Ketangguhan Kelompok Tani di Tengah Pandemi

Kampung sayur gemah ripah. KAMPUNGSAYURBAUSASRAN

Di Kalurahan Bausasran, Kemantren Danurejan Kota Yogyakarta terdapat sebuah Kelompok Tani Dewasa (KTD) yang bernama KTD Gemah Ripah. Kelompok tani ini sudah berdiri sejak tahun 2009. Terbilang KTD Gemah Ripah sudah sangat lama berdiri dibanding dengan kelompok tani yang berada di sekitar Kota Yogyakarta. Kunci dari keberhasilan dari kelompok tani ini bisa survive yaitu kekompakan yang dilakukan oleh para anggotanya.

Jumlah anggota yang terdapat di kelompok tani sebanyak 30 orang. Semua anggota aktif untuk menghidupkan kampung sayur dan memperkuat ketahanan pangan apalagi di masa pandemi ini cukup berat untuk menghadapinya, harus bisa melakukan inovasi-inovasi agar kampung sayur ini tetap produktif dan minimal bisa memenuhi kebutuhan sayuran anggota kelompok tani.

Di masa pandemi sekarang ini, kelompok tani banyak melakukan inovasi, misalnya mengubah kebiasaan pemasaran melalui online, meskipun seorang petani, tetap harus bisa menyesuaikan dengan keadaan. Ada beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi yang waktu itu melakukan kunjungan dan memberi arahan bagaimana anggota kelompok dapat melakukan pemasaran online misalnya melalui Instagram, Youtube, dan Facebook. Meskipun banyak anggota yang sudah berkepala empat tapi harus bisa menyesuaikan dengan zaman.

Sebelum melakukan pemasaran online, anggota kelompok tani menyiapkan produk di kampung sayur misalnya produk hidroponik yaitu sawi, pakcoy, dan ada yang di polybag, dan ready setiap saat jadi kalau ada permintaan harus bisa memenuhi kebutuhan konsumen.

Kelompok tani membuat olahan produk dari tanaman yang ditanam di kampung sayur, misalnya ada pisang diolah menjadi keripik pisang dengan aneka rasa, ada juga inovasi olahan terong, seperti menjadi keripik terong, brownies terong, dan manisan terong.

KTD Gemah Ripah juga membuat budikdamber (budi daya ikan di dalam ember). Selain dijual secara langsung ikan lele juga diolah menjadi nugget lele sebelum dijual ke pasaran. Pemasaran sudah mulai berjalan dengan sistem online. Winaryati selaku sebagai ketua KTD Gemah Ripah berharap melalui pemasaran online ini bisa menambah pendapatan anggota Gemah Ripah.

Winaryati mengharapkan kampung sayur ini tidak hanya menanam dan jual beli, tetapi juga bisa sebagai wisata edukasi. Sebelum pandemi, banyak yang berkunjung ke kampung sayur, dari TK sampai Perguruan Tinggi semua pernah ke sini. Kehadiran dari pengunjung khususnya dari mahasiswa perguruan tinggi bisa diajak diskusi mengenai bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan benar agar berhasil dengan maksimal.

Setelah banyak masyarakat yang sudah melakukan vaksinasi, kampung sayur dapat dibuka kembali dan bisa melayani kunjungan-kunjungan se-Indonesia, dan di Kampung Bausasran semakin ijo royo-royo kemudian masyarakatnya semakin giat dalam menanam dan berproduksi. Tentunya agar bisa mengubah perekonomian yang terpuruk akibat pandemi.

Sejarah Kepemilikan Tanah

Lahan yang sekarang dimanfaatkan kelompok tani untuk budi daya sayuran dulunya adalah indekos tapi setelah ada gempa indekos tersebut runtuh dan rata dengan tanah. Setelah bangunannya runtuh kemudian lahan ini dibiarkan dan tumbuh tanaman liar atau semak-semak belukar.

Kemudian, Disem Syahlara yang mempunyai hak atas tanah ini mengungkapkan ada perwakilan dari kelompok tani yang meminta izin kepada dirinya untuk memanfaatkan lahan tersebut untuk kampung sayur. Dengan tidak keberatan, Disem Syahlara mengizinkan tanahnya dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif, asalkan lahan ini dibersihkan terlebih dahulu sebelum memakainya.

Sebetulnya lahan tersebut akan diwariskan kepada cucu Disem Syahlara, tapi berhubung cucunya masih semester lima yang saat ini belum membutuhkan tanah tersebut, jadi bisa dimanfaatkan menjadi kampung sayur terlebih dahulu sebelum nantinya diambil alih oleh sang cucu.

Pemanfaatan Lorong atau Gang Sempit sebagai Kebun Sayur

Lorong sayur sekarang banyak digemari di beberapa wilayah Indonesia. Salah satu kota yang intensif memperkenalkan lorong sayur ke warga sejak tahun 2019 adalah Kota Yogyakarta. Menurut Suyana selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, lorong sayur yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta terbukti sangat bermanfaat bagi warga di saat pandemi seperti sekarang ini. Hasil lorong sayur bisa dikonsumsi sendiri maupun dibagikan ke tetangga.

Tidak terkecuali KTD Gemah Ripah. Sebelum anggota kelompok tani melakukan budi daya sayuran di lahan milik Disem Syahlara, mereka sudah melakukan budi daya sayuran dengan memanfaatkan lorong atau gang sempit yang terdapat di wilayah Bausasran.

Karena KTD Gemah Ripah telah mengkondisikan wilayah Kampung Bausasran dengan tanaman sayuran, harapan ke depannya bisa menjadi kampung sayur yang berbasis ekowisata, tentunya di setiap gang atau lorong, setiap pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk budi daya tanaman oleh anggota kelompok atau masyarakat.

Banyak tanaman yang dibudidaya di gang atau pekarangan rumah, dari sayuran hingga buah-buahan. Untuk hasil panennya dapat dikonsumsi anggota kelompok dan masyarakat, tentunya lebih menyehatkan dan anggota kelompok bisa mandiri pangan, tidak harus datang ke pasar untuk memperolehnya, bisa langsung memetik sendiri di gang atau lorong sayur. Hal tersebut merupakan kelebihan urban farming yang KTD Gemah Ripah lakukan di kampung sayur Bausasran.