Kampung Janganan

Kandang Menjangan menjadi asal-usul nama Kampung Janganan. LANTIP SETIASMARA SAPUTRA

Nama merupakan hal yang tidak asing di telinga kita. Sebuah julukan yang ditujukan untuk suatu benda, baik itu benda mati maupun benda hidup, fungsinya sebagai identitas. Nama adalah identitas, dan identitas pasti merujuk ke nama. Nama mengandung makna, nama mengandung arti, nama mengandung harapan, dan nama mengandung tujuan. Nama bisa membawa masa lalu ke masa depan, juga bisa membawa masa depan ke masa lalu.

Melalui sebuah nama, sejarah dan harapan dapat dibawa. Apakah arti sebuah nama? Apakah tujuan saling berdampingan dengan nama? Itulah yang akan kita cari tahu.

Alkisah, saya tinggal di Kampung Sorowajan. Tahun ini (2019), usia saya sudah di atas dua tahun. Seperti halnya pemuda di usia ini, saya tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Jogja.

Bermaksud mengisi liburan pergantian semester, serta berharap mendapatkan tambahan relasi dengan teman-teman di luar kampung, saya mengikuti saran seorang teman dan bergabung dalam kegiatan ‘Penulisan Sejarah Kampung’ yang diadakan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Pada kesempatan spesial ini, saya diberi amanah untuk mengulik, mencari tahu, menganalisis, dan membagikan cerita tentang Kampung Janganan.

Sedikit bernostalgia, ketika masih kecil, saya bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Budi Utami yang berada di perbatasan Kampung Sorowajan dan Janganan. Dulu, sekitar tahun 2004, TK Budi Utami tidak seluas sekarang. Hanya ada satu bangunan dengan dua ruangan untuk memisahkan anak-anak berdasarkan tingkat usianya.

Saat itu, guru pembimbing kami ada empat orang. Mereka adalah Ibu Jariyah, Ibu Isni, Ibu Zum, dan Ibu Yanti. Sebenarnya, mengingat zaman ketika saya masih TK dan SD akan sedikit menggelitik hati karena saya masih nakal dan sering menjahili teman satu kelas. Namun, saya tidak dapat menyalahkan masa lalu karena kepribadian saya hari ini terbentuk dari sana.

TK Budi Utami berada di perbatasan antarkampung sehingga banyak teman-teman saya yang berasal dari luar Sorowajan, terutama Janganan. Bisa dibilang, inilah awal mula saya mengenal Kampung Janganan.

Kampung Janganan adalah salah satu kampung yang masuk di wilayah Pedukuhan Glugo, Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Janganan berbatasan langsung dengan Kampung Sorowajan di sebelah timur, Kampung Glugo di sebelah selatan, Jalan Ringroad di sebelah barat, dan Pedukuhan Krapyak di sebelah utara. Secara geografis, Janganan, Sorowajan, Glugo, dan Tegal Krapyak masuk dalam kategori dataran rendah.

Janganan terdiri dari tiga RT, yaitu RT 3, RT 4 dan RT 5. Janganan termasuk kampung yang padat penduduk, terbukti dari hampir tidak adanya lahan persawahan di daerah ini. Keadaan tersebut memengaruhi ekonomi warganya. Minimnya ketersediaan lahan menyebabkan warga Janganan yang bermatapencaharian sebagai petani hanya sedikit. Oleh karena itu, sebagian masyarakat memilih bekerja di bidang industri, baik menjadi karyawan maupun pemilik perusahaan.

Saya bukan warga Kampung Janganan sehingga tidak bisa memberikan keterangan rinci mengenai kehidupan sosial warganya. Saya hanya menyampaikan opini yang dibangun berdasarkan pengalaman saya semasa kecil ketika sering menghabiskan waktu di sana.

Walaupun termasuk kampung yang padat, tetapi Janganan memiliki hawa yang sejuk saat siang hari. Beberapa lahan kosong ditanami pohon besar yang rimbun sehingga menjadi tempat yang sesuai untuk bermain kelereng atau kejar-kejaran. Keadaan Kampung Janganan sedikit sepi dibandingkan Kampung Sorowajan, terutama pada siang dan malam hari. Mungkin sebagian besar warga sedang sibuk bekerja, atau mungkin anak seumuran saya jumlahnya sedikit.

Nama Janganan bagi sebagian orang terdengar unik karena memiliki kemiripan dengan kata ‘jangan’. Kata ‘jangan’ memiliki makna ganda apabila ditelaah dalam kajian lintas bahasa. Pertama, kata ‘jangan’ sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti pelarangan untuk melakukan sesuatu. Kedua, kata ‘jangan’ dalam bahasa Jawa memiliki arti sayur untuk lauk.

Bagaimanapun, keduanya tidak tepat digunakan untuk memaknai nama Kampung Janganan. Nama Janganan tidak berasal dari filosofi kedua kata tersebut. Hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya monumen atau jejak sejarah yang berkaitan dengan kata ‘jangan’ (pelarangan) di sekitar kampung. Filosofi nama Janganan yang berasal dari kata ‘jangan’ (sayur) juga tidak dapat dibenarkan.

Dalam usaha mencari asal-usul nama Kampung Janganan, langkah awal yang dilakukan adalah mencari sebuah monumen atau situs bersejarah di sana. Monumen akan sangat penting karena menjadi bukti fisik sekaligus penyambung benang merah sebuah peristiwa sejarah. Untuk itu, saya berkunjung ke rumah salah satu ketua RT di Kampung Janganan, ia bernama Yuli.

Ia mengungkapkan bahwa di area Kampung Janganan tidak ada situs bersejarah yang berhubungan dengan asal-usul penamaan Janganan. Ia kemudian menyarankan saya untuk bertanya kepada sesepuh kampung yang dianggap lebih tahu. Saran tersebut mengantarkan saya pada kediaman Parjiman selaku ‘Mbah Kaum’ di Kampung Janganan. Pada kesempatan ini, ia menceritakan asal-usul penamaan Kampung Janganan yang berkaitan dengan sejarah Panggung Krapyak.

Panggung Krapyak atau yang sering disebut Kandang Menjangan adalah sebuah bangunan bersejarah yang telah berusia ratusan tahun. Bangunan ini mempunyai ciri khas dalam bentuknya, yakni berupa balok dengan dimensi panjang 17,6 meter, lebar 15 meter, dan tinggi 10 meter.

Jarak Panggung Krapyak yang jauh dari situs Keraton Yogyakarta membuat bangunan ini tampak mencolok. Menurut cerita Parjiman, Panggung Krapyak dulunya digunakan sebagai tempat raja berburu menjangan sekaligus tempat berlatih memanah untuk para prajurit.

Apabila kita tarik benang merah dari sejarah Panggung Krapyak, nama Kampung Janganan diambil dari kata ‘menjangan’ yang berarti rusa. Kampung Janganan berada di pinggir tembok yang mengelilingi Panggung Krapyak. Penamaan ini bertujuan untuk menguatkan kedudukan serta jejak sejarah Panggung Krapyak seperti penjelasan Parjiman.

“Pokoknya, sejarah Janganan seperti itu. Kenapa dinamakan Janganan? Karena menempel tembok Kandang Menjangan. Seperti Sorowajan, kenapa dinamakan Sorowajan? Mungkin karena ada kuburan Pangeran Soro,” tutur Parjiman.

Saat ini zaman teknologi berkembang dengan pesat. Perkembangan zaman telah memasuki fase full digital yang sangat berperan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, industri, dan pendidikan. Pengarsipan sejarah kampung yang saat ini hanya diabadikan melalui dongeng mulut ke mulut, merupakan langkah awal yang sangat baik dalam menanggapi perkembangan zaman.