Kelompok Tani Dewasa Pelangi Mendungan Manfaatkan Lahan ‘Nganggur’ Menjadi Kampung Sayur

KDT Pelangi Mendungan menerima penyuluhan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Yogyakarta. HIPPI

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menjelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedia dan tercukupinya pangan, baik jumlah, mutu, aman, merata, maupun terjangkau.

Isu ketahanan pangan belakangan ini menjadi isu yang sangat strategis karena berkaitan dengan kecukupan gizi masyarakat.

Kebijakan pemerintah dalam pembangunan ketahanan pangan di Indonesia mengisyaratkan tiga hal yang harus terpenuhi yaitu jumlahnya cukup, mutunya baik, dan terjangkau.

Terpenuhinya pangan di setiap rumah tangga merupakan tujuan utama sekaligus sebagai sasaran dari ketahanan pangan di Indonesia.

Masalah ketahanan pangan nasional merupakan masalah yang harus ditangani secara bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, namun harus didukung dengan keikutsertaan secara aktif masyarakat yang dimulai dari lini terkecil pembentuk masyarakat yaitu keluarga.

Kampung sayur merupakan salah satu konsep pemanfaatan lahan kosong atau pekarangan, baik di pedesaan maupun di perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal.

Dalam masyarakat pedesaan, sudah melakukan pemanfaatan lahan kosong atau pekarangan dengan cara ditanami tanaman untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, kegiatan masih bersifat sambilan untuk mengisi waktu luang. Kegiatan ini apabila dikelola dengan baik akan memberikan nilai tambah berupa kecukupan gizi.

Pekarangan rumah atau lahan kosong merupakan sebidang tanah di sekitar lingkungan warga, baik itu berada di depan, di samping, maupun di belakang rumah. Pemanfaatan pekarangan rumah atau lahan kosong sangat penting, karena manfaat yang dapat diambil sangat banyak.

Pemanfaatan lahan kosong atau ‘nganggur’ yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain sebagai warung, apotek, lumbung hidup, kampung sayur, dan bank hidup. Disebut lumbung hidup karena sewaktu-waktu kebutuhan bahan pokok seperti bayam, umbi-umbian, dan sebagainya tersedia di lahan kosong sekitar.

Selain pekarangan atau lahan nganggur difungsikan untuk pemenuhan bahan pangan, memanfaatkan lahan nganggur untuk konservasi keanekaragaman hayati pertanian juga dapat mendukung agroekologi dan pertanian yang berkelanjutan.

Pemanfaatan lahan kosong di sekitar pemukiman yang paling cocok dilakukan adalah dengan ditanami tanaman sayur. Lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis tanaman, termasuk budidaya tanaman buah dan sayuran.

Iklim Indonesia yang tropis sangat cocok untuk pembudidayaan tanaman sayuran yang merupakan salah satu dari tanaman kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang baik bagi kesehatan.

Sayuran sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan semakin majunya pengetahuan dan pemahaman mengenai gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai asupan gizi.

Oleh karena itu, dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya sayuran dalam komposisi makanan, maka kebutuhan sayuran semakin meningkat.

Kegiatan dengan menanam berbagai jenis tanaman sayur akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beraneka ragam secara terus-menerus, guna memenuhi gizi keluarga.

Penanaman tanaman sayur sebagai upaya pemanfaatan lahan kosong dapat menjadi salah satu penyedia gizi sehat keluarga. Selain penyedia gizi sehat keluarga, usaha di lahan kosong atau nganggur di sekitar pemukiman jika dikelola secara intensif sesuai dengan potensi lahan tersebut, juga dapat memberikan pendapatan tambahan.

Di Kampung Mendungan yang terletak di Jalan Mendung Warih Nomor 154 Giwangan Umbulharjo Yogyakarta, terdapat kelompok tani yaitu Kelompok Tani Dewasa (KTD) Pelangi. Kelompok tani ini awalnya terdiri dari 11 anggota, kemudian banyak warga sekitar berminat untuk bergabung, terutama warga pensiunan untuk menghibur diri dan sebagai wadah untuk bersilaturahmi.

Kelompok yang diketuai oleh Budi Santoso ini, selain untuk merawat kampung sayur, kelompok ini juga sebagai wadah silaturahmi antar warga RW setempat. Hal ini yang menyebabkan anggota KTD Pelangi semakin bertambah.

Lahan kosong dan tidak terawat yang berada pada pemukiman warga dimanfaatkan untuk budidaya berbagai tanaman sayuran yang dapat memenuhi kebutuhan bahan makanan masyarakat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh warga Mendungan yang memanfaatkan lahan kosong untuk jadi bermanfaat. Dulu, ada lahan di sekitar kampung ini yang tidak terawat oleh pemiliknya, oleh karena itu warga kampung atau kelompok tani berusaha untuk memanfaatkan lahan kosong tersebut.

Setelah Budi Santoso bersama warga berkoordinasi dengan pemilik lahan, kemudian mendapatkan izin dari yang bersangkutan, selanjutnya warga melakukan berbagai macam percobaan untuk menanam tanaman terutama sayuran.

Untuk hasil panennya, Santoso dan kelompoknya sudah bisa merasakan hasil dari apa yang mereka tanam, misalnya kebutuhan dapur dapat mereka cukupi dari hasil tersebut. Tapi untuk sementara ini, hasilnya belum bisa dirasakan semua warga, hanya bisa dirasakan oleh KTD Pelangi.

Untuk lahan yang ditanami, ada lahan milik anggota kelompok tani sendiri dan ada juga yang milik warga setempat tetapi tidak tinggal di kampung tersebut, namun sudah mengizinkan lahannya untuk dikelola oleh kelompok tani.

“Dari pada lahan itu tidak terawat, mending dikelola agar bisa bermanfaat dan bisa mengenakkan pemandangan warga sekitar,” ujar Santoso.

Luas lahan yang digarap KTD Pelangi ada sekitar 1000 meter persegi. Lahan ini milik warga sekitar yang mengikhlaskan untuk dikelola oleh kelompok tani. Menurut warga pemilik lahan, lebih baik dikelola agar bisa bermanfaat untuk semuanya daripada tidak terawat sama sekali.

Situasi sekarang yang masih pandemi Covid-19, tidak menyurutkan aktivitas kelompok tani untuk berkegiatan. Kerja bakti di ladang masih tetap berjalan sekaligus berjemur diri untuk melawan virus Covid-19.

Untuk permasalahan yang dialami kelompok tani sampai saat ini adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mampu untuk mengelola lahan tersebut, karena belum terbiasa mengelola lahan.

Apalagi warga di Kampung Mendungan latar belakangnya tidak banyak yang asli petani. Harapannya ke depan, ada penyuluhan tentang pertanian yang bisa memberi bekal bertani untuk anggota kelompok tersebut.

Tidak hanya masalah SDM yang harus dihadapi, tetapi masalah tanah juga yang harus dihadapi. Tanah yang ditanami kelompok tani tersebut kurang subur, karena lahan sebelumnya jarang ditanami yang menyebabkan kurangnya kandungan hara di dalam tanah.

KTD Pelangi Mendungan memberi semangat positif terhadap warga sekitar, agar lahan kosong dan tidak terawat dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Dan dapat juga sebagai wadah silaturahmi antarwarga sekitar.

Dengan komitmen bersama, KTD Pelangi Mendungan dan visi keberdikarian yang kolaboratif dapat membuat kesejahteraan bersama demi terwujudnya ketahanan pangan dengan gizi yang baik di kampung tersebut.

Penyuluhan dan Bantuan Program Ketahanan Pangan

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mengadakan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program ini untuk penguatan ketahanan pangan pada masyarakat, sehingga masyarakat harus bisa memproduksi sendiri benih sayur, menanam sayur, menanam sumber karbohidrat, dan juga sumber protein.

“Dalam program ini, mulai dari benih, tanam, panen, dan pasca panen bisa berputar, sehingga sumber pangan dari pekarangan ini bisa lestari dan berkelanjutan. Program ini menggunakan sumber dana alokasi khusus non fisik (DAK NF). Di Kota Yogyakarta, ada tujuh kelompok tani (poktan) yang menerima bantuan. Salah satunya di Kelurahan Giwangan Umbulharjo, yang mendapatkan adalah Kelompok Tani Dewasa Pelangi,” kata M. Imam Nur Wahid, Kabid Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

Diharapkan, dengan adanya Pekarangan Pangan Lestari ini akan menjadikan lahan tani perkotaan (urban farming) di Kota Yogyakarta akan berfungsi sebagai sumber pangan terdekat bagi warga masyarakat. Mangan sing ditandur lan nandur sing dipangan. Ini merupakan konsep dari ketahanan pangan.

Di wilayah, hal semacam ini bisa menjadi dapur hidup yang setiap saat menyediakan sumber pangan, baik sumber karbohidrat (umbi-umbian, ubi), sayur-sayuran, protein (lele dalam ember dan ayam petelur), dan sebagainya. Inilah bentuk sederhana dari lumbung pangan, model local food estate yang bisa dikembangkan di daerah perkotaan dengan lahan pertanian yang semakin sempit.

“Kelompok kami ingin menjadi kelompok tani yang maju. Ada unsur edukatif, mempunyai daya rekreatif, dan menjadi agribisnis ke depannya, serta betul-betul merawat dan memelihara supaya bantuan itu lebih menyejahterakan petani, khususnya kelompok kami,” jelas Santoso.