Kelompok Tani Maju Makmur Penghasil Tanaman Organik

Salah satu anggota Kelompok Tani Maju Makmur memetik hasil panen. KEMANTREN KOTAGEDE

Indonesia merupakan negara agraris yang artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Sistem pertanian di Indonesia masih bersifat konvensional.

Dampak negatif dari penerapan sistem pertanian konvensional adalah dapat menyebabkan degradasi dan penurunan kesuburan tanah, mengurangi kelembaban tanah, merusak ekosistem yang berada di lingkungan sekitarnya, menyebabkan erosi. Hal tersebut menjadi masalah serius yang berdampak pada gangguan kesehatan para konsumen akibat penggunaan pestisida.

Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan untuk menangani dampak yang ditimbulkan dari penerapan sistem pertanian konvensional yaitu dengan mengubahnya menjadi sistem pertanian berkelanjutan. Praktik pertanian berkelanjutan mencakup penggunaan nutrisi organik dan biologis, rotasi tanaman, pengelolaan hama terpadu, dan peningkatan keberagaman biologis. Pertanian organik merupakan suatu bagian integral dari pertanian berkelanjutan dengan menggunakan bahan organik alami.

Pemerintah melakukan tahapan pengembangan dalam pertanian organik yang pertama di Indonesia yaitu dimulai pada tahun 2001-2010. Pemerintah mulai merintis pembangunan pertanian organik di Indonesia dengan menerbitkan Panduan Sistem Pertanian Organik dalam bentuk SNI 6729:2002.

Pada tahun 2010, Kementerian Pertanian RI mencanangkan program Go Organic. Program tersebut merupakan puncak dari serangkaian tahapan pembangunan pertanian organik yang pertama di Indonesia. Pada tahun 2010, luas lahan pertanian organik yang sudah tersertifikasi di Indonesia mencapai titik maksimal yaitu pada angka 103.908,09 Ha.

Namun terdapat penurunan luas lahan pertanian organik pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2014. Salah satu penyebab hal tersebut yaitu dikarenakan banyaknya para pelaku usaha tani yang tidak melanjutkan sertifikasi organik.

Tidak semua produk organik harus disertifikasi apabila ingin menjual produk tersebut, karena pengakuan mengenai produk organik dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, mengaku atau mengklaim sendiri. Dalam hal ini konsumen dapat mengakses langsung ke lahan organik petani untuk melihat proses bertani sehingga muncul kepercayaan (trust) dan keyakinan bahwa produk tersebut telah diproses secara organik. Namun, dalam proses jual beli hanya dapat dilakukan secara langsung.

Kedua, klaim melalui pedagang atau pengepul. Klaim tersebut dilakukan dengan menyatakan bahwa produk-produk yang dijual diperoleh dari pelaku organik di bawah bimbingan atau binaan para pedagang atau pengepul tersebut. Namun, dalam proses penjualannya produk tersebut hanya dapat dilakukan dengan cara langsung, agar para konsumen dapat melihat langsung mengenai bagaimana proses produk tersebut dapat dihasilkan agar tercipta kepercayaan.

Ketiga, adalah sertifikasi oleh pihak ketiga Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Ketika jarak para konsumen dan petani selaku produsen cukup jauh sehingga tidak dapat dilakukan pembelian secara langsung, maka perlu adanya pihak ketiga untuk dapat menjamin produk organik tersebut. Pihak ketiga dalam hal ini yaitu melalui sertifikasi LSO, sehingga para konsumen merasa yakin dan terwakili oleh LSO.

Sebanyak 268 produsen organik yang terdaftar pada data Aliansi Strategis Indonesia (2013), menunjukkan bahwa 81 produsen menggunakan kepercayaan konsumen sebagai jaminan kualitas produknya. Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO) membuat ketentuan mengenai sistem pertanian organik yang terdapat pada SNI 6729:2016, standarisasi tersebut dibuat untuk penjaminan produk organik.

Kelompok Tani Maju Makmur merupakan kelompok tani yang terdiri dari para wanita yang tinggal di RT 23 RW 5 Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok tani ini terbentuk berawal dari hobi menanam yang dilakukan oleh warga setempat.

Hobi dari para wanita yang merupakan ibu rumah tangga ini ternyata mendapatkan sambutan yang sangat positif dari pemerintah setempat. Pemerintah setempat dengan antusias memberikan bantuan kepada kelompok tani tersebut agar berkembang dan lebih maju lagi. Bantuan yang diberikan berupa pemberian media tanam, bibit tanaman, dan pelatihan mengenai dengan menanam.

“Kita awalnya dari kelompok tani ibu-ibu yang suka menanam dan didukung oleh pemerintah setempat, seperti kelurahan, kecamatan, Dinas Pertanian Kota maupun Provinsi. Kami mendapatkan bantuan berupa media, bibit tanaman, dan pelatihan. Awalnya seperti itu,” ungkap Reni Yuli Wijaya, salah satu anggota Kelompok Tani Maju Makmur.

Tidak mudah untuk mencari ibu rumah tangga yang memang suka menanam, apalagi mereka yang berdomisili di daerah perkotaan, karena di daerah perkotaan jarang sekali ditemukan kebun atau sawah untuk menanam.

Beda halnya dengan di daerah pedesaan, pasti lebih banyak kebun atau sawah dibandingkan di daerah perkotaan. Apalagi mata pencaharian warga pedesaan adalah bertani, jadi tidak mengherankan jika dari kecil mereka sudah suka menanam.

Tapi hal tersebut bisa membuat motivasi lebih untuk warga Kelurahan Prenggan yang notabene berada di wilayah perkotaan untuk membuktikan bahwasanya warga perkotaan tidak kalah dengan warga pedesaan.

Hal pertama yang menjadi motivasi ibu rumah tangga setempat untuk semangat menanam adalah kecintaan mereka terhadap tanaman, karena kalau sudah cinta apa pun pasti akan tetap dilakukan. Terlebih kalau sampai tanaman tersebut terserang hama, pasti yang mereka rasakan adalah kesedihan.

“Yang saya rasakan pertama kali adalah jatuh cinta dulu sama tanaman. Jadi di saat kita cinta, kita tiap hari ingin ketemu dan merawat. Setiap ada hama atau tanaman mati, rasanya itu sedih dan ingin mencari apa penyebabnya,” tambah Reni.

Kekompakan juga perlu ditanamkan kepada warga sekitar untuk memajukan Kelompok Tani Maju Makmur, atau dalam Bahasa Jawa disebut sengkuyung bareng, yaitu dikerjakan secara bersama-sama. Karena kekompakanlah salah satu instrumen penting dalam memamjukan organisasi.

Organisasi atau kelompok membutuhkan peran aktif semua anggota kelompok bukan hanya segelintir orang. Kalau ada kekurangan dalam kelompok tani bisa dipertanggungjawabkan secara bersama-sama, begitupun sebaliknya, jika ada kelebihan bisa merasakan bersama-sama.

“Selama ini, saya bersama teman-teman agar termotivasi biar tetap menanam adalah menjaga kekompakan dulu. Ayo kita kompak, kita nikmati bersama. Kalau ada kelebihan dan kekurangan, kita buat bersama. Jadi apa pun risikonya, kalau itu untuk kelompok, kita tanggung bersama,” ujar Reni.

Kelompok tani yang terdiri dari 35 anggota tersebut, sekarang mungkin sudah bertambah lagi, sudah bisa merasakan apa yang telah mereka perjuangkan selama ini.

Dari hasil yang mereka tanam di kebun, minimal kebutuhan dapur mereka dapat terpenuhi dari sini. Hasil panen dari kebun tidak hanya untuk kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga di jual kepada warga setempat. Hasil dari penjualan tersebut dapat dibuat untuk biaya penanaman di musim berikutnya.

“Kalau hasil panen kami jual, itu karena kami juga butuh biaya untuk pengelolaannya. Jadi kita jual kepada warga setempat,” terang Reni

Pemenuhan Gizi yang Sehat dengan Tanaman Organik

Masalah ketahanan pangan nasional merupakan masalah yang harus dihadapi bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah saja, namun harus disertai peran aktif masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya.

Pemenuhan kebutuhan pangan harus mengutamakan gizi dan nutrisi seimbang, sehingga menjamin kesehatan masyarakat. Hal tersebut dapat terwujud dengan dengan adanya pengelolaan kampung sayur berbasis tanaman organik.

Pengelolaan kampung sayur yang optimal dapat menjadi sumber pangan dan juga dapat menjadi penyedia gizi sehat bagi keluarga. Terutama pada saat harga sayur di pasaran melonjak tinggi, masyarakat tidak perlu khawatir karena sudah memiliki stok bahan pokok sayur di rumah.

Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang, kegiatan masyarakat serba dibatasi pemerintah agar penyebaran Covid-19 segera teratasi, sehingga menjadikan kegiatan masyarakat banyak dilakukan di rumah dan sulit pergi ke pasar untuk membeli sayuran.

“Sangat merasakan sekali. Di saat cabai, tomat, terong, sawi, dan kangkung mahal harganya, kami tidak bisa menjual sayuran itu ke pasar karena pandemi. Warga dan anggota justru bisa dengan mudah memetik sayuran di kebun secara langsung dan membelinya dengan harga murah,” jelas Reni.

Itu benar-benar alhamdulillah, gizi warga dan anggota bisa terpenuhi dengan harga yang murah. Dan kebun sayur kita mengusung tanaman antipestisida, pestisidanya nabati, jadi insyaallah tanaman organik,” tandasnya.

Di samping itu, adanya kampung sayur ini sebagai upaya pelestarian alam Indonesia dari semakin menyempitnya lahan hijau di Indonesia, khususnya pada wilayah perkotaan yang sudah terlalu banyak didirikan bangunan atau gedung tinggi yang menyebabkan berkurangnya lahan hijau.

Kelompok Tani Maju Makmur sudah berjalan sampai saat ini, harapannya kelompok tani ini dapat survive sampai beberapa generasi ke depannya dan dapat ikut merasakan manfaatnya.

“Harapannya, Maju Makmur tetap bertahan dan dapat diteruskan sampai ke anak cucu kita. Jadi di bumi kita itu oksigen nggak usah mbayar,” pungkas Reni.

Bahan Bacaan

Fauzia Imani. 2018. ‘Penerapan Sistem Pertanian Organik di Kelompok Tani Mekar Tani Jaya Desa Cibodas Kabupaten Bandung Barat’. Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, Volume 4(2).

 

Add Comment