Kampung Sayur di Tengah Kota

Pemandangan Kampung Sayur Loh Jinawi. ILHAM LUTHFI HABBI

Kota sebagai wajah peradaban dunia dan arena lokomotif modernisasi terus mengalami perubahan dan terkonstruksi berbagai konsepsi baru. Kota Yogyakarta sebagai salah satu potret kota tua di Indonesia turut mengalami perubahan, baik secara fisik, sosial, ekonomi, maupun kultural.

Perubahan-perubahan tersebut tampak pada program pembangunan pemerintah Kota Yogyakarta dengan mendayagunakan potensi daerah melalui kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi seperti dengan pengelolaan kampung-kampung kotanya.

Bumi kita tidak bertambah luas, tetapi jumlah penduduknya semakin banyak. Jumlah tersebut akan semakin bertambah dan terus bertambah seiring dengan angka pertumbuhan penduduk sebuah negara.

Mengacu pada data real time penduduk di dunia yang dilansir Worldometer, populasi manusia di dunia sampai hari Minggu (25/10/2020) sebesar 7,8 miliar. Negara dengan populasi terbanyak adalah Tiongkok (1,4 miliar), disusul India (1,36 miliar), Amerika Serikat (334 juta), dan Indonesia (268 juta).

Pernahkah kita berpikir, dari manakah sejumlah 7,8 miliar manusia di bumi memperoleh kecukupan pangan? Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang ada di bumi membutuhkan makan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhannya, kita butuh lahan untuk menanam atau memelihara sumber pangan.

Dengan terus bertambahnya populasi manusia, jumlah pangan yang dibutuhkan dan harus dihasilkan pun lebih banyak. Artinya, jumlah lahan yang dibutuhkan untuk menanam semakin banyak pula.

Kenyataan yang terjadi sekarang, jumlah lahan pertanian justru semakin menyempit setiap tahun, serta bergeser fungsinya menjadi lahan pemukiman, industri, dan jasa usaha. Jika dulu kita dengan mudah menemukan hamparan padi menghijau di sepanjang jalan, kini sudah banyak ditumbuhi bangunan berjajar.

Data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta terbaru menyebutkan bahwa luas sawah di Kota Yogyakarta saat ini hanya sekitar 52 Ha. Jumlah tersebut jauh sekali menurun dibandingkan pada tahun 2016, yaitu masih sebesar 101 Ha.

Dengan pertambahan jumlah manusia dan berkurangnya lahan pertanian, pernahkah kita berpikir bahwa pada tahun 2050 nanti bagaimana pangan kita tercukupi? Apakah beras, buah, dan sayuran masih banyak yang menjualnya? Apakah nasi kucing masih semurah sekarang?

Banyak ahli yang memprediksinya dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk seperti sekarang dan terus berkurangnya lahan menanam setiap tahun bahwa pada tahun 2050, jelas akan terjadi persaingan yang ketat mengenai penggunaan lahan. Manusia akan berpikir secara selektif untuk menggunakan lahan sebagai tempat tinggal atau sebagai lahan penghasil pangan.

Pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret lalu dapat semakin menyadarkan kita, sudah saatnya memikirkan kecukupan kebutuhan pangan lebih serius. Dalam hal ini, kita mengenal istilah ‘ketahanan pangan’ (food security) yang diartikan sebagai ketersediaan pangan dan kemampuan masyarakat di dalam wilayah itu untuk memperolehnya.

Ketahanan pangan suatu wilayah sangat bergantung pada bagaimana wilayah tersebut memperoleh ketersediaan pangan yang cukup. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pangan adalah dengan meningkatkan budidaya dan sistem pertanian, salah satunya dengan adanya sistem pertanian perkotaan atau membuat kampung sayur di tengah kota.

Di tengah Kota Yogyakarta, tepatnya di RT 20 RW 06 Kalurahan Tegalrejo, Kemantren Tegalrejo terdapat kampung sayur yang dibuat oleh Kelompok Tani Loh Jinawi. Kelompok ini berdiri pada tahun 2007.

Dahulu, lahan yang dijadikan kampung sayur tersebut merupakan tempat untuk menjemur pakaian dan tanahnya mengandung bebatuan. Jadi, perlu upaya yang keras untuk menjadikan lahan ini sebagai kampung sayur.

Namun siapa sangka, di tangan-tangan terampil warga kampung yang bernaung di bawah Kelompok Tani Loh Jinawi yang diketuai oleh Hadi Sulistyo Purnomo, dan di bawah bimbingan seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bertangan dingin dan terampil dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertangan) Kota Yogyakarta, Sagiyo, tanah ini disulap menjadi lahan produktif yang mampu meraup keuntungan melimpah.

Kampung sayur ini berfungsi untuk sarana edukasi bagi anak-anak dan masyarakat sekitar, juga untuk sarana wisata murah-meriah.

Untuk lahannya, kampung sayur ini memanfaatkan lahan kosong yang dimiliki warga setempat, tentunya dengan sudah mendapat izin dari pemilik lahan.

“Daripada lahannya nggak terpakai, mending dimanfaatkan,” kata Hadi Sulistyo Purnomo.

Langkah yang dilakukan warga untuk membuat kampung sayur sangat diapresiasi oleh pemerintahan setempat. Apresiasi itu diwujudkan dengan bantuan sebesar 50 juta dari dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

Eny Sulistyowati selaku Kepala Bidang Pertanian Dinpertangan menilai kegiatan pemanfaatan lahan ini positif dan luar biasa hasilnya. Kelompok tani dapat memiliki sumber protein nabati dan hewani dari hasil kebun sendiri yang memiliki nilai ekonomis, bermutu karena dibudidayakan secara organik, dan jaminan aman. Eni menambahkan, total panen kangkung sebanyak 38 kg dan terong 3,5 kg.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Oleg Yohan juga mengapresiasi Kampung Sayur Loh Jinawi. Komisi B yang merupakan mitra dari Dinpertangan mengedepankan ketahanan pangan di tingkat wilayah. Sebagai contoh, Loh Jinawi memanfaatkan lahan tidur. Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi secara langsung menjadi hal utama.

Legislatif mendorong kegiatan semacam ini selama bermanfaat. Diharapkan kegiatan dari hulu ke hilir dari membuat bibit, sampai pascapanen, bisa bekerja sama dengan kelompok lainnya sehingga membantu ketahanan pangan warga, apalagi di masa pandemi.

Masa pandemi Covid-19 tidak mengurungkan niat Kelompok Tani Loh Jinawi untuk tetap produktif. Apalagi dengan kondisi sekarang ini, kegiatan UMKM ikut terdampak. Dengan menanam aneka sayuran di lahan sepanjang pinggir rel kereta api, sekarang nampak apik dan asri berjejer wall planter sayur, kangkung, terong, cabe, tomat, bawang merah, dan kubis, dan aneka sayur lainnya. Dan semua berhasil tumbuh dengan maksimal.

Salah satu jenis tanaman yang ditanam di kampung sayur ini yaitu kangkung. Kangkung masa tanamnya cepat, hanya 25 hari sudah bisa dipanen. Itu yang menyebabkan kenapa warga lebih suka menanam kangkung daripada tanaman yang lain.

Untuk hasil panennya bisa dijual ke warga sekitar, tentunya dengan harga yang jauh lebih murah daripada di pasaran. Keuntungan dari menjual sayur tersebut dimasukkan ke dalam kas kelompok tani dan juga digunakan untuk membeli bibit.

Kampung Sayur Loh Jinawi tidak hanya digunakan untuk menanam sayur saja, tapi juga digunakan untuk beternak ikan. Jadi, yang dihasilkan kampung sayur ini tidak monoton sayur-sayuran saja.

Peduli di Masa Pandemi

Sebagai makhluk sosial, siapa pun di dunia ini tidak mungkin hidup tanpa orang lain dalam arti yang lebih luas.

Tidak hanya sekadar bisa memasak sendiri, berbelanja sendiri, tinggal di rumah sendiri, dan sebagainya, namun dalam hidup sendiri tersebut ada peran orang lain. Sebagai contoh, seseorang memerlukan orang yang dapat membuat baju untuk kita pakai.

Untuk memasak diperlukan bahan yang akan dimasak dan juga bahan bakar sebagai alat untuk memasak bahan makanan yang kita miliki. Supaya dapat berteduh dan tidur dengan nyenyak, untuk menyimpan barang-barang yang kita miliki diperlukan rumah yang tentunya tidak dibangun sendiri. Segala sesuatunya memerlukan uluran orang lain sehingga menjadi lebih mudah dan lebih ringan.

Siapa yang menyangka, Covid-19 yang melanda negeri China akhirnya sampai ke Indonesia dan ke seluruh dunia. Untuk membantu supaya tidak tertular dan menularkan penyakit tersebut, dilakukan banyak penutupan akses dalam rangka mengurangi lalu-lalang dan keluar masuknya warga sehingga penyebaran Covid-19 dapat dikurangi.

Bagi mereka yang dinyatakan positif Corona, diperlukan uluran orang lain untuk meringankan biaya atau untuk pengobatan dan lain-lain.

Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Tani Loh Jinawi. Di masa pandemi seperti ini, banyak membantu warga sekitar yang sedang isolasi mandiri di rumah karena terserang virus Covid-19.

Hasil panen sayuran berupa kangkung, terong, cabai, dan sebagainya, selain dimanfaatkan anggota untuk kebutuhan rumah tangganya, sebagian disisihkan untuk dijual, dan sebagian lagi dibagikan ke anggota masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri.