Kweni dan Kesenian Ketoprak yang Pudar

Pentas Ketoprak Wayang Wong diacara HUT RI beberapa tahun lalu di Padukuhan Kweni.VIO NOPITA SARI

Pedukuhan Kweni adalah salah satu dari empat belas pedukuhan di Desa Panggungharjo yang terletak di kawasan pusat pemerintahan (kring tengah). Pada 1929, berdasarkan peta topografi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di Leiden University Libraries, Belanda, pedukuhan ini masih bernama Jarakan.

Menurut beberapa sumber, pemberian nama Kweni bukan karena di Kweni ada banyak buah kweni. Namun, seperti kita ketahui, sebagian besar nama-nama pedukuhan di Desa Panggungharjo memang diambil dari nama sayur dan buah-buahan.

Pada saat masih bernama Jarakan, daerah ini terbagi menjadi beberapa wilayah seperti Tegal Sari, Jagalan, Jarakan, dan Pabrik Bubrah. Setelah berganti nama menjadi Kweni pada sekitar tahun 1940-an, wilayah-wilayah tersebut dibagi menjadi blok, mulai dari blok 1 sampai dengan blok 6.

Beberapa di antaranya diganti lagi menjadi RW, yakni RW 33 menjadi RT 01, RW 34 menjadi RT 02, RW 35 menjadi RT 03, RW 36 menjadi RT 04 dan RT 05, RW 37 menjadi RT 06, dan RW 38 menjadi RT 07. Pada tahun 2015 ada penambahan RT baru, RT 08 yang merupakan pemecahan dari RT 02.

Sejak awal Pedukuhan Kweni berdiri, sempat dipimpin beberapa kepala dukuh. Sri Rewang tercatat menjadi kepala dukuh pertama pada tahun 1940-an. Setelah itu, digantikan oleh Atmo Dimejo. Sampai sekarang, terjadinya pergantian kepala dukuh kedua ini tidak diketahui tahunnya. Kemudian, pada 11 Maret 1976, Wahzani menduduki jabatan sebagai Kepala Dukuh Kweni.

Pada masa kepemimpinan Wahzani, terjadi banyak sekali perubahan di Pedukuhan Kweni. Aspek-aspek yang mengalami perubahan, yakni sosial-ekonomi, kebudayaan, keagamaan, dan lain-lain. Kondisi Kweni pada saat itu masih sepi dan warga jarang sekali berkegiatan di malam hari.

“Dulu saya kalau mau pergi malam-malam takut, masih sangat gelap karena belum ada lampu. Rumah-rumah itu penerangannya masih pakai sentir. Banyak pohon-pohon bambu jadi terasa semakin sepi,” kata Wahzani.

Saat itu, jumlah warga Kweni hanya kurang lebih sembilan ratus orang. Jarak satu rumah warga ke rumah warga yang lain tidak berdekatan seperti sekarang. Bangunan rumah sebagian besar masih menggunakan anyaman bambu dan alasnya masih tanah. Hanya beberapa yang sudah menggunakan semen.

Mata pencaharian warga Kweni ketika itu adalah sebagai petani dan buruh tani karena wilayah tersebut didominasi oleh sawah. Selain itu, Kweni di masa lalu ada banyak organisasi-organisasi sosial, seperti Organisasi Guyub untuk bapak-bapak, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk ibu-ibu, dan Muda-mudi Kweni untuk para remaja di wilayah Kweni.

Terdapat pula Organisasi Budi Dharmo yang bertugas mengadakan kegiatan tahlilan serta membantu pengadaan kain kafan untuk anggota dan masyarakat. Selain itu, ada kegiatan bernama Kredit Candak Kulak (KCK) yang berdiri pada tahun 1979 dan masih ada sampai sekarang. Wilayah Kweni juga memiliki kelompok ternak sapi bernama Sido Maju yang berdiri pada 21 September 1991. Dan, yang terakhir ada organisasi kelompok tani bernama Sido Maju 2.

Menurut keterangan Paryanto selaku mantan pengurus Muda-mudi Kweni, ia memaparkan bahwa dahulu Muda-mudi Kweni sangat maju. Anggotanya pun sangat banyak. Bahkan jumlah anggotanya hampir delapan puluh orang dari RW 33 hingga RW 38. Semua anggota terlibat aktif dalam berbagai macam kegiatan, baik kegiatan sosial maupun keagamaan.

Jika ada pertemuan, Muda-mudi Kweni berkumpul di Masjid An-Najwa sebelum berangkat bersama-sama menuju tempat diadakannya pertemuan. Masjid An-Najwa merupakan salah satu dari dua masjid yang mendapat wakaf bangunan dari Desa Panggungharjo. Masjid tersebut mulai dirintis pada tahun 1962 yang awalnya diberi nama Masjid Al-Yusro.

Kurang lebih 36 tahun menjabat sebagai kepala dukuh, jabatan Wazani berakhir pada 14 Februari 2012. Setelah itu, kepala dukuh berganti ke Burhannudin. Ia menduduki jabatan tersebut selama lima tahun dan berakhir pada Maret 2017. Saat ini, Kweni dipimpin oleh Aris Arianta sebagai kepala dukuh.

Eksistensi Kesenian Ketoprak

Hal yang paling menarik dari Kweni pada zaman dulu adalah kaitannya dengan kebudayaan. Ketoprak dan wayang wong merupakan kesenian yang terkenal dari Kweni. Selain itu, banyak pelaku seni seperti dalang, lakon, penari, sinden, dan juga penata rias di Kweni.

Melansir dari situs belajar.kemdikbud.go.id, ketoprak merupakan jenis pertunjukkan rakyat yang memiliki gabungan unsur-unsur tari, suara, musik, sastra, drama, dan lain-lain, tetapi secara keseluruhan unsur drama paling menonjol.

Menurut Wazani, dilihat dari aspek kebudayaan, masyarakat Kweni sangat lekat dengan kesenian. Terutama dengan ketoprak dan pertunjukkan ketoprak. Itu sudah menjadi agenda rutin yang diadakan warga sebagai sarana hiburan di Pedukuhan Kweni. Jika ada pemberitahuan akan diadakannya pementasan ketoprak, masyarakat Kweni sangat antusias dan berduyun-duyun untuk menyaksikan pementasan tersebut.

“Dulu banyak sekali pemain ketoprak dari Kweni, seperti Pak Brojo Permono, Pak Lukito Pangarso, Mbah Gunardi Hadi Prayitno, Pak Dwijo Surono, Pak Sri Rewang, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lain,” ungkap Wazani.

Tidak hanya sekadar pementasan di wilayah Kweni, tetapi ketoprak dari Kweni ini beberapa kali pernah diundang untuk tampil di berbagai dusun. Itulah yang menjadi alasan ketoprak dari Kweni sempat eksis pada masa itu.

Ada juga seni karawitan ibu-ibu PKK yakni Puspo Laras di bawah asuhan Sri Rewang. Kelompok kesenian ini dimulai tahun 1985. Wazani memaparkan bahwa kelompok seni tersebut pernah tampil di Keraton Ngayogyakarta sebanyak dua kali pada saat perayaan Sekaten.

Sumber lain mengatakan bahwa dulu di Kweni sempat ada juga kelompok ketoprak dari wilayah luar Yogyakarta yang sering menggelar pertunjukkan di wilayah Kweni. Orang-orang menyebutnya dengan ‘Ketoprak Tonilan’. Sama halnya dengan ketoprak biasa, tetapi ‘Ketoprak Tonilan’ ini sudah menggunakan tonil (tirai) untuk menyamarkan perpindahan peran atau tempat yang sedang dikisahkan dalam cerita ketoprak tersebut.

“Ketoprak tonilan digelar di pendopo di wilayah yang sekarang menjadi RT 05. Pertunjukan diadakan setiap malam minggu. Dulu, kalau mau menonton ‘ketoprak tonilan’ ini harus membeli tiket, tapi saya lupa berapa harga tiketnya pada waktu itu,” tutur Paryanto.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberlangsungan ketoprak di Kweni mulai surut. Banyak masyarakat yang sudah tidak tertarik lagi untuk menyaksikan pagelaran ketoprak. Sekitar tahun 1980-an akhir, beberapa warga sudah memiliki televisi sehingga warga lebih tertarik untuk menyaksikan hiburan yang ada di televisi daripada menonton pagelaran kesenian yang dapat ditonton secara langsung.

Kini, kesenian ketoprak di Kweni sudah tidak dapat dijumpai. Terlebih lagi, para pelaku seni di Kweni pada zaman dulu, mayoritas sudah meninggal dunia sehingga ketoprak di Kweni seperti kehilangan jejak sejarah dan tak lagi memiliki penerus.

Kendati demikian, di wilayah Kweni masih sering diselenggarakan pagelaran kesenian, meskipun bukan kesenian ketoprak lagi. Kesenian tersebut tergantikan dengan tari-tarian, wayangan, dan ragam kesenian yang lain. Setidaknya masih ada ruang untuk kesenian di Kweni. Pagelaran seni tidak hanya bertujuan sebagai sarana hiburan, melainkan juga sebagai wadah untuk saling bertegur sapa dan silaturahmi antar warga.