Melukis Desa Masa Depan

Ilustrasi pedesaan. SISTEM INFORMASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Mungkin saja, kita tidak pernah berpikir bahwa menjadi masyarakat yang kuno, udik, dan tradisional di tengah masyarakat dunia yang serba modern, serba digital, serba otomatis, dan serba canggih adalah pilihan yang menjanjikan bagi masa depan.

Masa depan identik dengan berbagai bentuk penerapan teknologi canggih yang serba memudahkan orang untuk melakukan dan membuat sesuatu dari bangun tidur sampai akan tidur lagi.

Semua serba mudah, bahkan bisa dibilang tanpa harus melakukan aktivitas fisik pun sudah bisa mendapatkan sesuatu, karena di masa depan nanti, pintu, jendela, dan ranjang tempat kita tidur mampu membaca apa yang kita pikirkan. Begitu hebatnya bayangan masa depan meskipun kita yang hidup saat ini belum tentu bisa menjumpai suatu masa itu.

Di tengah modernitas dan kecanggihan tersebut, saya justru berangan-angan untuk hidup di desa tanpa menggunakan teknologi yang canggih. Listrik saya dapatkan dari mengolah sampah menjadi energi gerak, menggunakan kincir angin untuk menggerakkan dinamo yang bisa menghasilkan energi listrik. Intinya, semua potensi alam yang ada di desa akan saya gunakan sebagai sumber energi terbarukan.

Di desa di mana saya tinggal, yang berada di sekeliling kota-kota megah nan canggih, saya hidup dengan sebidang sawah di mana ada padi, umbi, kacang, sayur-mayur, buah-buahan, kambing, sapi, ayam, bebek, entok, dan kolam ikan. Mereka kawan sehari-hari untuk saya bercengkrama. Saya melepas bahagia sambil menikmati secangkir kopi atau teh di beranda rumah. Terkadang, sambil melihat liak-liuk ikan koi yang berwarna-warni.

Pohon-pohon saya tanam untuk melindungi diri dari teriknya matahari, yang di zaman nanti, katanya sinar matahari sungguh sangat panas hingga mencapai 39 derajat Celcius. Karena itulah, saya menanam banyak pohon yang juga bisa menghasilkan buah-buahan segar sekaligus menjadi sarang dan tempat burung-burung mencari makan.

Tak jauh dari rumah mungil dengan berbagai pepohonan rindang dan kolam ikan koi itu, setiap malam, setiap kali hendak merebahkan diri dalam selimut gelap malam, telinga ini masih mendengarkan gemericik suara pancuran dari bambu yang berasal dari mata air yang saya jaga demi bisa mendapatkan air minum segar. Di sekitar mata air ada bambu-bambu, pohon kepel, pohon nangka, pohon kelapa, dan beringin yang menjagai mata air agar kelak anak cucu saya bisa ikut menikmatinya.

Di desa inilah saya menunggu dan menanti setiap kawan dari kota yang merasa lelah dan jenuh hidup dalam kemudahan, kemewahan, dan semua hal yang serba otomatis. Saya akan membuka semua ruang dan semua area untuk bisa mereka nikmati agar mereka bisa merasa menjadi manusia kembali, karena di desa tidak ada oksigen dari alat modern atau pendingin ruangan. Di desa saya nanti, oksigen didapat dengan murah dari hembusan angin dan pepohonan hijau.

Beginilah bayangan desa saya di masa depan, entah saya bisa mewujudkannya atau akan disambung oleh para generasi penerus.