Implementasi Kepemimpinan Transformasional Lurah Panggungharjo

Jangan Tinggalkan Desa, Buku Karya Wahyudi Anggoro Hadi.

“Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya.” Peter F. Drucker

Membahas tentang pemimpin barangkali bukan hal baru, bahasan tersebut sudah banyak dikemukakan oleh praktisi dan akademisi bahkan politisi. Tetapi, hal berbeda bisa kita cermati dari Kepala Desa atau Lurah Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul—namanya Wahyudi Anggoro Hadi. Ia lulusan dari kampus ternama di Jogja dengan nilai di bawah rata-rata, bahkan hampir Drop Out (DO).

Dalam upaya menunjukkan kualitas dirinya, ia memberikan kebijakan dan program yang visioner. Reformasi birokrasi menjadi langkah awal dalam memimpin perubahan layanan untuk masyarakat desa. Menurut Wahyudi, kantor kalurahan jangan sampai hanya mengurusi tanda tangan atau stempel, namun pemerintah desa harus merepresentasi hadirnya negara.

Wahyudi menegaskan dalam kutipan wawancara di kanal Youtube Put Cast. Ketika berbicara membahas reformasi birokrasi, hal yang paling substantif adalah mengubah pola relasi antara warga desa dengan pemerintah desa. Oleh karena itu, di awal periode kepemimpinannya telah banyak upaya dalam merubah tatanan pelayanan bagi masyarakatnya. Bahkan tidak jarang Sang Lurah ini harus turun tangan, mulai dari hal terkecil seperti membuka pintu kantor sampai menutup pintu kantor.

Bagi Wahyudi, membawa perubahan itu tidak bisa dengan sekejap mata. Usaha yang tidak sekadar membalikkan telapak tangan telah dilakukan, pada akhirnya itu menjadi passion bagi seorang pemimpin untuk menyiapkan secara matang arah kepemimpinannya. Artinya adalah pemimpin tidak hanya berorientasi pada ‘jabatan’, tetapi semaksimal mungkin dapat membawa perubahan secara profesional dan berkualitas. Hal tersebut merupakan implementasi dari gaya kepemimpinan transformasional.

Seorang peneliti bernama Bernard M. Bass, pada tahun 1985 merumuskan empat elemen utama yang harus dimiliki sosok dengan gaya kepemimpinan transformasional. Elemen-elemen tersebut adalah stimulasi intelektual (intellectual stimulation).

Kondisi lembaga atau institusi yang stagnan adalah musuh nomor satu bagi pemimpin transformasional. Pemimpin dengan gaya transformasional akan selalu berusaha mengubah pemikiran, teknik, dan target usang yang selama ini masih dipertahankan.

Wahyudi di periode pertama telah menerapkan cara-cara untuk memulai perubahan dalam kepemimpinannya, dan waktu yang dibutuhkan cukup lama. Pada periode kedua kepemimpinannya, banyak perubahan yang dirasakan oleh masyarakat, seperti layanan birokrasi desa yang sudah semakin profesional dan cepat.

Tujuan dari reformasi birokrasi tersebut, yakni untuk mendapatkan hasil yang lebih berfaedah dan demi kebaikan bersama yang lebih besar. Untuk mencapainya, pemimpin selalu membuka peluang baru bagi setiap anggotanya untuk belajar. Sikap proaktif diperlukan guna menggerakkan setiap anggota agar dapat mengeksplor cara-cara baru dalam melakukan sesuatu dan berinovasi menghasilkan solusi.

Elemen selanjutnya adalah konsiderasi individual (individualized consideration). Seorang leader dengan gaya kepemimpinan transformasional mampu memahami perbedaan individual para bawahannya. Pasalnya, setiap manusia adalah individu yang unik. Salah satu cara untuk bisa memahami setiap orang adalah dengan mendengarkan. Pemimpin yang baik bisa menjaga jalur komunikasi tetap terbuka sehingga anggotanya merasa bebas untuk berbagi ide, saran, dan kritik.

Selain itu, melalui komunikasi dua arah, pemimpin dapat secara langsung memberikan dukungan atau apresiasi terhadap prestasi dan pertumbuhan anggotanya. Mereka juga bisa secara langsung memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan masing-masing individu.

Elemen ketiga yakni Motivasi inspirasional (inspirational motivation). Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas dan dapat dikomunikasikan kepada setiap bawahannya. Ketika setiap orang di kantor memiliki pandangan yang seragam, akan lebih mudah bagi mereka bekerja sama mewujudkannya menjadi nyata.

Dalam prosesnya, sosok dengan gaya kepemimpinan transformasional cenderung berperan sebagai mentor atau coach untuk mendampingi. Mereka tidak hanya memberikan tantangan sembari membimbing bawahannya untuk mengasah potensi diri. Namun, juga senantiasa membangkitkan optimisme, antusiasme, dan motivasi dalam diri setiap anggota.

Elemen keempat atau yang terakhir, yakni idealisasi pengaruh (idealized influence). Seorang pemimpin transformasional berfokus membangun budaya perusahaan yang setiap orang di dalamnya mau bekerja gotong royong untuk kebaikan bersama.

Sisi lainnya, ia tahu bahwa pemimpin adalah sosok panutan. Maka, pemimpin harus mencontohkan standar moral yang sama dalam organisasi agar setiap orang di dalamnya berpandangan selaras. Melalui upaya coaching dan mentoring, bawahan dapat meniru perilaku dan etos kerja serta menyerap nilai-nilai serta prinsip yang dimiliki pemimpin melalui berbagai kesempatan pengembangan diri.

Berdasarkan hal tersebut, pemimpin akan menularkan passion-nya kepada seluruh bawahan. Setiap orang di kantor pun dapat berempati dengan visi pemimpin. Timbal baliknya, pemimpin bisa meraih kepercayaan, rasa hormat, dan kagum dari setiap anggota.

Bahan Bacaan :

Bass, B. M., & Riggio, R. E. 2006. Transformational leadership

Dr. Sri Rahmi, Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya Organisasi, Mitra Wacana Media : 2014.

Add Comment