Brand bagi Masyarakat Desa

Parekraf mengadakan seminar 16 mitra co-branding. KEMANPAREKRAF

Masyarakat desa sebenarnya sudah biasa menggunakan satu bahkan beberapa langkah dalam membuat brand, hanya saja karena kekurangtahuan dan kurangnya kesadaran akan pentingnya sebuah branding, masyarakat malah abai terhadap brand-nya. Contoh sederhana, ada nama sebuah merek soto, yaitu ‘soto sawah’. Pemberian nama ‘sawah’ karena jualan sotonya di pinggir sawah.

Nama soto sawah awalnya dibuat dengan asal saja, hanya berdasarkan lokasi berjualan. Namun beberapa tahun kemudian soto ini dikenal banyak orang karena brand experience dari pembeli setelah menikmati produk atau suasana yang ditawarkan soto sawah itu.

Karena perkembangannya bagus, pemilik merasa harus membuka cabang. Akan tetapi, ternyata cabang yang dibuka tidak identik dengan warung aslinya, yang berlokasi di pinggir sawah. Di mana pembeli tidak menjumpai suasana asri kala menikmati soto.

Pemilik berpikir nama soto sawah lah yang membawa berkah, sedangkan lokasi penempatan cabang baru dikesampingkan dari lokasi pinggir sawah. Walhasil cabang baru tersebut tidaklah seramai soto aslinya yang berada di pinggir sawah. Meski sudah dipikir sedemikian rupa, baik rasa maupun pelayanannya semua sama, tetap saja soto sawah cabang baru tidak sesuai harapan, apalagi tempatnya masih harus sewa ditambah suasana berbeda dengan warung soto aslinya.

Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa brand strategy terkenal memiliki rasa cinta yang sama kepada para konsumen tidaklah mudah, diperlukan sebuah brand experience kecil dengan mengamati apa penyebab konsumen datang ke soto sawah cabang utama.

Ada sebuah proses-akhir dari sebuah branding yang tidak disadari oleh pemilik bisnis, yakni experience atau pengalaman. Konsumen ingin membuktikan bahwa saat mereka makan soto sawah, mereka benar-benar menikmati suasana sawahnya dan juga sotonya. Jadi soto adalah hal kedua yang ingin dinikmati sedang yang pertama kali ingin dinikmati adalah suasana sawahnya.

Bisnis kuliner itu autentik dengan rasa, namun rasa itu bukan hanya yang dikecap saja. Rasa dapat berupa apa yang dilihat, apa yang menyentuh kulit, apa yang tercium, bukan hanya apa yang dikecap. Di sinilah keunikan brand itu, yakni ia harus mampu menawarkan sebuah pengalaman yang berbeda, karena rasa yang dikecap mungkin sama dengan ditempat lain namun rasa yang tak terkecap jauh lebih penting dan mungkin tidak ada di tempat lain.

Begitu sangat penting brand untuk dipelajari namun masyarakat kita masih sedikit yang menyadari akan pentingnya sebuah brand. Bahkan brand yang terkenal, harganya lebih mahal dari aset fisik yang dimilikinya. Berapa kira-kira harga sebuah tempat di pinggir sawah bila dibandingkan dengan harga brand soto sawah?

Membuat sebuah brand itu tidak mudah dan tidak murah, dibutuhkan seorang ahli branding untuk melatihnya, serta dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mengenalkan sebuah brand kepada konsumen. Kasus soto sawah adalah brand alami yang sering dilakukan masyarakat, namun brand alami ini hanya sedikit yang menembus pasar di tengah gelombang pasar yang sangat kompetitif ini.

Alasan paling penting dari branding yakni membuat masyarakat menjadi sadar akan kehadiran brand itu baru pada produk dan jasa yang ditawarkan. Branding menjadi penting kala ingin melebarkan sayap bisnis kita ke tahap selanjutnya. Sementara untuk brand yang sudah mapan, branding dapat meningkatkan nilai bisnis dalam memengaruhi industri yang digelutinya.

Dengan memiliki tampilan profesional serta branding strategy yang jitu, akan membantu pemilik brand dalam menciptakan kepercayaan para pelanggan atau klien secara potensial. Masyarakat memiliki naluri dalam memilih apa yang mereka cari, di sinilah fungsi kita memahami branding.