Lorong Sayur Kreasi Kelompok Wanita Tani Tu’ingkali

Warga berkumpul di lorong sayur. ILHAM LUTHFI HABIBI

Masa pandemi Covid-19 pastinya menimbulkan rasa cemas dan kehati-hatian untuk melakukan kegiatan sehari-hari di luar rumah. Ketersediaan pangan sangat menjadi sorotan perekonomian karena menjadi dampak dari Covid-19 ini.

Harga yang naik turun dibarengi dengan kecemasan individu dengan barang-barang atau produk-produk yang beredar di masyarakat menjadikan setiap individu harus berpikir ulang untuk tetap memenuhi ketersediaan pangan demi menjaga keluarga masing-masing.

Selain itu, dampak dari adanya pandemi ini mengakibatkan pendapatan masyarakat menjadi menurun, sehingga sering terjadi kesenjangan dalam pemenuhan ekonomi dalam memenuhi ketersediaan pangan.

Salah satu upaya untuk memenuhi ketersediaan pangan yaitu dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah atau lorongan rumah. Setiap rumah akan memiliki sebingkai tanah yang bisa dimanfaatkan untuk dilakukan penanaman, baik di depan rumah, samping rumah, baik belakang rumah.

Pemanfaatan lahan kosong atau ‘nganggur’ yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain sebagai warung, apotek, lumbung hidup, kampung sayur, dan bank hidup. Disebut lumbung hidup karena sewaktu-waktu kebutuhan bahan pokok seperti bayam, umbi-umbian, dan sebagainya tersedia di lahan kosong sekitar.

Selain pekarangan atau lahan nganggur difungsikan untuk pemenuhan bahan pangan, memanfaatkan lahan nganggur untuk konservasi keanekaragaman hayati pertanian juga dapat mendukung agroekologi dan pertanian yang berkelanjutan.

Pemanfaatan lahan kosong di sekitar pemukiman yang paling cocok dilakukan adalah dengan ditanami tanaman sayur. Lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk bud idaya berbagai jenis tanaman, termasuk budi daya tanaman buah dan sayuran.

Iklim Indonesia yang tropis sangat cocok untuk pembudidayaan tanaman sayuran yang merupakan salah satu dari tanaman kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang baik bagi kesehatan.

Sayuran sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan semakin majunya pengetahuan dan pemahaman mengenai gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai asupan gizi. Oleh karena itu, dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya sayuran dalam komposisi makanan, maka kebutuhan sayuran semakin meningkat.

Kegiatan dengan menanam berbagai jenis tanaman sayur akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beraneka ragam secara terus-menerus, guna memenuhi gizi keluarga.

Penanaman tanaman sayur sebagai upaya pemanfaatan lahan kosong dapat menjadi salah satu penyedia gizi sehat keluarga. Selain penyedia gizi sehat keluarga, usaha di lahan kosong atau nganggur di sekitar pemukiman jika dikelola secara intensif sesuai dengan potensi lahan tersebut, juga dapat memberikan pendapatan tambahan.

Organisasi kemasyarakatan dalam bidang pertanian merupakan hal penting yang perlu diwujudkan agar dapat memudahkan kerjasama antar petani. Kelompok Wanita Tani (KWT) Tu’ingkali merupakan salah satu organisasi tani yang beranggotakan ibu rumah tangga, beralamatkan di RT 38 RW 08 Kalurahan Pakuncen Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

KWT Tu’ingkali berdiri pada tahun 2017. Kelompok ini berdiri karena dilatarbelakangi oleh kegiatan di kampung tersebut, yaitu festival makanan dan pagelaran budaya. Acara itu dilaksanakan setiap hari Sabtu Pahing yang berlokasi di samping sungai. Acara tersebut apabila dipendekkan menjadi Tu’ingkali, dan sekarang Tu’ingkali menjadi nama dari kelompok wanita tani.

Kegiatan KWT meliputi budi daya pertanian skala rumah tangga, dari mulai penyemaian hingga pemanenan, pascapanen dan pengolahan hasil panen. Sistem budi daya yang masih belum maksimal mengakibatkan lahan KWT banyak yang terbengkalai dan penjualan produk olahan belum terpenuhi.

Jika budi daya dan pengolahan hasil panen kontinyu dan berkualitas, maka para anggota KWT dapat menjual komoditas hasil budidaya dan olahannya tersebut dengan sangat maksimal, dan menjadi sumber penghasilan bagi anggota KWT.

Adaptasi teknologi budidaya pertanian perlu dilakukan agar dapat meningkatkan hasil produksi tersebut. Lahan pekarangan yang terbatas masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya. Teknik lorong sayur merupakan salah satu yang dapat diterapkan pada lahan terbatas. Pemanfaatan teknik lorong sayur ini memungkinkan untuk berkebun dengan memanfaatkan tempat secara efisien.

Jenis tanaman yang dibudidayakan biasanya adalah tanaman sayuran dan buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, berumur pendek atau tanaman semusim khususnya sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, terong, tomat, dan gambas. Selain itu, tanaman sayuran yang memiliki sistem perakaran yang tidak terlalu luas.

Untuk budi daya sayuran yang dilakukan oleh KWT Tu’ingkali, sudah beberapa kali panen. Hasil dari panennya tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, tapi lebih dari itu, hasil dari panen dapat menambah penghasilan bagi anggota kelompok tersebut

Tempat budi daya tanaman memakai benda-benda yang mudah ditemui atau dibeli di pasar lokal. Bahan yang digunakan ialah kayu, bambu, pipa paralon, pot plastik, kantong plastik, dan gerabah. Bentuk instalasi dimodifikasi menurut kreativitas dan lahan yang tersedia. Cara menanamnya sangat bervariasi macamnya, terdapat model, bahan, dan ukuran yang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan keinginan petani. ada yang berbentuk persegi panjang, segitiga, atau dibentuk mirip anak tangga dengan beberapa tingkatan, atau sejumlah rak.

Syarat untuk menanam di lorong sayur yang harus dipenuhi adalah harus memiliki nilai estetika atau keindahan, sehingga selain dapat menghasilkan sayuran sehat dan bergizi untuk dikonsumsi, juga dapat memperindah lorong rumah.