Hidroponik, Strategi Pertanian Perkotaan

Natalie Tri dan Pengurus KWT Purwotani di kampung sayur hidroponik. ILHAM LUTHFI HABIBI

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian sebagai sumber penghasilan bagi beberapa masyarakat, karena sebagian besar kawasan Indonesia merupakan lahan pertanian. Para petani biasanya menggunakan tanah untuk media.

Dalam mengembangkan hasil pertaniannya. Hal tersebut sudah menjadi hal biasa dikalangan dunia pertanian. Melihat banyaknya lahan yang tidak dipakai oleh masyarakat untuk lahan pertanian, maka saat ini ada cara lain untuk memanfaatkan lahan sempit sebagai usaha untuk mengembangkan hasil pertanian, yaitu dengan cara bercocok tanam secara hidroponik.

Hidroponik adalah lahan budidaya pertanian tanpa menggunakan media tanah, sehingga hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai medium untuk menggantikan tanah. Sehingga sistem bercocok tanam secara hidroponik dapat memanfaatkan lahan yang sempit.

Pertanian dengan menggunakan sistem hidroponik memang tidak memerlukan lahan yang luas dalam pelaksanaannya, tetapi dalam bisnis pertanian hidroponik hanya layak dipertimbangkan mengingat dapat dilakukan di pekarangan rumah, atap rumah, maupun lahan lainnya.

Kebutuhan pangan bagi manusia seperti sayuran dan buah–buahan semakin meningkat dengan seiring perkembangan jumlah penduduk. Namun hal tersebut tidak dibarengi dengan pertumbuhan lahan pertanian yang justru semakin sempit.

Jangankan di kota-kota besar, di lingkup sentra pertanian alih fungsi lahan menjadi pemukiman sudah tidak dapat terelakkan lagi. Sehingga sistem hidroponik yang paling tepat untuk model usaha pertanian, sebagai salah satu solusi yang patut dipertimbangkan untuk mengatasi masalah pangan.

Cara bercocok tanam secara hidroponik sebenarnya sudah banyak dipakai oleh beberapa masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Banyak keuntungan dan manfaat yang dapat diperoleh dari sistem tersebut.

Sistem ini dapat menguntungkan dari kualitas dan kuantitas hasil pertaniannya, serta dapat memaksimalkan lahan pertanian yang ada karena tidak membutuhkan lahan yang banyak.

Pada tahun 2002, di sebuah Kalurahan Purwokinanti RT 47 RW 10, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, berdirilah Kelompok Tani Wanita yang bernama Purwotani. Kelompok tani ini beranggotakan 20 anggota tetapi yang aktif sekitar 15 orang. Pada awal berdirinya, kelompok tani ini sebenarnya adalah perkumpulan ibu-ibu yang suka berbudidaya tanaman hias, misalnya anggrek.

KWT Purwotani rata-rata anggota berusia lanjut tetapi semangat dalam penghijauan lahan pekarangan cukup tinggi. Selama ini penghijauan lahan pekarangan dilakukan di pekarangan rumah masing masing anggota dan juga beberapa lorong jalan di Kalurahan Purwokinanti.

Untuk kegiatan sehari-harinya, anggota kelompok tani bergantian untuk merawat kampung sayur ini, apalagi waktu pagi hari pasti ada anggota kelompok yang ke sini entah itu untuk siram-siram tanaman ataupun untuk bersih-bersih perkebunan.

Pada tahun 2021, kelompok wanita ini mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai hasil dari kegiatan pertanian lahan sempit yang didanai melalui Dana Keistimewaan. Dari bantuan itulah KWT ini tidak hanya bergerak pada budi daya tanaman hias, tetapi juga melakukan budi daya tanaman sayuran.

Budi daya tanaman sayur yang dilakukan menggunakan metode hidroponik. Metode ini dinilai sangat cocok untuk pertanian lahan sempit. Untuk KWT Purwotani sendiri memiliki 15 unit instalasi hidroponik yang terbagi di tiga tempat di antaranya berada di lokasi Kompleks Pura Belakang 11 unit, Kompleks Pakualaman dua unit dan Kompleks Kalurahan Purwokinanti dua unit.

Setelah dipasang dan dibudidayakan instalasi hidroponik ini sudah bisa panen selada dengan berat 30 kg, kangkung seberat 40 kg, caisim sebanyak 20 kg, serta pakcoy sebanyak 8 kg. Untuk hasil panennya sebagian dipasarkan kepada anggota dan kepada warga, kemudian sebagian lagi diolah untuk dibagikan kepada warga yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Budi daya hidroponik merupakan salah satu terobosan bagi masyarakat untuk bercocok tanam mengingat ketersediaan lahan yang terbatas dan salah satu cara menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19.

Selain itu juga, budi daya hidroponik ini sebagai salah satu upaya penghijauan dengan memanfaatkan lahan sempit yang ada dan bisa menjadi percontohan bagi masyarakat di kemantren yang lain. Kedepannya program budi daya hidroponik ini dapat dilakukan di titik-titik lain, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat di tengah krisis ekonomi masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Dalam budi daya hidroponik ini bukan tanpa kendala, ada beberapa kendala yang dihadapi salah satunya yaitu mahalnya nutrisi tanaman dan masih terbatasnya pengetahuan mengenai budi daya hidroponik. Untuk itu peran dari pemerintah dibutuhkan biar dapat terus memberi pendampingan agar tanaman hidroponik yang dibudidaya dapat memberikan hasil maksimal.

KWT Purwotani selain berbudidaya tanaman, kelompok ini juga mempunyai Koperasi Simpan Pinjam yang bertujuan untuk menyejahterakan anggota kelompok tani itu sendiri.

Natalie Tri selaku Ketua KWT Purwotani ke depannya berharap kampung sayur ini bisa lebih maju lagi dan dapat lebih bermanfaat untuk anggota, khususnya dan pada masyarakat Purwakinanti pada umumnya.