Kapanewon dan Kalurahan di Kabupaten Bantul, Dulu dan Sekarang

Ilustrasi Kapanewon. Kelurahan Argodadi

Kecamatan juga disebut distrik di Provinsi Papua Barat dan Papua, serta kapanewon dan kemantren di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian wilayah dari daerah kabupaten atau kota yang dipimpin oleh camat.

Kecamatan diatur sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 24 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa ‘Kecamatan atau yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah dari daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh camat’.

Kapanewon dan kemantren adalah pembagian wilayah administratif di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kapanewon setara dengan kecamatan tingkat kabupaten sementara kemantren setara dengan kecamatan tingkat kota. Kapanewon dipimpin oleh panèwu, sedangkan kemantren dipimpin oleh mantri pamong praja.

Penyebutan tersebut diberlakukan pada tahun 2020 sesuai dengan Pergub No. 25 tahun 2019. Selain itu, sekretaris kecamatan disebut sebagai panewu anom untuk kabupaten, dan disebut mantri anom untuk wilayah kota. Di daerah selain Daerah Istimewa Yogyakarta, disebut Kecamatan dipimpin oleh seorang camat.

Sebelum merdeka, Kabupaten Bantul telah terbagi dalam beberapa kapanewon dan kalurahan. Sebagian masuk wilayah Yogyakarta dan sebagian masuk wilayah Surakarta. Memasuki kemerdekaan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Kasultanan dan Pakualaman) mengeluarkan Maklumat Nomor 5 tahun 1948 tentang Perubahan daerah-daerah kalurahan dan nama-namanya, dengan tujuan untuk kelengkapan pembangunan kalurahan-kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Maklumat tersebut meliputi kalurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Perubahan tersebut dimulai sejak tahun 1946 yang terkenal dengan istilah ‘Blengketan’ yang diperintahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Adapun untuk Kabupaten Bantul, beberapa kalurahan digabung dan ada juga yang berubah nama, selengkapnya sebagai berikut.

Pertama, Kapanewon Bantul terdiri dari Kalurahan Bantul (Gabungan Kalurahan Teruman, Gandekan dan Bedjen), Kalurahan Ringinhardja (semula bernama Bantulkarang), Kalurahan Palbapang (Gabungan Kalurahan Gandon, Taruban, dan Tadjeman), Kalurahan Trirenggo (Gabungan Kalurahan Niten, Nagasari, Batikan), Kalurahan Sabdodadi (semula bernama Kejongan).

Kedua, Kapanewon Sewon terdiri dari Timbulhardja (Gabungan Kalurahan Rendeng, Dadapan, Sudimara. Kowen, Kepek), Kalurahan Bangunhardja (Gabungan Kalurahan Saman, Wadja, Ngoto, Njoereog), Panggunghardja (Gabungan Kalurahan Tjabeyan, Prantjak, Krapjak), Pandawahardja (Gabungan Kalurahan Pandawa, Karanggede, Kranthil, Bandung, Ngrukem).

Ketiga, Kapanewon Kasihan terdiri dari Kalurahan Tirtanirmala (Gabungan Kalurahan Bekelan, Padokan, Mrisi), Kalurahan Ngestihardja (Gabungan Kalurahan Kembang, Sutopadan, Nitipuran, Onggobajan), Kalurahan Tamantirta (Gabungan Kalurahan Ngebel, Sumberan, Kasihan), dan Kalurahan Bangundjiwa (Gabungan Kalurahan Kasongan, Bangen, Sribitan, Paitan).

Keempat, Kapanewon Pedes terdiri dari Kalurahan Argamulyo (Gabungan Kalurahan Watu, Kaliberot, Pedes, Kemusuk), Kalurahan Argasari (Gabungan Kalurahan Sedaju, Klangon, Tonalan), Kalurahan Argaredja (Gabungan Kalurahan Ngentak, Sundikidul), dan Kalurahan Argadadi (Gabungan Kalurahan Sungapan, Sukahardja, Dingkikan).

Kelima, Kapanewon Padjangan terdiri dari Kalurahan Triwidadi (Gabungan Kalurahan Sokadadi, Trujtuk, Kersan) Kalurahan Sendangsari (Gabungan Kalurahan Krebet, Manukan). dan Kalurahan Guwasari (Gabungan Kalurahan Irojudan, Slarong)

Keenam, Kapanewon Pandak terdiri dari Kalurahan Widjireja (Gabungan Kalurahan Kauman, Gesikan), Kalurahan Gilanghardja (Gabungan Kalurahan Krekah, Djodoglegi, Bantulan), Kalurahan Trihardja (Gabungan Kalurahan Gunturan, Tirta, Sijangan), Tjaturhardja (Gabungan Kalurahan Gluntung, Tundjungan, Tegallajang, Glagahan).

Ketujuh, Kapanewon Srandakan terdiri dari Kalurahan Trimurti (Gabungan Kalurahan Srandakan, Mangiran, Puron), Kalurahan Pantjasari (Gabungan Kalurahan Saptokondo, Wanatingal, Sambikerta, Madjahurip, Trihudadi).

Kedelapan, Kapanewon Sanden terdiri dari Kalurahan Gadingsari (Gabungan Kalurahan Namparejo, Radjaniten, Sokahardja, Sedaju), Kalurahan Murtigading (Gabungan Kalurahan Srihardana, Sidohardja, Kartopontjo), Kalurahan Gadinghardja (Gabungan Kalurahan Mandingmas, Renggosari), Kalurahan Srigading (Gabungan Kalurahan Gunungwingko, Pugeran, Srabahan, Kalidjurang).

Kesembilan, Kapanewon Kretek terdiri dari Tritamulja (Gabungan Kalurahan Sarapadan, Bratjan, Karen, Kradjan), Kalurahan Tirtosari (Gabungan Kalurahan Kirabajan, Djuregan), Kalurahan Tirtoharga (Perubahan nama Kalurahan Gunungkuntji), kaluran Tirtohardja (Gabungan Kalurahan Sana, Grogol), Kalurahan Danatirta (Gabungan Kalurahan Gadinghardja, Banjudana, Kradenan).

Kesepuluh, Kapanewon Panggang terdiri dari Sidamulja (Gabungan Kalurahan Turi, Djerukan, Panggang, Ngireng-Ireng), Kalurahan Muljadadi (Gabungan Kalurahan Tulasan, Bekang, Pete, Grogol), kalurahan Sumbermulja (Gabungan Kalurahan Gersik, Lipura, Kaligondang, Kebondalem).

Kesebelas, Kapanewon Pundong terdiri dari kalurahan Pandjangredja (Gabungan Kalurahan Pandjang, Gedangan, Krapjak), Kalurahan Selahardja (Gabungan Kalurahan Biro, Dermodjurang), Kalurahan Srihardana (Gabungan Kalurahan Munggang, Patrabajan, Pundong, Nangsri).

Kedua belas Kapanewon Imogiri terdiri dari Kalurahan Selapamiara (Gabungan Kalurahan Kalidadap, Siloek, Lanteng) Kalurahan Srihardja (Gabungan Kalurahan Madjaura, Dogongan) Kalurahan Wukirsari (Gabungan Kalurahan Singosaren, Padjimatan, Girilaja, Potjung, Barongan).

Ketiga belas, Kapanewon Djetis terdiri dari Kalurahan Canden (Gabungan Kalurahan Kralas (sebagian) , Suren, Gadungan) Kalurahan Patalan (Gabungan Kalurahan Bakulan, Kategan, Kralas (sebagian), Gersela, Gaduh), Kalurahan Sumberagung (Gabungan Kalurahan Bedji, Barongan, Bulus,Sawahan), Kalurahn Trimulja (Gabungan Kalurahan Karangsemut, Blawong, Ponggok).

Keempat belas, Kapanewon Gondowulung terdiri dari Kalurahan Wanakrama (Gabungan Kalurahan Djatirenggo, Karanganjar, Purwakrija), Kalurahan Tamanan (Gabungan Kalurahan Redjokusuma, Ngumbulsari, Banthengan) Kalurahan Wirakerten (Gabungan Kalurahan Tobratan, Bandjarsari, Batutirta), Kalurahan Pleret (Gabungan Kalurahan Nambangredja, Baleredja, Tambakredja) Kalurahan Djambidan (Gabungan Kalurahan Kreteklor, Surodinanggan, Sambiredja) Kalurahan Pataran (Gabungan Kalurahan Majungan, Mertosanan wetan, Balong).

Kelima belas, Kapanewon Pijungan terdiri dari Kalurahan Sitimulja (Gabungan Kalurahan Tjepakdjadjar, Ngablak, Maduganda, Madjasari) Kalurahan Srimulja (Gabungan Kalurahan Sandejan, Pajak, Bintaran, Djalasutra) Kalurahan Srimartani (Gabungan Kalurahan Daraman, Petir, Godongan).

Keenam belas, Kapanewon Kotagede terdiri dari Kalurahan Baturetno (Gabungan Kalurahan Ngipik, Wioro kidul, Mantup) Kalurahan Banguntapan (Gabungan Kalurahanm Sarawadjan, Ketandan, Pilihan, Pringgolajan), kalurahan Umbulhardja (Gabungan Kalurahan Semaki, Mudja-mudju, Warungbata, Sorosutan, Giwangan).

Seiring berjalannya waktu dan dinamika di masyarakat, ada beberapa perubahan wilayah maupun nama kapanewon. Pertama, Perubahan nama Kapanewon Pedes menjadi Kapanewon Sedaju. Perubahan ini berdasar Surat dari Kabupaten Pamong-Praja Bantul No. 2562/Pr/51 mengenai permohonan penggantian nama Kapanewon Pedes menjadi Kapanewon Sedayu telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kalurahan, Majelis Desa dan semua instansi-instansi Pemerintah dalam Daerah Kapanewon Pedes.

Selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 9 Tahun 1951 tentang Penggantian nama Kapanewon ‘Pedes’ menjadi Kapanewon ‘Sedaju’.

Kedua, Perubahan nama Kapanewon Panggang menjadi Kapanewon Bambanglipuro. Adapun alasan untuk mengganti nama Kapanewon Panggang Kabupaten Bantul ialah karena terdapat dua Kapanewon yang namanya Panggang, yaitu di Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Bantul, sehingga mudah menimbulkan kekeliruan alamat.

Perubahan nama ditetapkan melalui Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 1995 tentang Penggantian nama Kapanewon ‘Panggang’ Kabupaten Bantul menjadi Kapanewon Bambanglipuro sejak 30 juni 1955.

Ketiga, Perubahan dan penambahan empat Kapanewon yakni Kapanewon Imogiri, Dlingo, Pleret, dan Banguntapan. Hal ini berdasar Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 1958 tentang Perubahan Batas dan Nama Kapanewon-Kapanewon Imogiri, Gondowulung, dan Kotagede dalam Kabupaten Bantul sejak 15 Januari 1958.

Perlu dijelaskan bahwa menurut Undang-undang Darurat Nomor 5 tahun 1957 daerah enclave Imogiri (Surakarta) dan Kotagede (Surakarta) telah dimasukkan ke dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai kekuasaan untuk mengadakan perubahan atas batas-batas Kapanewon tersebut.

Sebagaimana yang telah ditentukan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 18/K/DPR/1955. Empat Kapanewon, yaitu Imogiri (Yogyakarta), Imogiri (Surakarta), Gonwulung, Kotagede (Yogyakarta) semua terletak dalam Kabupaten Bantul, dijadikan kapanewon dalam rangka menyederhanakan susunan administrasi, menghemat pengeluaran uang pemerintah, menambah perhatian terhadap kemajuan daerah-daerah pegunungan, serta menambah perhatian terhadap kemajuan daerah.

Selanjutnya Kapanewon Imogiri terdiri dari delapan kalurahan yakni Selopamioro, Srihardjo, Wukirsari, Imogiri, Karangtalun, Karangtengah, Kebonagung dan Girirejo.

Kapanewon Dlingo, sebagai kapanewon yang baru terdiri dari lima kalurahan yakni Dlingo, Mangunan, Muntuk, Djatimulyo, Terong. Semula lima kalurahan tersebut masuk wilayah Surakarta.

Kapanewon Pleret, sebagai kapanewon baru terdiri dari lima kalurahan yakni Wonokromo, Pleret, Segorojoso, Bawuran, Pleret. Kapanewon ini merupakan gabungan sebagian kalurahan yang ada di Kapanewon Gondowulung dan sebagian dari Kapanewon Kotagede (Surakarta)

Kapanewon Banguntapan, sebagai kapanewon baru, Banguntapan terdiri dari delapan kalurahan yakni Tamanan, Wirokerten, Djambidan, Potorono, Baturetno, Banguntapan, Singosaren, Djagalan. Merupakan gabungan dari Kapanewon Kotagede (Yogyakarta dan Surakarta) dan Gondowulung.

Dari uraian di atas, ada beberapa nama kapanewon yang hilang yakni Gondowulung, Kotagede (Yogyakarta), Kotagede (Surakarta), Imogiri (Surakarta) Adapun nama kapanewon yang baru seperti Kapanewon Dlingo, Kapanewon Banguntapan, Kapanewon Pleret.

Berdasarkan UU no 5 tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah tertanggal istilah Kapanewon berubah menjadi kecamatan. Selanjutnya sesuai dengan Undang-Undang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 25 Tahun 2019 tentang Pedoman Kelembagaan Urusan Keistimewaan pada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Kalurahan, penyebutan kecamatan di ganti dengan Kapanewon.

Saat ini di Kabupaten Bantul terdiri dari 17 Kapanewon dan 75 Kalurahan. Demikian perjalanan perubahan istilah kapanewon di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kabupaten Bantul.