Kelompok Tani Pandeyan Agro Permai, Garda Terdepan Penjaga Lahan Hijau Kota

Basori memberi makan ikan di kampung sayur. ILHAM LUTHFI HABIBI

Krisis pangan telah benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia. Hal ini ditandai dengan melonjaknya harga-harga pangan dunia seperti makanan pokok berupa gandum, kedelai, beras, dan jagung. Penurunan pasokan berdampak pada harga pangan di pasar dunia semakin melambung, sehingga mengakibatkan masyarakat miskin harus membayar lebih mahal dibandingkan orang kaya di negara maju.

Memantapkan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pembangunan, karena pangan merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi sumber daya manusia suatu bangsa.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Intinya, ketahanan pangan sangat penting untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi, dan beragam, serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Berbekal Peraturan Pemerintah tersebut, semestinya ketahanan pangan menjadi agenda penting bagi pemerintah bersama masyarakat untuk dilaksanakan. Apalagi banyak komoditas penting yang sampai saat ini masih harus impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Oleh karena itu, membangun kewaspadaan dan atau ketahanan pangan dari strata pemerintahan yang paling rendah yaitu desa atau kelurahan secara bertahap dan konsisten menjadi suatu keniscayaan untuk menjamin tegaknya kedaulatan pangan di tingkat desa atau rumah tangga.

Kelompok Tani Pandeyan Agro Permai terletak di Kalurahan Pandeyan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Kegiatan bertani di kelompok ini dimulai pada bulan Mei 2020. Banyaknya waktu luang saat pandemi Covid-19 dimanfaatkan bapak-bapak warga RW 12 Kelurahan Pandeyan untuk membuka lahan pertanian. Untuk jumlah anggota ada 33 orang, tapi yang aktif sekitar 20.

Awal pembukaan lahan dilakukan dengan pembersihan lahan oleh kelompok. Pembersihan lahan juga dimaksudkan untuk mengurangi populasi binatang buas seperti ular, dan mengurangi kemungkinan terbakarnya semak di lahan saat datangnya musim kemarau. Untuk membersihkan lahan ini dibutuhkan waktu sekitar dua bulan agar lahan bisa ditanami, karena lahan ini dulunya bekas pembuangan material dari gempa Yogyakarta, jadi tanah banyak mengandung pasir, kerikil, pecahan genting, dan kaca.

Luas lahan yang ditanami sudah mencapai 1300 meter persegi dengan ditanami berbagai jenis tanaman sayuran di antaranya ada terong, bayam, cabe, dan paria atau pare. Tidak hanya tanaman sayuran, yang ada di kebun ini, tapi juga ada tanaman pangan dan buah-buahan. Untuk tanaman pangan ada jagung, singkong, ubi, sedangkan tanaman buah ada pisang dan pepaya.

Perawatan tanaman yang ada di kampung sayur ini tanpa menggunakan pupuk bahan kimia. Maka dari itu tanaman yang dihasilkan oleh kelompok tani ini adalah organik. Kemudian mengenai pengairan kebun menggunakan sistem pengairan pipanisasi, yang dibagikan ke masing-masing tanaman menggunakan sumur bor.

Seperti yang sudah diketahui, bahwa kampung sayur ini bekas pembuangan material gempa, yang mengakibatkan tanah mengandung keramik, kaca, pecahan genting itu yang menjadi kendala dalam menanam sayuran di lahan ini. Selain itu juga ada kendala hama tikus yang setiap kali menyerang tanaman kelompok petani.

Kelompok tani yang terdiri dari 30 orang ini banyak melakukan aktivitasnya di pagi dan sore hari, biasanya pagi beraktivitas untuk memberi makan ikan dan sorenya untuk menyirami tumbuhan. Untuk biaya operasional kampung sayur seperti listrik, perawatan pipa air, dan yang lainnya,para anggota kelompok melakukan iuran sebesar Rp5.000 setiap bulannya.

Kelompok Tani Pandeyan Agro Permai tidak hanya membudidaya tanaman, tetapi juga melakukan budi daya jenis-jenis ikan dan melakukan ternak ayam dan bebek. Dulu sebenarnya pernah mencoba ternak kambing, tapi baru berjalan sebentar sudah berhenti, karena banyak warga protes atas bau yang menyengat dari kandang kambing tersebut. Jenis ikan yang diternak ada lele, nila, dan gurame, yang terbagi dalam kolam ikan berjumlah 10 kolam.

Manfaat adanya kampung sayur ini adalah menjadi sumber ketahanan pangan untuk warga, khususnya yang ikut bertanam atau ikut bergabung dalam kelompok, dan umumnya untuk warga RT 46 RW 12 Kalurahan Pandeyan. Hasil dari pertanian dan perikanan, selain dimanfaatkan oleh warga sekitar, oleh kelompok juga sudah dikerjasamakan dengan pihak lain dengan kerjasama yang saling menguntungkan.

Selain itu, di kampung sayur ini terdapat kolam pemancingan ikan lele yang terbuka untuk umum. Tempat pemancingan ini diberi nama Pemancingan Moro Seneng yang buka setiap hari. Paling rame dikunjungi biasanya pada akhir pekan, karena warga sekitar pada datang kebayakan untuk melepas penat setelah setiap hari bekerja. Untuk menambah kenikmatan dalam memancing, juga disediakan angkringan yang menjual berbagai macam minuman dan makanan ringan.

Besori selaku ketua kelompok tani mengungkapkan bahwa kampung sayur ini menjadi sentra penghijauan yang berada di tengah kota. Hal ini sangat penting karena wilayah hijau sekarang sangat sulit ditemui apalagi di daerah perkotaan. Harapan ke depannya, Basori menginginkan anggota kelompok tani lebih kompak dan solid dalam mengelola kampung sayur ini.

 

Add Comment