Relawan (Rela Dianggap Kawan)

Penulis melakukan kunjungan ke salah satu pasien Covid yang sedang isolasi mandiri. JAMILLUDIN

Mungkin di tulisan yang ini, saya ingin sedikit mengambil sisi lain dari teman-teman yang turut menulis pengalaman dan cerita ketika menjadi relawan Covid-19 di Shelter Tanggon Gabungan, Kapanewon Sewon. Terlihat seperti tidak menarik, tetapi menurut saya menarik untuk diceritakan dan pengalaman-pengalaman tersebut memang terjadi apa adanya.

Pun, agar tulisan ini tidak melulu menjadi konsumsi mereka yang berusia matang, tetapi juga dapat menarik minat remaja untuk membaca. Tentunya, kisah yang tercurahkan di tulisan ini diharapkan dapat menginspirasi mereka untuk terjun dalam dunia kerelawanan. He-he-he.

Namun, jangan langsung terdistraksi dengan judul yang saya cantumkan di atas, sebab hanya pemanis. Padahal yang paling manis adalah janji-janjinya untuk menemani di kala susah dan senang. Ha-ha-ha. Pada saat menulis ini pun saya sudah berjanji ke diri saya sendiri untuk tidak mengada-ada ataupun membumbui tulisan dengan cerita yang tidak benar, jadi saya menuliskan apa yang saya lihat, saya dengar, dan tentunya saya rasakan sendiri.

Ya, seperti biasanya anak muda, nggak jauh-jauh dari percintaan, kan? Seperti kisah yang saya rasakan dan beberapa oknum relawan yang lain. Ha-ha-ha. Nggak afdol jika di awal cerita ini, bukan cerita saya sendiri yang dibagikan.

Hm… sepertinya hampir semua relawan di shelter tahu soal ini. Sudah menjadi rahasia umum. Jadi begini, saya pernah menjalin kisah, duh kisah—beberapa bulan ke belakang kami berdua sempat tidak menjalin komunikasi yang baik karena adanya masalah yang pelik.

Akan tetapi, di shelter ini lah kami dibenturkan dengan keadaan yang mengharuskan untuk bercakap lagi dan menjalankan tugas layaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Abot, Lur. Ditambah kami berdua—saya dengan orang yang pernah saling mengisi hari-hari bersama, dipertemukan di satu divisi. Makin berat, kan. Belum lagi ketika kami memiliki jadwal yang sama. Belum pula, ada pasien yang harus dikunjungi sehingga mengharuskan kami benar-benar berdua di satu tempat, yakni ambulans.

Dan juga, tidak jarang melihatnya asyik sedang menghubungi kekasih barunya. Hmm. Remuk Lek. Namun, titik baliknya adalah yang semula sempat gengsi untuk saling menyapa dan saling berdiam diri dengan ego masing-masing, dalam keadaan ini kami akhirnya akur kembali, menjalin komunikasi yang baik kembali, bahkan mungkin kadarnya masih sama seperti dulu, walau kenyataannya dia sudah memiliki yang baru.

Ini baru cerita pertama. Cerita keduanya adalah ketika hampir semua manusia tuna asmara di Shelter Tanggon, ternyata memiliki satu wanita idaman yang sama. Ah… bisa dibayangkan, bukan? Bagaimana saling bersaing di belakang dan di depan harus bersikap profesional? Ha-ha-ha.

Tunggu dulu, itu bukan poinnya. Poin paling penting adalah ternyata tidak ada satu pun yang berhasil mendapatkan ‘si dia’. Akan menjadi cerita lucu nantinya jika keadaan ini selesai, dan pastinya menjadi bahan olok-olokan yang justru mengeratkan keakraban relawan shelter.

Nah, agar tulisan ini dan judul yang dicantumkan di atas terkesan ada hubungannya, di akhir tulisan ini, saya sebagai salah satu relawan yang bertugas, mungkin akan sangat berterima kasih dengan adanya Shelter Tanggon. Ya, saya bisa akur kembali dengan mantan—yang nggak bersemi kembali. Ya, sudah ikhlaskan saja kalau cuma diangggap kawan. Kan relawan itu rela dianggap kawan. Ha-ha-ha. Nggak, ding. Bercanda.

Pelajaran yang bisa diambil dari semua hal-hal baik ketika menjadi relawan di sini adalah ketika semua orang yang terlibat tidak lagi peduli dengan dendam di masa lalu, menyingkirkan ego masing-masing yang tentu sangat berat dilakukan, bisa berdamai dengan keadaan yang mengurung selama ini, dan tentunya kerelaan, keikhlasan, serta rendah hati harus benar-benar dipupuk di sini.

Hal itu karena tujuan kami di sini semua sama, berharap keadaan segera pulih, segera membaik seperti sedia kala, menjaga raga yang lain, dan segala cobaan yang sedang dihadapi bersama segera usai.

Tidak ada yang saling menjatuhkan, hanya ada keras kepala yang harus dilunakkan selunak-lunaknya, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi yang susah sekali dijalankan.

Pada akhirnya, menjadi bagian dari perjuangan yang sangat berharga, terutama untuk saya pribadi, tidak melulu soal capek, lelah, kurang tidur, dan lupa makan, tetapi lebih dari itu. Banyak hal-hal baik yang didapat lebih dari sekedar materi, misalnya pelajaran tentang pengalaman hidup yang belum tentu bisa didapat di luar sana.

Terima kasih banyak, Shelter Tanggon tersayang. Panjang umur hal-hal baik, jangan menyerah. Kalau kata Ndarboy Genk, “Semoga kau, kita, baik-baik saja.”

Add Comment