Lumbung Pangan Mataram Ngudi Mulyo, Jawaban atas Kebutuhan Pangan Masyarakat

Penangkaran Budi daya ikan lele Kelompok Tani Ngudi Mulyo. ILHAM LUTHFI HABIBI

Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting dan strategis, karena berdasarkan pengalaman di banyak negara menunjukan bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat melaksanakan pembangunan secara mantap sebelum mampu mewujudkan ketahanan pangan terlebih dahulu.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan mengatakan bahwa pemerintah bersama masyarakat mewujudkan ketahanan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang banyak dan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, maka upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan merupakan tantangan yang harus mendapatkan prioritas untuk kesejahteraan bangsa.

Meskipun Indonesia disebut-sebut sebagai negara agraris, akan tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan pangan. Bertambahnya penduduk bukan hanya menjadi satu-satunya pemicu yang menghambat untuk menuju ketahanan pangan nasional. Akan tetapi berkurangnya lahan pertanian yang dikonversi menjadi pemukiman dan lahan industri, telah menjadi ancaman dan tantangan tambahan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang pangan.

Di Kalurahan Suryodiningratan Kemantren Mantrijeron terdapat Kelompok Tani Ngudi Mulyo. Kelompok ini mengelola kampung sayur, yakni menanam berbagai sayuran sampai buah-buahan. Kelompok tani beranggotakan 29 anggota, tetapi yang aktif sekitar lima orang saja. Meskipun demikian tidak membuat patah semangat Kelompok Tani Ngudi Mulyo untuk membuat kampung sayur.

Warga mulai melakukan pemanfaatan lahan kosong (telantar) dan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman kebutuhan keluarga, seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, bahan tanaman rempah dan obat, serta bahan pangan hewani yang berasal dari unggas, ternak kecil, maupun ikan.

Tempat yang saat ini dijadikan lahan perkebunan merupakan lokasi pembuangan sampah sementara milik Kampung Pugeran. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak hanya warga setempat, warga dari luar Kampung Pugeran juga turut membuang sampah di tempat tersebut. Hal itu membuat gundukan sampah menggunung, dan warga setempat menjadi kewalahan menangani penataannya.

Oleh warga, tempat tersebut diputuskan ditutup, sebab sampah yang menggunung sudah tak terkontrol. Meskipun sudah ditutup, permasalahan yang dialami tak lantas terselesaikan begitu saja. Bau bekas sampah masih menyengat, serta rerumputan semakin rindang tak terkendali. Apalagi, ketika usai terkena air hujan, bau busuk semakin tajam, sedangkan saat musim kemarau menjadi panas dan gersang.

Warga bersepakat mengubah gunungan sampah dan semak belukar menjadi lahan hijau yang bisa ditanami dan bisa menghasilkan manfaat untuk warga sekitar pada umumnya dan pada pengurus kelompok tani pada umumnya.

Pada tahun 2020, kampung sayur ini mendapatkan program bantuan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta yaitu Lumbung Pangan Mataram. Hasil dari program ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian di kampung sayur, misalnya dengan adanya rumah pembibitan.

Untuk jenis-jenis budi daya tanaman di kampung sayur ini ada terong, cabai, tomat, kangkung, bayam dan masih banyak lagi. Tidak sayuran saja yang dibudidayakan di sini, tapi juga ada berbagai jenis buah-buahan, salah satunya adalah buah pisang. Untuk buah pisang ini ada berbagai jenis di antaranya pisang cavendish, pisang ambon, dan pisang kepok kuning.

Hasil panenya dijual ke warga sekitar, tentunya dengan harga di bawah harga pasar. Selain di jual ke warga sekitar, hasil panen ini di jual secara online dengan harapan bisa menjangkau lebih luas konsumen. Untuk hasil panen yang paling laku di pasaran yaitu buah pisang cavendish, bahkan buah pisang cavendish ini dibeli langsung oleh pihak Hypermart.

Hasil budi daya tersebut bisa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran, dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Kelompok tani yang diketuai oleh Muhammad Fathoni ini, di kampung sayurnya tidak hanya melakukan budi daya tanaman tetapi juga melakukan budi daya ikan. Jenis-jenis ikannya di antaranya ada ikan lele, ikan patin, dan ikan nila. Dari ketiga ikan itu yang paling cepat panen adalah ikan lele, sebab ikan lele hanya membutuhkan waktu panen tiga sampai empat bulan.

Waktu musim pandemi seperti ini, banyak warga yang datang ke kebun, karena selain melakukan jemur diri, para warga juga sekalian membersihkan kebun tersebut. Selain itu, waktu musim pandemi karena banyak yang isolasi mandiri, Fathoni mengajak kepada pengurusnya agar hasil dari panen dapat dibagikan kepada warga yang melakukan isolasi mandiri.

Fathoni mengungkapkan ke depannya kampung sayur ini bisa digunakan sebagai tempat edukasi untuk anak PAUD bahkan bisa sampai SMA, untuk bagaimana cara bertani yang baik dan benar. Selain itu, Fathoni mengharapkan agar kampung sayur ini bisa menjadi wisata kuliner dengan menu-menu tradisional.

Adanya Lumbung Pangan Mataram Ngudi Mulyo bisa menjadi jawaban atas kebutuhan pangan masyarakat luas dan bisa menjadi sendi ketahanan pangan nasional.

Ngudi Mulyo Berprestasi

Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan menetapkan Kelompok Tani Kota Ngudi Mulyo Pugeran, Suryodiningratan, Mantrijeron untuk mengikuti lomba Lumbung Mataraman Dana Keistimewaan 2021.

Dalam penunjukan ini sebuah kebanggaan yang diterima oleh Kelompok Tani Ngudi Mulyo sebagai kelompok tani yang diperlombakan di tingkat provinsi mewakili Kota Yogyakarta.

Dalam perlombaan ini , Kelompok Tani Ngudi Mulyo mendapatkan juara empat. Walaupun tidak bisa mendapatkan juara satu, pencapaian ini dapat diberi apresiasi kepada pengurus kelompok tani.

 

Add Comment