Strategi Pemulihan Ekonomi ala BUM Desa Panggung Lestari

Aplikasi Pasardesa.id. IG/PASARDESA.ID

Transformasi merupakan isu strategis yang menjadi program prioritas BUM Desa sejak tahun 2018. Akan tetapi, wacana transformasi pada waktu itu lebih didorong dalam rangka mempersiapkan BUM Desa dalam memasuki fase mature.

Pada tahun 2019, BUM Desa mengkonsolidasikan pendapatan dari pendapatan operasional keenam unit usahanya sebesar Rp6.332.124.900 (enam milyar tiga ratus tiga puluh dua juta seratus dua puluh empat ribu sembilan ratus rupiah). Yang berarti bahwa pada tahun 2019, Panggung Lestari berhasil naik kelas dari kategori perusahaan kecil menjadi perusahaan kelas menengah.

Berubahnya status perusahaan dari kecil ke menengah harus diikuti dengan perubahan kultur organisasi dan manajemen. Karena dimensi persoalan yang dihadapi oleh perusahaan kelas menengah tidak lagi berkutat dengan masalah-masalah primary seperti pasokan bahan baku, teknis operasional maupun pasar, tetapi lebih kepada aspek kelembagaan, aspek sumber daya manusia maupun permodalan.

Perubahan dimensi persoalan sebagai akibat dari perubahan level bisnis BUM Desa Panggung Lestari inilah yang mendorong dilakukannya transformasi pada tahun 2019.

Berbeda dengan transformasi yang dilakukan pada tahun sebelumnya, transformasi yang dilakukan pada masa transisi diarahkan guna memitigasi dampak pandemi terhadap usaha BUM Desa.

Pemerintah Desa meyakini, daya rusak yang ditimbulkan oleh pandemi mengancam keberlanjutan usaha BUM Desa. Meyakini bahwa Covid-19 mendekonstruksi semua tatanan tanpa teriakan revolusi. Tidak hanya memunculkan problem medis, tetapi juga mengubah tatanan politik, tatanan sosial, termasuk tatanan ekonomi. Karena itu, transformasi BUM Desa dilakukan untuk melihat ulang keseluruhan aspek bisnis guna mengubah model, proses, maupun strategi bisnis.

Berangkat dari perspektif tersebut, kebijakan Pemerintah Desa dalam penanganan pandemi sedapat mungkin dapat melingkupi keseluruhan aspek yang terdampak, baik aspek kesehatan masyarakat, aspek sosial, maupun aspek ekonomi, sehingga kebijakan itu harus sekaligus dapat menjadi pengungkit bagi keberlangsungan BUM Desa Panggung Lestari.

Kebijakan tersebut setidaknya dapat melahirkan suatu ekosistem transformasi yang secara tidak langsung dapat memperkuat ketangguhan BUM Desa untuk bertahan.

Kurang dari tiga minggu sejak kasus Covid-19 pertama di Indonesia diumumkan, Pemerintah Desa Panggungharjo telah mendirikan satuan gugus tugas dalam rangka penanganan pandemi dengan nama Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19). Gugus tugas ini memainkan peran sentral dalam pengelolaan krisis (crisis management centre) yang tidak hanya bergerak dalam rangka pengurangan dampak kesehatan, tetapi sekaligus untuk menangani dampak sosial maupun ekonomi, termasuk BUM Desa.

Tiga hari setelah gugus tugas didirikan, Pemerintah Desa meluncurkan aplikasi monitoring kesehatan harian berbasis web untuk melakukan pemetaan pola persebaran dan monitoring kesehatan harian warga. Selang empat hari kemudian, platform digital kedua diluncurkan di mana platform ini digunakan dalam pemetaan kondisi ekonomi warga.

Aplikasi pemetaan kondisi ekonomi warga ini merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kerentanan ekonomi warga yang disebabkan oleh adanya pandemi. Derajat kerentanan ditentukan berdasarkan tujuh aspek yang memengaruhi perilaku ekonomi keluarga, yaitu jenis pekerjaan, besaran dan jenis pendapatan, pola konsumsi, kepemilikan aset, kepemilikan dana cadangan, kepemilikan jaminan sosial, serta keberadaan kelompok rentan.

Pemetaan kondisi ekonomi rumah tangga ini juga menjadi basis utama penyusunan kebijakan selain untuk penanganan dampak ekonomi yang mungkin dihadapi oleh warga desa, sekaligus digunakan untuk memperkirakan besaran potensi keberdayaan sosial dapat dimobilisasi untuk membangun ketahanan kolektif.

Dari 9.608 KK di Panggungharjo, sebanyak 7.954 KK di antaranya melaporkan kondisi perekonomian mereka. Dari jumlah keluarga yang melaporkan tersebut, sebesar 32,27 persen berada dalam kategori sangat rentan, 44,10 persen termasuk dalam kategori rentan dan 14,47 persen diantaranya berkategori cukup rentan, dan hanya 9,15 persen yang tidak mengalami kerentanan ekonomi.

Dalam penanganannya, untuk warga yang teridentifikasi sangat rentan dan rentan difokuskan dalam rangka pencegahan kerawanan pangan melalui pembagian bahan pangan. Selain itu, menjalankan program padat karya tunai desa sebagai sumber penghasilan alternatif bagi sebagian warga desa yang sementara waktu kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Lalu, bagaimana dengan warga yang masuk dalam kategori cukup rentan dan tidak rentan yang sebenarnya masih memiliki cukup daya beli? Dalam rangka memanfaatkan cadangan ekonomi yang terdapat pada warga desa yang tidak rentan dan cukup rentan tersebut, Pemerintah Desa menginisiasi platform e-commerce berbasis web dengan nama pasardesa.id.

Pasardesa.id yang di-launching oleh Menteri Desa PDTT pada tanggal 14 April 2020, merupakan upaya Pemerintah Desa dalam rangka menjaga stabilisasi rantai pasok komoditas pokok. Langkah yang diambil, dengan mempertemukan daya beli dari sebagian warga desa yang relatif tidak terdampak dengan barang persediaan yang tertahan, baik yang berada di toko, warung, petani, maupun peternak yang berada di Desa Panggungharjo.

Dengan demikian, cadangan ekonomi yang tersimpan di sebagian warga desa yang tidak mengalami kerentanan tersebut, tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan, akan tetapi sekaligus dapat digunakan dalam memperkuat ketahanan ekonomi desa.

‘Berbagi Belanja’ menjadi tagline yang diharapkan dapat mewakili proposisi nilai dari pasardesa.id yaitu mitigatif, kolaborasi, solidaritas, dan ekonomi berbagi.

Sebagai bagian dari upaya untuk membangun ekosistem baru bagi BUM Desa, maka kegiatan mitigasi ekonomi, khususnya dalam kerangka stabilisasi rantai pasok melalui pasardesa.id tersebut dimandatkan kepada BUM Desa.

Pada akhirnya, pasardesa.id menjadi ruang pembelajaran bagi BUM Desa tentang bagaimana membangun bisnis social-commerce, di mana warga desa berperan tidak hanya sebagai produsen tetapi sekaligus menjadi konsumen dan merangkainya dalam satu ekosistem digital.

Selama menjalankan peran mitigasi, pasardesa.id mencatat perkembangan yang terus meningkat. Dalam 25 hari pertama operasi, pasardesa.id membukukan nilai transaksi lebih dari seratus juta rupiah yang berasal dari 2.480 transaksi. Terdapat 668 produk terjual yang berasal dari 57 mitra pasok yang berada di Desa Panggungharjo.

Dalam perjalanannya, pasardesa.id terus tumbuh dan berkembang, baik dari skala maupun model bisnisnya. Memulai sebagai upaya stabilisasi rantai pasok dalam skala satu desa, kemudian menjadi aplikasi pendukung program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) bagi lima desa yang berada lima kecamatan di Kabupaten Bantu.

Pada Februari 2021 kemarin, pasardesa.id bertransformasi menjadi Pasardesa App yang bisa diunduh melalui Playstore dan bergerak melintasi batas wilayah provinsi, sehingga saat ini pasardesa menjadi jembatan bagi pertukaran komoditas antar desa bagi 51 BUM Desa yang tersebar di wilayah Nusantara.

Seiring dengan pergerakan BUM Desa dalam mengelola pasardesa.id, Gugus Tugas Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19) mencoba mendesiminasikan gagasan untuk membaca desa, mengeja ulang Indonesia melalui Kongres Kebudayaan Desa sebagai respons atas terdekonstruksinya semua tatanan sebagai dampak atas pandemi.

Kongres Kebudayaan Desa yang digelar mulai 1 Juni sampai dengan 15 Agustus 2020 dengan kegiatan meliputi riset, call for paper, serial webinar, penerbitan buku, festival, dan deklarasi. Dalam penyelenggaraanya, kongres yang dilaksanakan secara daring maupun luring ini menempati salah satu bangunan di kompleks Kampoeng Mataraman.

Pilihan untuk menjadikan Kampoeng Mataraman sebagai sekretariat dan tempat penyelenggaraan kegiatan kongres adalah untuk mengalirkan darah segar bagi Kampoeng Mataraman setelah kurang lebih tiga bulan berhenti beroperasi.

Setidaknya, biaya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, sewa tempat, dan peralatan selama kegiatan kongres berlangsung dapat menjadi pendapatan yang bisa digunakan untuk menutup beban operasional Kampoeng Mataraman di awal-awal operasi.

Mendesain captive market dalam pemulihan usaha untuk menghasilkan pendapatan awal adalah pilihan strategi yang paling masuk akal di tengah kelesuan ekonomi.

Menghubungkan secara digital cadangan ekonomi dan daya beli masyarakat desa dengan barang persediaan yang tersedia di warga desa lainnya melalui pasardesa.id, mengoptimalkan belanja bantuan sosial berputar selama mungkin di desa dengan menyalurkan BLT DD secara nontunai dan kemudian mengintegrasikannya dengan pasardesa.id, menyelenggarakan kegiatan yang relevan dengan pandemi berupa kongres kebudayaan desa sebagai magnet baru bagi Kampoeng Mataraman, merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan permintaan oleh kita sendiri (self generating demand).

Sebab dalam kondisi resesi, pendapatan tidak bisa diharapkan perolehannya dari ceruk pasar di luar ekosistem. Inner circle-lah yang seharusnya menghidupi.

Berhentinya kegiatan operasional dari sebagian besar unit usaha tersebut yang bersamaan dengan masa transisi perubahan tahun buku, menjadikan Pemerintah Desa menemukan momentum untuk menata ulang keseluruhan bisnis BUM Desa. Dan meskipun di level manajemen keliatan gagap, tetapi kebijakan politik dari Pemerintah Desa untuk membalik arah strategi bisnis BUM Desa terbukti mampu menjadikan BUM Desa Panggung Lestari masih bertahan sampai dengan saat ini.