Kapitalisme dan Krisis Ekologi

Ilustrasi Capitalism is Killing The Planet. TRANSISI ORG

Dua minggu lalu, di suatu hari yang cerah, dua ekor kupu-kupu terbang menggelintar di halaman belakang rumah. Kupu-kupu hitam dengan bintik putih di bagian ekor. Ukurannya tidak terlalu besar sehingga gerakannya lincah. Keduanya terlihat cantik dan anggun.

Kupu-kupu itu terbang dari satu pohon ke pohon lainnya seperti hendak memamerkan keindahan tubuhnya. Setelah hinggap beberapa saat, ia berpindah lagi ke pohon yang lain, dan begitu seterusnya.

Saya coba tebak, sepertinya mereka bersuka cita atas cerahnya hari ini, atau sedang mencari makan atau bahkan melakukan tugasnya sebagai polinator. Alam memang telah memberi tugas kepada serangga untuk memindahkan serbuk sari ke atas kepala putik supaya tumbuhan bisa menghasilkan bunga dan buah. Dari situ sekitar 90 persen penyerbukan pada tumbuhan dilakukan oleh serangga, termasuk kupu-kupu.

Sekali lagi, sepertinya itu hari yang baik, sebab tidak setiap hari ada kupu-kupu terbang di sekitar rumah. Seingat saya, sudah lama sekali tak melihat beberapa serangga seperti capung, kupu-kupu, atau kunang-kunang beterbangan. Mereka sudah lama hilang dari pekarangan rumah. Kalaupun ada, jenis dan jumlah sudah sangat sedikit.

Kemana perginya serangga-serangga itu?

Beberapa waktu lalu, saya baca artikel bagus di National Geographic. Judulnya, Kiamat Serangga dalam Linimasa Perkembangan Kota. Penulis artikel itu menengarai masifnya perluasan kota telah mendesak populasi para serangga. Polusi cahaya dan pemakaian pestisida yang berlebihan menjadi sebab kepunahan serangga.

April 2020, saya juga baca hasil riset yang dipublikasikan di Journal of Asia-Pasific Entomology. Penulisnya Samantha Wanjiru Mbugua dan tim dari Sunway University di Selangor, Malaysia. Riset itu menganalisis pengaruh cahaya lampu jalan terhadap kunang-kunang. Hasilnya, cahaya membatasi kemampuan kunang-kunang dalam mencari makan dan bereproduksi.

Kunang-kunang itu jenis serangga fototaksis negatif. Artinya, mereka cenderung menghindari cahaya. Karena itu, cahaya sangat berpengaruh terhadap sistem biologis kunang-kunang. Cahaya lampu yang terlalu terang, seperti di perkotaan, menyebabkan kunang-kunang tidak bisa terbang atau mobilitasnya menurun di malam hari. Padahal, ia tipe organisme nokturnal.

Tapi ini bumi manusia dan segalanya ditakar menurut ukuran manusia.

Sekarang, kota lebih dari sekadar ruang hidup. Kota adalah mesin pertumbuhan ekonomi. Semakin bagus, megah, banyak penghuni, dan semakin terang akan semakin bagus untuk ekonomi dalam menarik modal. Dalilnya, City is the engine of capital accumulation.

Jumlah penduduk kota terus meningkat. Menurut badan dunia PBB, saat ini, 55 persen penduduk dunia tinggal di kota. Diperkirakan jumlah itu akan meningkat menjadi dua per tiga dari total penduduk bumi pada tahun 2050 nanti. Kota-kota baru masih terus dibangun dan ditata serta menyebar ke segala arah.

Kota-kota itu dibangun untuk manusia dan bukan untuk makhluk hidup lainnya, apalagi serangga. Wajar saja, populasi serangga di kota cenderung menurun, bahkan punah.

Dalam rezim kapitalis, ekonomi memang harus terus bertumbuh, sebab dengan itulah keberhasilan pembangunan diukur. Tapi Andre Gorz, dalam Ecology as Politics, meramalkan bahwa, jenis pertumbuhan yang sementara berjalan saat ini sedang menuju sedang mengarah pada kehancurannya.

Apa pasal di bawah rezim ekonomi kapitalis? Pertumbuhan ekonomi selalu mengabaikan efek samping kerusakan ekologis. Tapi jika ikut dihitung, maka pertumbuhan berarti kemerosotan sebab biaya yang ditimbulkan lebih tinggi dari keuntungan yang diberikan.

Lalu, agar produk-produk pertanian tetap bertumbuh dengan cepat maka dibutuhkan pestisida dan pupuk. Menurut Sebastian Jannelli dari Greenpeace, pestisida telah menyebabkan kematian 90 persen populasi Kupu-kupu Raja (monarch butterfly) selama 20 tahun. Ia meramalkan, rantai produksi makanan di Amerika akan terganggu karena punahnya Kupu-kupu Raja.

Tapi sekali lagi, ini bumi manusia. Segalanya ditakar menurut ukuran manusia. Tidak peduli berapa banyak populasi Kupu-kupu Raja yang punah, ekonomi harus terus bertumbuh.

Seharusnya, manusia dan alam memiliki relasi yang berkelanjutan. Racel Carson, Biolog asal Amerika, dalam karyanya yang masyhur sekaligus menghebohkan, Silent Spring, menulis The history of life on earth has been a history of interaction between living things and their surroundings.

Itu pengertian dasar ekologi. Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Karl Marx, dalam Kapital I, juga mengurai relasi itu panjang lebar. Marx menggunakan kata ‘stoffwechsel’ dalam Bahasa Jerman berarti ‘metabolisme’. Kata ini digunakan untuk menjelaskan interaksi antara manusia dan alam.

Interaksi metabolis itu merupakan reaksi biokimia yang kompleks. Ada pertukaran materi antara manusia dan lingkungan. Manusia mengambil berbagai materi dari alam dan mengubahnya melalui reaksi metabolik untuk keperluan tubuh. Nantinya, apa yang diambil oleh manusia akan kembali lagi ke alam. Interaksi ini harus terus berlanjut sepanjang hidup manusia.

Di dalam Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844, Marx bahkan menulis, ‘Manusia hidup dari alam, yakni, alam adalah badannya, dan dia harus menjalankan dialog kontinu dengannya jika tidak mati’. Ini berarti, sepanjang ada kehidupan, relasi antara alam dan manusia terus berlangsung. Tetapi sampai suatu saat, kapitalisme muncul dan mengubah segalanya.

Saya juga baca satu artikel menarik di Majalah Monthly Review. Artikel itu diambil dari salah satu bab dalam bukunya John Bellamy Foster dan Brett Clark, The Robbery of Nature: Capitalism and the Ecological Rift. Foster dan Brett menceritakan kembali analisis Marx mengenai Irlandia di awal tahun 1800-an. Bagaimana kolonialisme dan kapitalisme menimbulkan kerusakan ekologis dan kelaparan bagi penduduk Irlandia.

Setelah ditaklukan Britania Raya, industri manufaktur di Irlandia runtuh dan ekonominya beralih ke sektor pertanian. Rakyat Irlandia dipaksa menanam gandum, sebab harganya mahal di Inggris. Sebagian besar hasil pertanian kemudian dibawa ke Inggris. Hanya kentang yang boleh dikonsumsi orang-orang Irlandia. Petani Irlandia hanya menanam dua tanaman itu: gandum dan kentang.

Sistem pertanian pun dilakukan dengan cara destruktif dan akhirnya membuat tanah Irlandia kehilangan tingkat kesuburannya dengan cepat. Tahun 1846, tanaman kentang di Irlandia diserang jamur patogen, Phytophthora infestans. Produksi kentang menurun dan Irlandia dilanda kelaparan serta kerusakan ekologis yang hebat.

Begitulah kapitalisme bekerja dan menimbulkan apa yang disebut Karl Marx sebagai keretakan metabolis (metabolic rift). Manusia mengambil berbagai materi dari alam dan mengembalikannya dalam bentuk polutan, deforestasi, dan menurunnya biodiversitas dengan laju yang mengkhawatirkan.

Sudah dua minggu berlalu, dan saya tak lagi melihat kupu-kupu yang cantik nan anggun itu di sekitar halaman rumah. Saya pikir, di waktu-waktu yang akan datang, semakin sulit menemukan serangga seperti kupu-kupu, capung dengan berbagai warna dan bentuk, atau kumpulan kunang-kunang di malam yang gelap.

Ini memang bumi manusia, bumi yang ramah bagi kapitalisme, dan bukan untuk makhluk lain, apalagi serangga.

Sekadar mengingatkan, Edward O. Wilson, yang dikenal sebagai bapak Sosiobiologi, pernah bilang ‘Jika manusia tiba-tiba menghilang, bumi akan kembali ke kesetimbangannya pada sepuluh ribu tahun silam. Namun, jika serangga menghilang, lingkungan hidup akan mengalami kekacauan.’ Saya kira, kita tak boleh abai terhadap pesan itu

Add Comment