Manajemen BUMDes, Sebuah Pengelolaan Desa Mandiri

Pembinan dan Monitoring Perkembangan BUMDes se-Kapanewon Kasihan. KALURAHAN NGESTIHARJO

Sebagaimana yang termuat dalam penjelasan Undang-Undang Desa Pasal 87 ayat (1) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) BUMDes memiliki fungsi menggali dan memanfaatkan potensi usaha ekonomi desa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa. Salah satu peranan pokok BUMDes yaitu dengan mengolah bahan pokok.

Ada sebelas bahan pokok penting yang menjadi kebutuhan manusia, yakni: beras, telur, daging (sapi, ayam, kambing), ikan, gula, sayur mayur, minyak goreng dan mentega, susu, gas, bawang merah dan putih, garam. Dari sebelas bahan pokok tersebut ada enam bahan yang bisa dihasilkan oleh kebanyakan desa, seperti beras, telur, daging, ikan, sayur mayur, bawang merah dan putih.

Sedangkan lima sisanya perlu didatangkan dari luar, seperti: minyak goreng dan mentega, susu, gas, gula, dan garam. Namun, dari sebelas bahan tersebut adakah yang sulit pengadaannya? Tentu saja tidak. Semua bahan pokok tersebut mampu diproduksi dan menghasilkan pemasukan tanpa harus bersusah payah memasarkannya, karena pasarnya sudah pasti, yaitu masyarakat desa itu sendiri atau masyarakat di sekitar desa.

Cara ini adalah cara termudah untuk memulai program BUMDes dalam mengoptimalkan potensi untuk menjadi desa yang mandiri. Namun pada kenyataanya sampai hari ini masih banyak desa yang menjalankan program BUMDes tanpa melibatkan masyarakat. Lebih dari itu, banyak desa yang program BUMDes-nya tidak diurusi oleh tenaga ahli dan kompeten, sekelas direktur yang bergaji.

Pertanian Jadi Program Utama BUMDes

Banyak desa-desa kesulitan menjalankan program BUMDes-nya terlebih jika desa tersebut tidak ada kawasan wisata atau aksesnya yang sulit untuk wisatawan. Jalan satu-satunya adalah program padat karya seperti perbaikan jalan, talud, bahkan membangun fasilitas yang tidak diperlukan masyarakat, semata hanya agar dana BUMDes tetap cair. Inilah kesalahan yang terus dilakukan baik oleh pemerintah pusat bahkan sampai di desa, istilahnya rezim anggaran habis. Meski tidak tahu apakah penggunaan anggaran tersebut tepat sasaran atau tidak.

Mengetahui dan melihat potensi yang dimiliki oleh desa itu sangat penting bagi kepala desa, bukan hanya melihat potensi uang yang didapat tatkala menjabat. Kepala desa hendaknya menjadi panutan bagi warganya karena ide-ide besarnya serta intuisinya memanfaatkan potensi sekaligus menjadi penggerak bagi desanya.

Apabila sebuah desa sudah berdikari dan terpenuhi semua fasilitas, sebenarnya sudah tidak layak lagi seseorang menjadi kepala desa, di sini dibutuhkan generasi muda yang mampu dan mau berpikir melampaui batas istilahnya out of the box.

Mengelola apa yang sudah ada dan biasa dilakukan merupakan hal yang paling mungkin diterapkan, guna meminimalkan kerugian. Saat semua fasilitas desa sudah terpenuhi dan meningkatkan pendapatan ekonomi daerah, setidaknya 10 persen saja, hal ini menjadi modal desa untuk bergerak ke arah lain yang lebih menantang. Namun juga perlu diperhatikan, harus dalam batas kemampuan untuk ditangani jika terjadi kesalahan.

Balik ke bahan pokok, beras merupakan produk yang ada di setiap penjuru desa, hampir setiap desa mengembangkan budidaya padi. Namun demikian, tidak semua padi yang ditanam adalah untuk dijual, tetapi lebih untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, alasannya bisa karena luas sawahnya hanya sedikit.

Nah, petani-petani kecil inilah yang perlu dipikirkan untuk diberikan lahan sewa yang ditanggung BUMDes, agar kehidupannya jadi meningkat. Inilah adalah cara yang bisa dilakukan dengan risiko yang rendah dan bagian tugas BUMDes untuk kebermanfaatan lebih banyak. Ini adalah contoh sederhana di mana ada petani cukup ahli dalam bidangnya yang bisa menjadi konsultan, artinya bisa dilakukan semua secara mandiri.

Pertumbuhan ekonomi berdasarkan budaya lokal ini jarang sekali dikembangkan. Desa lebih senang melakukan usaha-usaha dengan upaya yang belum diketahui, bahkan desa lebih senang melakukan hal-hal prestise tanpa melihat manfaatnya bagi warga setempat.

Seharusnya desa tidak perlu berpikir keras untuk melakukan hal-hal di luar kemampuannya dengan risiko yang besar. Sederhana, hal ini karena untuk mendapatkan SDM mumpuni di desa tidaklah mudah, apalagi SDM yang mumpuni dan mau. Inilah kesulitan utama di desa, ketiadaan SDM yang mumpuni dan mau melaksanakan program desa. Hanya struktur desa saja yang bekerja, sehingga terkesan dana desa hanya digunakan oleh kepala desa dan perangkatnya.

Sementara untuk telur adalah hal yang tidak terpisahkan dari masyarakat bahkan jauh sebelum budaya konsumsi telur ayam broiler menjadi budaya masyarakat. Masyarakat desa lebih dulu mengenal telur ayam kampung sebagai lauk meski saat ini telah bergeser budaya konsumsinya. Masyarakat lebih senang dengan telur ayam broiler karena lebih besar daripada telur ayam kampung yang berukuran lebih kecil.

Akan tetapi, esensi keduanya adalah sama, budaya masyarakat desa adalah memelihara ayam baik dimanfaatkan telurnya maupun dagingnya. BUMDes bisa menjadi solusi untuk pengadaan telur mandiri, terlebih di tengah kesulitan para produsen telur terkait harga yang kadang tidak menguntungkan di pasaran.

Dengan memberi bantuan terkait pemeliharaan yang benar terhadap budidaya ayam petelur maupun pedaging maka program BUMDes akan terlaksana. Ingat, bahwa BUMDes tidak sekadar mencari profit atau keuntungan semata, namun juga benefit yang bisa diterima oleh masyarakat.

Dalam mengembangkan peternakan ayam baik skala untuk konsumsi sendiri ataupun skala untuk dijual kepada masyarakat juga berdampak pada sektor pertanian jagung dan padi. Ayam membutuhkan jagung dan dedak ataupun bekatul sebagai pakannya sehari-hari, artinya akan terjadi simbiosis mutualisme antara para petani dan peternak di desa tersebut. Dengan demikian, putaran ekonomi berlangsung. Hal ini juga akan terjadi demikian di sektor pertanian, ini akan saling kait terkait antara satu dengan lainnya.

Semua hal di atas adalah contoh mengembangakan produk yang sudah ada di dalam masyarakat sendiri. Lalu bagaimana dengan produk yang dibutuhkan masyarakat namun tidak bisa diproduksi sendiri? Untuk menghadirkan produk dari luar untuk masyarakat, kehadiran BUMDes sangatlah urgen karena di sinilah kekuatan BUMDes sebagai pemasar andal dibutuhkan. BUMDes harus berperan aktif mengambil inisiatif sebagai ‘distributor’ di desa, sebab BUMDes punya kemampuan akan hal itu.

Kita ambil contoh kebutuhan akan gas. Apakah ada masyarakat di desa yang tidak membutuhkan gas saat ini? Sangat kecil sekali atau bisa dibilang tidak ada yang tidak membutuhkan gas sebagai bahan bakar dapur mereka. Sekarang ini gas menjadi kebutuhan pokok masyarakat. BUMDes dapat menyediakan gas namun harus bijaksana sebagai distributor karena kemungkinan di desa telah ada masyarakat yang menjual gas sebelumnya.

Artinya, BUMDes harus menjual dengan harga yang sama dengan harga jual distributor di masyarakat. Hal sama dilakukan juga pada produk lainnya seperti minyak goreng, mentega, susu, gula dan garam, sehingga BUMDes pun mendapatkan profit sekaligus benefit.

Add Comment