Perihal Penyakit Tanaman dan Cara Diagnosisnya

Ilustrasi tanaman anggrek. HOUZZ

Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap sore sepulang dari kerja, saya selalu menengok tanaman-tanaman di sekeliling rumah. Ya, meski hanya tanaman di pot yang ditata mengelilingi rumah, cukup untuk menghibur hati dan memberikan kesegaran batiniah saya. Maklum saja, saya tinggal di perumahan yang tentu tidak punya halaman yang cukup luas untuk menyalurkan hobi bertanam saya.

Ada beberapa jenis tanaman yang memang saya suka merawatnya, seperti anggrek, bonsai, tabulampot, dan juga beberapa jenis tanaman hias. Karena cara tanam saya yang hanya di ‘tritisan’ tersebut maka saya menyebut kebun itu ‘Kebon Tritis’.

Saat lagi asyik-asyiknya menikmati dan merawat tanaman, tiba-tiba saya dengar suara dering notifikasi dari handphone. Ada sebuah pesan WhatsApp dari seorang teman yang saya tahu dia berdomisili dan bekerja di Ibu kota. Saya buka segera, siapa tahu ada pesan penting buat saya.

Pada pesan awal, tentu saja hal yang lumrah kalau dia memberikan salam dan menanyakan kabar kesehatan saya. Maklumlah, kondisi pandemi yang berkepanjangan juga semakin meningkatkan rasa empati kita kepada teman, handai taulan, dan keluarga. Barulah pada chat berikutnya dia langsung menukik, menanyakan beberapa hal kepada saya.

“Mas Inung, beberapa tanaman anggrek saya kenapa daunnya terdapat bercak-bercak hitam yang kemudian melebar, ya? Ada juga yang kemudian membusuk berair. Sayang banget, Mas, jadi banyak yang tidak tertolong karenanya. Itu anggrek saya kena penyakit apa, ya, Mas? Terus, bagaimana cara mengatasi dan mengobatinya?”

Tidak lupa, tentu saja dia melampirkan beberapa foto yang memberikan ilustrasi tentang tanaman anggreknya yang kondisinya mengenaskan.

Saya tersenyum membacanya dan kemudian memberikan balasan singkat kepadanya. “Mas, saya ini bukan seorang dukun yang bisa mendeteksi penyakit dari jauh hanya dengan melihat foto.”

Pun begitu ketika pada suatu saat di tempat kerja, saya sedang duduk-duduk sambil menikmati kopi pahit kesukaan saya. Seorang kawan perempuan menghampiri saya, menemani minum kopi dan akhirnya dia bercerita kepada saya, “Pak Inung, coba Bapak perhatikan ini.”

Sembari berkata demikian, dia menunjukkan layar handphone dan jari jemarinya lincah menggerakkan layar untuk mencari foto yang dia ingin tunjukkan kepada saya.

“Nah… ini, Pak! Coba perhatikan ini, Pak. Tanaman-tanaman pisang saya banyak yang mendadak layu dan mengering daunnya. Pada akhirnya, tanaman pisang ini kemudian mati. Kerugian yang diakibatkan cukup signifikan, Pak. Kenapa, ya, Pak, kok bisa begini? Saya sempat bongkar dan teliti, tidak saya temukan hewan atau hama yang memakannya, Pak. Bapak tahu kenapa dengan tanaman pisang saya ini?”

“Emmm… ya, ya. Lha, ini kebun pisang lokasinya ada di mana, Mbak?”

“Di Klaten, Pak. Di kampung saya.”

“Gandrik…!!”

“Kenapa pak emangnya ?”

“Woalah, Mbak…. Lha, saya ini kan bukan dukun yang bisa mendiagnosis penyakit hanya dengan mendengarkan cerita dan melihat foto-foto begitu.”

Ya, ya, ya. Wajar saja kalau jawaban saya itu membuat dia melongo dan sedikit mendongkol karenanya, meskipun kemudian saya jelaskan secara rinci mengapa saya menjawab seperti itu.

Banyak orang salah kaprah dan salah mengerti ketika berbicara dan berdiskusi tentang penyakit pada tanaman. Sebenarnya tidak hanya itu. Ketika kita berbicara tentang penyakit pada manusia, hewan, dan juga tanaman, maka seorang dokter umum, seorang dokter hewan, dan seorang fitopatologist tidak akan pernah bisa memberikan diagnosis secara tepat apabila tidak dapat melihat dan meneliti secara langsung pasiennya atau objek penderita sakit.

Biasanya, orang hanya akan membicarakan pada sisi gejalanya, fenomena yang terjadi, atau penampakan yang dia lihat saja. Masih beruntung seorang dokter umum bisa bertanya kepada pasiennya. Begitu pula seorang dokter hewan masih bisa mengamati, melihat, atau merasakan respons dari hewan yang sakit meskipun hanya terbatas. Lantas bagaimana dengan tanaman yang sakit? Nah, tanaman akan berdiam diri saja, kan?

Kembali kepada bahasan tentang penyakit. Sebenarnya, kita membutuhkan dua data atau informasi penting sebagai dasar diagnosis agar mendapatkan hasil yang diinginkan. Setidaknya, tidak terlalu melenceng jauh dari fakta penyakitnya. Dua hal tersebut yaitu gejala penyakit dan tanda penyakit. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, gejala penyakit.

Gejala penyakit adalah kondisi visual, penampakan, fenomena, dan semua hal yang terjadi pada tanaman yang langsung dapat ditemukan dan dilihat. Pada penyakit tanaman, gejala dapat berupa layu, busuk, kering, bercak-bercak hitam atau coklat, bulai atau perubahan warna bagian tanaman, keluarnya cairan dari tanaman (gum, blendok), pecah-pecah atau retak-retak, dan sebagainya.

Gejala penyakit ini secara umum belum bisa digunakan untuk dasar memutuskan bahwa tanaman tersebut terserang oleh penyakit ini atau itu. Banyak patogen penyebab penyakit yang menunjukkan gejala yang sama atau hampir sama pada tanaman.

Sebagaimana ilustrasi di atas misalnya, bercak hitam atau coklat pada daun anggrek, bisa disebabkan oleh beberapa jamur penyebab penyakit yang berbeda, di antaranya adalah jamur Cercospora sp atau bisa juga jamur Phillostycta sp. Namun, ada juga bakteri penyebab penyakit yang menunjukkan gejala bercak hitam pada daun anggrek, di antaranya adalah bakteri Erwinia sp.

Begitu pula pada tanaman pisang yang menunjukkan gejala layu dan menguning daunnya, bisa disebabkan oleh patogen jamur penyebab layu pisang yang disebut Layu Fusarium karena disebabkan oleh Fusarium sp. Di kasus yang lain, layunya tanaman pisang bisa disebabkan pula oleh patogen bakteri Pseudomonas sp. yang lazim disebut sebagai penyakit darah pada pisang.

Kedua, tanda penyakit

Tanda penyakit merupakan badan dari patogen penyebab penyakit, bagian atau potongan dari patogen penyebab penyakit, struktur tahan yang dibentuk oleh patogen penyebab penyakit untuk bertahan pada kondisi yang kurang sesuai bagi pertumbuhannya. Apabila kita bisa menemukan tanda penyakit ini, semakin jelaslah penyakit pada tanaman tersebut dan disebabkan oleh patogen apa.

Berbicara tentang patogen penyebab penyakit ini, secara umum ada beberapa mikroorganisme penyebab penyakit yang banyak ditemukan. Yang paling populer dan sangat banyak dijumpai adalah jamur, bakteri, mikoplasma, virus, dan nematoda.

Perlu saya ingatkan juga bahwa organisme pengganggu tanaman setidaknya ada tiga jenis yaitu hama tanaman (hewan), penyakit tanaman (mikroorganisme), dan gulma (tanaman lain yang mengganggu) agar lebih jelas dalam membedakannya. Nematoda, meskipun itu adalah cacing, tetapi karena cacing tersebut sangat lembut dan mikroskopik (hanya bisa dilihat dengan mikroskop) maka digolongkan dalam penyakit tanaman.

Tanda penyakit dari masing-masing penyebab penyakit tentu saja bisa berbeda-beda, sebagai contoh, tanda penyakit yang disebabkan oleh jamur bisa berupa miselium jamur, potongan miselium, badan buah jamur, spora jamur, dan struktur tahan lain yang dibentuk oleh jamur.

Tanda penyakit dari bakteri dapat berupa koloni bakteri yang biasanya berwujud lendir, yang sebenarnya adalah kumpulan massa bakteri. Tanda penyakit dari virus adalah badan virus tersebut. Tanda penyakit dari nematoda adalah cacing nematoda itu sendiri atau potongan tubuh nematoda.

Struktur tahan yang dibentuk oleh jamur ada beberapa macam. Yang sering bisa dilihat dengan mata langsung di antaranya adalah klamidospora yang dibentuk oleh jamur di antaranya dari jenis Ascomycetes dan Basidiomycetes yang berupa bola-bola putih kecil-kecil di sekitar tanah atau bagian tanaman yang sakit. Bisa juga berupa kumpulan miselium (benang) jamur yang mengeras sehingga terlihat seperti serabut akar yang saling melilit.

Dalam ilustrasi di atas, pada contoh penyakit layu tanaman pisang, apabila kita potong melintang tanaman pisang atau buah pisangnya dan ditemukan banyak titik-titik noda coklat hitam merah, maka itu adalah massa bakteri Pseudomonas sp. Dari sini baru kita bisa menyimpulkan bahwa pisang tersebut terserang penyakit darah bakteri.

Dalam kasus bercak coklat tanaman anggrek, apabila bercak tersebut cepat meluas dan basah berlendir, itu adalah busuk daun bakteri. Tetapi apabila bercaknya kering dan terlihat ada titik-titik putih di sekitar bercak hitam, maka itu adalah penyakit bercak jamur. Titik-titik putih sendiri adalah spora dari jamur penyebab penyakit.

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan sedikit penjelasan tentang apa itu penyakit tanaman dan bagaimana cara mendiagnosisnya. Sekali lagi, saya bukan dukun.

Add Comment