Kelompok Tani Lumbung Mataram Binangun, Simbol Pembangunan Pangan Panembahan

Tanaman hidroponik yang berada di kampung sayur yang dimiliki Kelompok Tani Lumbung Mataram Binangun. ILHAM LUTHFI HABIBI

Dinamika pembangunan tidak dapat dipisahkan dari permasalahan yang saling berkaitan, yaitu bertambahnya jumlah penduduk, pengangguran, kemiskinan, produktivitas komoditas bahan pokok tergantung pada impor, dan kekurangan gizi. Akibatnya, sulit memenuhi kebutuhan hidup karena semakin tingginya harga bahan pokok.

Penyebab lainnya, dari dampak industrialisasi skala besar yang tidak sesuai dengan hasil analisis dampak lingkungan, sehingga terjadi kesalahan alih fungsi lahan, terjadi pencemaran lingkungan seperti polusi udara dan limbah kimia, kemudian tidak mendukung kepada sektor pertanian. Karena terjadi penyempitan lahan pertanian, menyebabkan berkurangnya generasi petani yang kurang minat terhadap bidang pertanian, serta terancamnya ketahanan pangan sebagai dasar kebutuhan masyarakat.

Problematika tersebut menjadi catatan penting dalam konsideran Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, bahwa semakin meningkatnya pertambahan penduduk serta perkembangan ekonomi dan industri, mengakibatkan terjadinya degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian pangan. Hal tersebut mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

Lebih lanjut lagi bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan telah mengakibatkan Indonesia harus sering mengimpor produk-produk pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Keadaan penduduk yang masih terus meningkat jumlahnya, ancaman- ancaman terhadap produksi pangan telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan rawan pangan pada masa yang akan datang. Akibatnya, Indonesia akan membutuhkan tambahan ketersediaan pangan dan lahan pangan.

Penanggulangan masalah ketahanan pangan dapat dilakukan, salah satunya dengan melaksanakan pengembangan kewirausahaan melalui program pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi permasalahan, mengembangkan potensi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di tingkat desa.

Desa dapat mempertahankan potensi ketahanan pangan dengan pengembangan kewirausahaan melalui program pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mampu menjadi komoditas unggulan yang menjadi sumber penghasilan serta kesejahteraan masyarakat.

Kelompok Tani Lumbung Mataraman berdiri atas prakarsa dari warga yang melihat peluang untuk kegiatan di masa Covid-19, karena pada masa seperti ini semua memakai aturan kesehatan. Peluang untuk kegiatan akhirnya tercapai dengan adanya lahan tidur yang dapat dimanfaatkan warga RW 04 Kalurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.

Pemanfaatan lahan tidur, atas kesepakatan bersama dengan warga sekitarnya, maka dibentuklah wadah untuk menampung keinginan warga, yakni bercocok tanam sayur di masa pandemi. Dengan harapan, lahan ini bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekitar.

Sekarang, kampung sayur telah berdiri dengan ditanami berbagai komoditas tanaman sayur yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Adapun tanaman sayur yang ada seperti terong, tomat, cabai, gambas, pare, sawi, kacang panjang, kenikir, serta ada juga pemeliharaan lele dalam ember.

Penanaman sayuran menggunakan sistem hidroponik, ini menjadi kelebihan dari kelompok tani ini. Sistem hidroponik dapat memberi manfaat di antaranya, Pertama, tidak perlu banyak air karena air akan terus disirkulasi atau diedarkan dalam sistem yang telah dibuat sebelumnya. Kedua, tidak membutuhkan tanah karena air digunakan sebagai medium utamanya.

Ketiga, lebih bersih dan steril karena tidak ada tanah yang berceceran. Keempat, cocok diterapkan di lahan sempit atau terbatas karena tidak memerlukan pot besar atau tanah yang luas. Kelima, kandungan gizinya lebih tinggi karena tidak menggunakan pestisida.

Keenam, tanamannya bisa tumbuh lebih cepat, jika diawasi dan dikelola dengan tepat. Ketujuh, bebas dari hama pengganggu tanaman yang sering muncul dari tanah.

Kelompok Tani Lumbung Mataram Binangun yang menempati lahan kosong sekitar 1000 meter dalam kota terasa sangat luas dan menjanjikan untuk budi daya berbagai tanaman sayur dan tanaman pendukung lainnya.

Hasil budi daya tentunya untuk kebutuhan warga sekitar dan anggota kelompok dan masyarakat luas. Pemasaran menjadikan titik balik yang menentukan kelangsungan dari kelompok itu sendiri.

Hasil panennya dipasarkan ke warga sekitar kampung sayur dan masyarakat luas. Untuk pola pemasaran melalui media sosial yang ada, baik WhastApp, Instagram, maupun Twitter. Pemasaran ini dengan model paket dan harga sesuai isi paket, misal paket 15.000 isinya terong, tomat, cabai, pare, gambas, serta kenikir.

Untuk warga sekitar atau anggota kelompok tani bisa memetik sendiri di kampung sayur secara langsung dengan membayar seikhlasnya yang dimasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan oleh pengurus kelompok tani.

Tidak hanya itu, di kampung sayur ini juga membuat pupuk organik untuk keperluan kesuburan tanaman. Bagi masyarakat yang datang ke sini bisa belajar mengenai bagaimana cara menanam dan juga diajari bagaimana membuat pupuk organik.

Belum lama ini, kelompok tersebut dijadikan sampel untuk pengambilan data kelompok terutama swadaya kelompok, di mana pengambil sampel adalah mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Dengan adanya kunjungan serta pengambilan sampel, akan terlihat nantinya apa yang menjadi kekurangan untuk kelompok ini menuju perkembangan yang lebih baik lagi.

Sekarang di kampung sayur telah terpasang WiFi atas nama kelompok tani untuk kegiatan informasi serta penggalian pengetahuan lewat dunia maya.

Sudarmanto, selaku ketua kelompok ini, mempunyai konsep ke depan yaitu konservasi hijau dan konservasi budaya. Konsep ini sudah ia prakarsai sejak tahun 2001 dengan melakukan penanaman pohon di pinggir jalan perkampungan RW 04. Hasilnya bisa dirasakan, sekarang di wilayah ini sudah rimbun dengan tumbuh-tumbuhan lebat dan hijau.

Ke depannya, Sudarmanto juga menginginkan kampung sayur ini dapat survive sepanjang zaman, dan bisa membentuk generasi muda yang suka bercocok tanam agar kelompok tani ini ada yang meneruskannya.

 

Add Comment