak, sekitar 2000-3000 santri. Oleh karena itu, sebagian masyarakat menyebut Krapyak Kulon sebagai Kampung Santri.

Demikian, sekilas keadaan Krapyak Kulon dulu dan sampai sekarang. Semoga di tahun-tahun mendatang, Krapyak Kulon akan menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Bantul sebab kampung ini memiliki situs peninggalan keraton. Kampung ini juga memiliki pondok pesantren yang cukup besar dan terkenal se-Indonesia. Santri datang dari berbagai penjuru Nusantara, dari Aceh hingga Papua.

Add Comment