Kampung Markisa sebagai Kebangkitan Ekonomi Blunyahrejo

Kampung Markisa Blunyahrejo. KAGAMA

Pandemi Covid-19 hampir melumpuhkan semua sendi kehidupan, dilakukannya peraturan pemerintah mengenai pembatasan sosial dan dilarang melakukan kegiatan di luar rumah membuat warga masyarakat banyak kehilangan lapangan pekerjaan. Hal ini membuat resah karena masyarakat disuruh di rumah saja tanpa adanya pemasukan, tetapi pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari tetap berjalan. Meskipun pemerintah banyak memberi bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19, itu rasanya tidak cukup untuk mem-back up kebutuhan sehari-hari.

Inovasi-inovasi harus dilakukan di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai ini, karena semua orang tidak bisa terus-terusan berdiam diri di dalam rumah tanpa adanya aktivitas yang produktif. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Blunyahrejo RT 10 RW 4, Kalurahan Karangwaru, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta yang menjadikan pandemi Covid-19 ini sebagai momentum untuk bagaimana agar masyarakat punya ruang gerak untuk meningkatkan pendapatan.

Dengan semangat gotong royong sebagai wujud kepedulian, kebersamaan dan kerukunan warga Blunyahrejo berinovasi membuat Kampung Markisa, Kampung Markisa di sini bukan berarti di Kampung Blunyahrejo melakukan budi daya tanaman markisa saja, melainkan juga melakukan budi daya tanaman lainnya seperti sawi, tomat, kangkung, dan beberapa sayuran lainnya, tapi pemberian nama Markisa ini bukan tanpa sebab tapi nama Markisa ini dihimpun dari tiga slogan yaitu Mari Kita Bersatu, Mari Kita Bersama, dan Mari Kita Bisa.

Kampung Markisa dibentuk melalui serangkaian diskusi oleh berbagai elemen masyarakat Kampung Blunyahrejo dan didukung oleh relawan kemanusiaan di Kalurahan Karangwaru. Kampung Markisa merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat untuk membuka peluang usaha, sehingga mampu berperan meningkatkan taraf hidup warga Blunyahrejo.

Kampung Markisa dibangun di atas lahan seluas 4.375 m². Tanah ini milik tiga orang warga yang sudah mengizinkan untuk dibangun kampung Markisa. Dulunya, sebelum dibangun Kampung Markisa, lahan ini seperti hutan belantara, banyak tumbuhan liar kemudian menjadi tempat pembuangan sampah ditambah banyaknya binatang-binatang buas seperti ular dan sebagainya.

Masyarakat Blunyahrejo kemudian mengubah lahan tersebut untuk dijadikan area atau lahan kegiatan masyarakat yang tujuannya agar masyarakat punya satu kegiatan yang positif dan konstruktif, kemudian punya nilai ekonomi tambahan, karena pada masa pandemi Covid-19 ini memang di lingkungan Blunyahrejo banyak masyarakat yang tidak bekerja akibat dampak pandemi Covid-19. Hal itu yang menjadikan warga kesulitan mencari pemasukan, kemudian apa yang diinisiasi masyarakat Blunyahrejo dalam hal ini tim markisa, yang awalnya hanya berawal dari diskusi kemudian menginisiasi mengubah lahan menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan bisa menjadi pemasukan dari segi ekonomi.

Selain menghadapi dampak Covid-19 dalam segi ekonomi, di sisi lain masyarakat Blunyahrejo juga ingin menghilangkan stigma atau stempel buruk kepada wilayahnya yang terkenal dengan warga kurang mampu karena banyaknya masyarakat yang memegang kartu prasejahtera. Di samping itu, mendapat stigma negatif tentang kenakalan remaja misalnya memakai narkoba dan tingkat pendidikan yang rendah. Oleh karenanya masyarakat di sini menginisiasi bagaimana merubah masyarakat yang berstigma negatif tadi untuk bisa berkegiatan atau menciptakan lapangan kerja kemudian mencari penghasilan dari adanya kampung Markisa.

Tujuan dari diadakannya Kampung Markisa ini sangat sederhana. warga menginginkan suatu perubahan di wilayah Blunyahrejo terkait dengan stigma tadi, sehingga mereka bisa berkegiatan di sini, dan secara pelan-pelan bisa merasakan hasil yang dilakukan dari kegiatan-kegiatan yang ada. Sehingga memang penekannya adalah bagaimana menumbuhkan ekonomi di tengah masyarakat Blunyahrejo.

Terdapat empat unit kerja yang dilaksanakan di kampung markisa antara lain pertanian kota, perikanan, pengolahan sampah kering dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjadi unggulan di sini adalah pertanian, karena masyarakat juga sudah di-support oleh Dinas Pertanian Pangan Kota Yogyakarta dengan mendapatkan bantuan program lumbung mataram dan mendapat materi, pelatihan pembuatan pupuk, dan pembibitan.

Wujud dari keunggulan dalam bidang pertanian adalah terbentuknya Kelompok Tani Kampung Markisa melalui Keputusan Lurah Karangwaru Nomor 08/KPTS/KW/IV/2020 tertanggal 15 April 2020, dengan jumlah personel 30 orang terdiri dari empat orang pengurus (ketua, sekretaris, bendahara, sie umum) dan 26 orang anggota dari berbagai wilayah RT dan RW di lingkup Kampung Blunyahrejo.

Kampung ini memang memiliki budi daya markisa yang dikelola oleh Kelompok Tani Kampung Markisa. Maka tak heran, kampung tersebut diberi nama Kampung Markisa. Di lahan tersebut, tumbuh bibit-bibit markisa yang dibudidayakan, bahkan, saat musim panen tiba nanti, warga sekitar bisa memetiknya untuk diolah menjadi sirup dan minuman markisa, sehingga hal itu bisa memberdayakan ekonomi warga sekitar. Selain markisa, di lahan tersebut warga Blunyahrejo juga menanaminya dengan berbagai sayuran seperti sawi, tomat, kangkung dan beberapa sayuran lainya.

Selain melakukan budi daya tanaman, di Kampung Markisa ini juga melakukan budi daya ikan lele, entah itu menggunakan sistem terpal dan juga sistem budi daya dalam tong. Sekarang untuk hasilnya sudah bisa dirasakan warga Blunyahrejo. Jadi tidak hanya tanaman yang dapat menghasilkan tetapi ternak lele juga dapat menghasilkan.

Kegiatan rutin Kelompok Tani Kampung Markisa dalam melakukan rutinitas pertanian yaitu ada pembibitan, ada juga bersih-bersih, pembibitan, dan pemanenan. Pemanenan siklusnya satu bulan sekali, sementara kegiatan harian bersih-bersih dan merawat tanaman, kalau mingguan biasanya untuk memberi pupuk pada tanaman. Sedangkan yang budi daya perikanan setiap saat menguras atau mengganti air, jika kondisi airnya sudah keruh anggota kelompok segera mengganti air yang baru.

Untuk pemupukan, anggota kelompok tani menggunakan pupuk dari pengolahan sampah kering, untuk sekarang proses pembuatan masih dibantu pihak Dinas, harapannya kedepan kelompok tani bisa mandiri untuk pembuatan pupuk komposnya.

Dalam perjalanan Kampung Markisa tidak menutup kemungkinan dinamika pro-kontra dengan adanya kegiatan ini, dan juga hal-hal lain secara nonteknis yang kadang bisa menjadi hambatan namun atas dasar komitmen dari warga Blunyahrejo. Radianto sebagai koordinator Kampung Markisa selalu men-support terus dan menguatkan kegiatan ini agar tidak berhenti di tengah jalan, dan goal dari Kampung Markisa dapat diraih.

Radianto mengharapkan Kampung Markisa tidak akan berhenti di sini, karena keinginan dan cita-cita masyarakat untuk bagaimana mengubah stigma negatif Kampung Blunyahrejo, ini salah satu tujuan dari kegiatan di kampung Markisa untuk mengubah stigma tersebut dan dapat menjadi kampung percontohan. Radianto juga mempunyai keinginan agar Kampung Markisa ini ke depannya dapat menjadikan objek wisata.

Pengembangan UMKM di Kampung Markisa

Selain mengembangkan budi daya tanaman sayur dan budi daya perikanan, di Kampung Markisa ini juga melakukan pengembangan dalam bidang UMKM, hal ini sangat bagus mengingat ke depannya Kampung Markisa ini akan menjadi tempat wisata alternatif bagi masyarakat luas. Tidak hanya untuk wisata, Kampung markisa ini bisa menjadi tempat berbagi ilmu mengenai pertanian di tengah kota.

Dengan adanya UMKM, dalam hal ini adanya warung makan di sekitar Kampung Markisa menjadi penunjang bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Markisa, selain itu masyarakat Blunyahrejo juga melakukan cara agar bagaimana bisa mendatangkan masyarakat luar dengan kegiatan lomba burung berkicau sehingga bisa banyak masyarakat dari luar yang datang, secara otomatis menguatkan UMKM-nya.

Untuk sementara ini warung makan yang terdapat di kampung markisa sejumlah ada 12 lapak, masing-masing lapak yang sudah berdiri dituntut untuk memiliki menu makanan unggulan, dengan adanya tuntutan itu diharapkan bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung di kampung markisa.