Kelas Menengah, Sebuah Keniscayaan

Buku Kelas Menengah Progresif. SUKMA AJI

Boleh dikatakan, bonus demografi adalah keniscayaan, di mana pada rentang 2020-2030 Indonesia akan mengalami momentum ini. Ketika hal itu terjadi, jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedangkan jumlah usia tidak produktif (14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) sejumlah 30 persen penduduk.

Arif Giyanto selaku penulis buku berikhtiar menyajikan peluang besar bonus demografi yang sedianya ditulangpunggungi ‘Kelas Menengah’ dalam buku yang memiliki ketebalan 316 halaman. Dengan demikian, Kelas Menengah dapat bergerak bersama dalam simpul berkelanjutan yang berorientasi pada kemanfaatan.

Era telah berubah dan zaman tak dapat dilawan. Kini, identifikasi Kelas Menengah semakin multivarian. Seorang karyawan swasta (Proletar), dapat pula merintis usaha kecil sendiri (Borjuis Kecil), bahkan bertransformasi menjadi pemilik alat produksi dominan (Borjuis Besar). Bila selama ini masing-masing negara harus ‘sedikit’ berhati-hati dengan manuver kompetitornya, kini semua hal dapat diangkat pada meja steril analisis, demi kemajuan bersama.

Bukan tanpa alasan penulis mengulas terma ‘perjuangan kelas’ ini, sudah sekira 20 tahun lalu semenjak menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Muhammdiyah Surakarta, penulis mulai tertarik dengan Teori Kelas atau sering disebut sebagai kesadaran kelas (class consciousness).

Buku ini merupakan rangkuman apa yang pernah dialami penulis rentang waktu 2004-2019 yang fokus pada Ekonomi, Kepemimpinan dan juga Kelas Menengah. Singkatnya, Kelas Menengah Progresif merepresentasi tiga tahapan penting, yakni Konsolidasi Kelas Menengah, Supremasi Modal Bersama, dan Berdikari Permanen

Dalam buku Kelas Menengah Progresif, ringkasnya dibagi menjadi tiga bagian. Pada Bagian Pertama, penulis menyajikan tulisan-tulisan yang sudah dimulainya sejak 2004 seputar Ekonomi-Politik (Ekopol) dengan berbagai konteksnya, sesuai dengan momentum tahun yang mengilhami penulis membuat artikelnya.

Penulis yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi memiliki sudut pandang bahwa Indonesia dijangkiti berbagai persoalan seputar dampak kapitalis semu (ersatz capitalist). Namun, seiring tahun semenjak krisis moneter pada tahun 1996, Indonesia memiliki persoalan ekonomi yang berangsur-angsur baik salah satunya berkat pertumbuhan Kelas Menengah Indonesia melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Masuk ke Bagian Kedua, penulis menyajikan mozaik-mozaik pemikirannya ihwal kepemimpinan. Tulisan-tulisan mengenai kepemimpinan merupakan representasi kiprahnya menduduki jabatan-jabatan penting semasa menjadi mahasiswa.

Beberapa adalah jabatan penulis semasa masih kuliah pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (2001-2002), Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan (2002-2003), dan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukoharjo (2003-2004).

Pascainsiden gerakan mahasiswa 1998, penulis justru merasa ‘ketiban pulung’. Generasinya pada saat itu dianggap paling bertanggung jawab menjadi penerus Gerakan Reformasi, karena baru saja menjadi mahasiswa. Terlepas dari pro-kontra, bagaimanapun, pendidikan progresif dianggap mampu mengantarkan peserta didik untuk sadar dan responsif terhadap kebutuhan mendasar masyarakat

Berbeda dengan dua bagian sebelumnya yang mengompilasi tulisan-tulisan yang ditulis hampir dua dekade, pada bagian terakhir ini, penulis khusus menampilkan Kelas Menengah pada kadar eksistensi yang tidak sepenuhnya sulit atau dapat terwujud.

Kelas Menengah selama ini dianggap kurang mampu berinisiatif memperjuangkan perubahan dan terkesan pasif pada dinamika kelas yang terjadi. Namun pada kenyataannya, Kelas Menengah Progresif justru memilih eksis bersama dalam jejaring strategis yang solid, berprinsip kolaborasi.

Dalam struktur ekonomi, Kelas Menengah berperan multi-kuadran dan tidak selalu tergantung pada peranan para pemodal. Mereka terus membangun karya yang mampu menembus ‘keumuman’ Kelas Menengah.

Pada waktunya, Kelas Menengah akan melakukan konsolidasi nasional, dengan caranya sendiri, yang terus relevan, kompatibel, dan feasible. Semangat mereka untuk mencapai kehidupan lebih baik yang tidak mungkin dapat digantungkan pada sistem era sebelumnya, justru melahirkan optimisme tak terbendung dan kerja keras berkelanjutan.

Kelebihan Buku

Melihat banyaknya jumlah masyarakat Kelas Menengah di Indonesia pada rentang 2020-2030 yang mencapai 70 persen, buku ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi mereka bagaimana masyarakat Kelas Menengah menyejahterakan kehidupan dengan ikut berpartisipasi menjadi masyarakat yang progresif.

Meskipun banyak sekali istilah yang jarang didengar secara umum, namun penulis selalu membubuhkan keterangan di setiap istilah asing agar buku ini dapat dibaca semua kalangan. Tentu saja, buku yang baru diterbitkan di awal tahun 2021 ini menjadi saran booklist bagi pembaca buku.

Selain itu, dimensi buku yang berukuran 23,5 cm dengan ketebalan buku 316 halaman sangat nyaman dipegang saat dibaca. Tidak hanya itu, buku yang berisikan rangkuman Kelas Menengah hampir dua dekade ini dapat menjadi kaleidoskop peristiwa-peristiwa di Indonesia.

Berisi 30 buah pikir ekonomi-politik, 30 tulisan kepemimpinan, dan ulasan strategis Kelas Menengah, serta dikompilasi sejak 2004. Terdapat 64 subjudul yang ada di dalam buku cukup dalam mengupas isu-isu Kelas Menengah hingga tuntas.

Pada bagian kover buku terlihat sederhana dengan menampilkan judul buku dan gambar siluet. Sementara buku ini dibandrol dengan harga Rp150.000 per eksemplarnya serta tersedia di Google Play Buku.

Add Comment