Menguak Rahasia Dusun Cabeyan

Kesenian Jolelo dari Dusun Cabeyan tampil di acara Gelar Budaya Desa Panggungharjo. JAMILLUDIN

Mendengar nama Cabeyan saja menggelitik rasa ingin tahu tentang asal-usul penamaan daerah tersebut. Awalnya terpikir oleh saya bahwa konon dusun tersebut adalah kebun atau penghasil cabe. Akan tetapi, ceritanya ternyata tak sesederhana itu. Dusun itu memiliki beragam kisah unik tentang asal-muasal nama tersebut.

Salah satu tokoh pemuda Cabeyan bernama Andi, mengklasifikasikan sejarah Cabeyan menjadi dua versi. Pertama, legenda Nyai Cabe yang tak bisa dipungkiri, terutama karena adanya makam Nyai Cabe di RT 01. Kedua, tanaman cabe yang banyak tumbuh di dusun ini.

Legenda Nyai Cabe

Paiman selaku seorang tokoh juga sejarawan di Dusun Cabeyan menceritakan perihal asal-usul Cabeyan. Dahulu, ada yang seorang perempuan sedang dalam pelarian dari sebuah kerajaan di bagian timur. Tepatnya tidak pasti, bisa saja dari Solo, atau daerah lain. Bahkan ada yang mengatakan kisah ini terjadi sebelum Kerajaan Mataram atau mungkin sekitar era Majapahit.

Seseorang yang sedang dalam pelarian itu merupakan putra pejabat, bukan seorang raja. Ia lari sebab di tempat asalnya dahulu terjadi peperangan. Ia ketakutan dan berpisah dari keluarganya. Ia terus pergi menjauh hingga sampai di tempat yang membuatnya merasa aman dari peperangan tersebut.

Tempat itu adalah sebuah hutan kecil, orang Jawa biasa menyebutnya alas. Setelah melakukan perjalanan yang jauh nan melelahkan, ia akhirnya memutuskan bermukim di tempat tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bercocok tanam. Tumbuhan yang menjadi favoritnya yaitu palawija.

Pada suatu hari, ia melihat tumbuhan asing di jalanan, ia tak pernah mengetahui atau melihat tanaman itu sebelumnya. Dalam hati ia mengira-ngira nama dan jenis tanaman itu. Buahnya mirip lombok, namun ujungnya tumpul, juga berbintik-bintik. Setelah kira-kira 1,5 tahun bermukim di alas itu, ia memutuskan memberi nama tanaman tersebut ‘cabe’.

Karena tindakan pemberian nama yang ia lakukan itu, kemudian ia dijuluki dengan sebutan Nyai Cabe. Daerah tersebut kemudian diberi nama cabeyan. Begitulah asal-usul disebut Dusun Cabeyan.

Nyai Cabe sendiri ialah seorang tokoh berpengaruh dan berhati mulia. Orang-orang memercayainya sebagai baureksa Cabeyan. Baureksa artinya penjaga. Banyak juga yang mengartikan bahwa makna ‘penjaga’ di sini ialah menjaga dari hal-hal gaib. Selain itu, Paiman juga membuat sebuah syair tembang Maskumambang yang berisi sejarah hidup Nyai Cabe.

Nyai Cabe apuranen aku iki

Mugiyo keparengo ngaturaken karyaning ati

Nyai Cabe wonten ing wekdal puniki

Rumekso cabeyan kanthi raos welas asih, dimen kalis sambekolo

Nyai Cabe ceritane duking wuni,

Nilar papan lenggah, ajrih geger kang dumadi

Kasurang surang lampahyo

 

Nyai Cabe ing wekdal puniki,

Prowargo Cabeyan tansah muja lan muji,

Diko tansah bejo mulyo

 

Jika diartikan, tembang Maskumambang tersebut berbunyi demikian.

Nyai Cabe, maafkan diriku ini

Semoga diperkenankan mempersembahkan karya dari hati

Agar semua tahu, Nyai Cabe di waktu sekarang

Menjaga Cabean dengan welas asih, agar selamat dari hambatan

Nyai Cabe, cerita pada masa lalu,

Meninggalkan tempat asal, khawatir terjadi geger, perjalanan yang susah

 

Nyai Cabe di waktu sekarang,

Keluarga Cabeyan selalu memuja dan memuji

Semoga selalu bahagia dan mulya.

Beragam Budaya Khas

Cabeyan dahulunya adalah sebuah kelurahan, sebelum bergabung bersama tiga kelurahan lain membentuk Desa Panggungharjo. Dukuh pertama di Cabeyan bernama Kartorejo, dukuh kedua bernama Purwo, dukuh ketiga bernama Yanto, dukuh keempat bernama Sunarno, dan dukuh kelima—yang sekarang masih menjabat, bernama Sri Hartuti.

Dalam sejarahnya, Cabeyan pernah dua kali menjadi tempat diletakkannya Kantor Kawedanan (Kecamatan) Sewon. Pada awalnya, Kecamatan Sewon terletak di dusun Sewon, kemudian pindah ke Cabeyan, lalu pindah ke dusun Dadapan, setelah itu kembali lagi ke Cabeyan, sebelum akhirnya pindah ke Kantor Kecamatan Sewon yang sekarang.

Dusun ini memiliki banyak sekali ciri khas, salah satunya adalah kesenian Jolelo. Jolelo adalah kesenian khas Cabeyan berupa pertunjukan mirip ketoprak, namun dengan iringan rebana dan selawatan. Biasanya, pertunjukan ini diadakan penduduk setempat saat sedang hajatan atau sekadar hiburan. Tidak ada waktu tertentu yang disyaratkan.

Kesenian lain yang berkembang di Cabeyan, yakni gamelan dan wayang. Salah satu sanggar di Cabeyan bernama Sanggar Gamelan yang dipimpin oleh Wibowo, termasuk sanggar yang istimewa sebab sudah pernah tampil di tingkat internasional.

Sementara itu, ada dua makanan yang menjadi makanan khas Cabeyan. Pertama, gudangan yang terkadang disebut nasi tumpang. Kebanyakan penjaja gudangan di Yogyakarta berasal dari Cabeyan. Kedua, ada pula cenil lopis yang banyak dibuat oleh orang Cabeyan.

Selain Jolelo, warga juga memiliki tradisi silaturahmi. Setiap tahun, kira-kira pada bulan Maret, warga Cabeyan mengadakan merti dusun yang disertai dengan ziarah ke makam Nyai Cabe dan makam-makam leluhur dusun yang lain. Kegiatan tersebut juga diikuti dengan tahlilan, mendoakan Nyai Cabe dan leluhur lain yang sudah meninggal.

Add Comment