Memahami dan Memanfaatkan Konsep Segitiga Penyakit Tanaman

Penyakit busuk daun Phytophtora sp. dan Phytium sp. pada Anggrek Kuku Macan. IMAM NURWAHID

Tatkala membicarakan penyebab penyakit tanaman. Pertanyaan yang langsung muncul di benak adalah ‘Apa ya, obat yang dapat segera menyembuhkan penyakit tanaman-tanaman ini?’ atau ‘Adakah cara efektif nan murah untuk mengatasi penyakit tanaman?’

Hal seperti itu lumrah karena kecintaan mereka terhadap tanamannya, ada rasa sayang yang mengikat hati. Namun demikian, di antara sekian banyak pecinta tanaman, tidak banyak juga yang mengerti betapa rumitnya ketika harus berbicara tentang penyakit tanaman tersebut dan bagaimana cara menanggulanginya. Meskipun semua itu juga bisa menjadi sederhana apabila kita punya ikatan rasa sayang terhadap tanaman kita.

Akan menjadi keniscayaan tatkala ada ikatan rasa sayang tersebut kemudian membuat seorang pecinta tanaman dengan rajin dan detail mempelajari sebab musababnya sehingga kelak pada waktunya tanaman kesayangannya akan tumbuh lebih indah dan membahagiakan hatinya. Nah, untuk itu mari kita bahas.

Konsep Segitiga Penyakit Tanaman

Kalau saya boleh ingatkan lagi, bahwa ketika kita berbicara tentang tanaman, maka kita tidak akan bisa terlepas dari beberapa kondisi yang sangat dibutuhkan oleh tanaman agar bisa tumbuh dengan bagus dan bermanfaat, secara ekonomi maupun non ekonomi.

Lalu kondisi seperti apa? Untuk bisa tumbuh dengan optimal, maka ada beberapa hal yang berpengaruh terhadap tanaman yaitu, jenis atau kultivar tanaman itu sendiri, tanah tempat tumbuh dan kandungan haranya, kualitas air, udara sebagai sumber oksigen, curah hujan, kelembapan, sinar matahari dan juga tentu saja organisme lain yang berinteraksi dengan tanaman tersebut.

Kalau boleh saya ringkas maka hal-hal atau kondisi tersebut dapat dibagi dalam tiga unsur yaitu, tanaman, lingkungan tempat tumbuh, organisme lain. Mari, sekarang kita bahas saja satu persatu tiga hal tersebut, apa saja hubungan dan kaitannya dengan penyakit tanaman yang sedang kita bicarakan dari awal.

Pertama, Tanaman. Setiap tanaman tentu mempunyai karakteristik dan kebutuhan yang berlainan antara satu dengan yang lainnya. Tanaman yang berasal dari dataran tinggi misalnya, tentu sudah sangat menyesuaikan dengan habitat atau tempat tumbuh alaminya di dataran tinggi seperti kondisi tanah, suhu, kelembapan udaranya, dan sebagainya.

Saat kita pindahkan tanaman ini di dataran rendah, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, tanaman mati karena habitat yang tidak sesuai atau kemungkinan yang kedua tanaman tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, tetap tumbuh tetapi tidak optimal pertumbuhan dan hasilnya.

Begitu pula sebaliknya seandainya tanaman dari dataran rendah, dari daerah gurun yang panas kemudian dipindahkan dan dibudidayakan di daerah yang berbeda dengan habitat aslinya. Tanaman pasti juga tidak dapat optimal pertumbuhan dan perkembangannya, kecuali kita dapat merekayasa habitat yang baru menyerupai atau mendekati kondisi habitat aslinya.

Satu hal saya catat pada era digital saat ini, di tengah perdagangan tanaman menjadi begitu masifnya, kemudian banyak terjadi euforia penjualan dan pembelian tanaman impor yang menurut saya belum tentu pas dan cocok dengan kondisi geografis negara kita. Banyak pecinta tanaman yang terbuai dengan tampilan visual dari konten media sosial yang begitu memanjakan mata dan imajinasi pecinta tanaman. Hem, kasihan mereka ya.

Kedua, lingkungan tempat tumbuh. Lingkungan untuk tempat tumbuh tanaman yang tepat adalah kondisi tanah beserta kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut. Sinar matahari yang cukup sesuai dengan kebutuhan jenis tanamannya, udara dan tingkat kelembapannya (relative humidity) serta sumber airnya. Kondisi lingkungan yang tidak sesuai tentu justru akan membuat tanaman menjadi tidak optimal dan bahkan tidak jarang tanaman menjadi stres dan akhirnya merana.

Dalam beberapa kasus, kondisi lingkungan (cuaca atau iklim) terkadang juga berubah sangat ekstrem, sehingga membuat tanaman sakit. Ada beberapa penyakit tanaman yang disebabkan karena kondisi ekstrem, misalnya saja cuaca yang sangat panas membuat tanaman daunnya menjadi terbakar, layu, dan kering.

Atau bisa juga karena suhu udara yang sangat dingin sehingga membuat sel-sel organ tanaman menjadi membeku (freezed). Gejala penyakit tanaman karena kerusakan fisik semacam ini dikategorikan sebagai penyakit nonpatogenisitas (panas, terbakar, beku, dan sebagainya).

Ketiga, organisme lain yang berinteraksi. Di lingkunganya, tanaman berdampingan dengan organisme tidak hanya sesama tanaman. Hewan, serangga, kutu, maupun organisme lainnya seperti bakteri, jamur (fungi), nematoda juga saling berdampingan. Interaksi antara tanaman dengan organisme lain ini bisa saja menjadi sebuah interaksi mutualisme, namun bisa saja menjadi interaksi parasitisme.

Dalam kasus interaksi antara tanaman dengan tanaman, apabila merugikan disebut sebagai gulma. Semisal pada tanaman padi yang banyak ditumbuhi pula oleh rumput teki atau ilalang, maka rumput dan ilalang tersebut merugikan karena selain terjadi persaingan perebutan unsur hara, maka ilalang mengeluarkan zat yang bersifat autotoksik yang disebut alelopati. Alelopati juga terjadi pada tanaman jahe dan nilam.

Begitu pula dengan mikroorganisme yang ada di lingkungan sekitar tanaman, punya hubungan yang hampir sama, ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan. Banyak di antara jamur-jamur yang menguntungkan tanaman, tetapi banyak pula yang bersifat patogenik terhadap tanaman. Banyak pula bakteri dan virus juga bersifat patogenik dan merugikan pertanaman.

Yang menarik dari ketiga unsur tersebut adalah ketika interaksi ini bersifat patogenik merugikan, maka antara tanaman sebagai inang utama, patogen penyebab penyakit dan lingkungan ternyata selalu ada kaitan yang dapat menyebabkan ringan dan beratnya tingkat serangan penyakit.

Hal itu disebabkan karena patogen penyebab penyakit hanya akan dapat menyerang, berkembang, dan bertahan dalam tanaman yang sesuai dan dengan kondisi lingkungannya. Fenomena inilah yang kemudian dikembangkan sebagai konsep segitiga penyakit (disease triangle).

Dari konsep segitiga penyakit ini dapat kita artikan bahwa penyakit tanaman itu hanya akan muncul dan tampak apabila ketiga unsur ada dan saling berinteraksi secara bersamaan. Apabila salah satu unsur saja tidak ada interaksi, maka tidak akan timbul yang namanya penyakit tanaman.

Sebagai ilustrasi misalnya pada tanaman Anggrek Bulan (Phalaenopsis sp.) yang memerlukan intensitas matahari 60 persen dan kelembapan sedang, dengan perawatan intensif akan dapat tumbuh dengan optimal. Namun apabila di saat perawatan khususnya penyiraman terlalu banyak air, maka akan mengakibatkan kelembapan di lingkungan tanaman tersebut meningkat.

Secara alamiah, tanaman anggrek hanya memerlukan kelembapan cukup saja, tidak sampai terjadi adanya genangan air. Apabila di media tanam terdapat struktur tahan dari jamur yang menempel atau tertaut, misalnya saja Sclerotium sp., maka peningkatan kelembapan ini kemudian akan memicu struktur tahan dari jamur Sclerotium sp. yang berbentuk bola-bola kecil berwarna putih coklat untuk berkecambah dan berkembang cepat.

Jamur akan melakukan penetrasi pada tanaman dan kemudian menyebabkan busuk pada ujung tumbuh anggrek, bulb (batang semu) dan juga perakaran. Atau bisa juga apabila terdapat genangan air pada daun anggrek tersebut.

Maka, apabila terdapat bakteri Erwinia sp di daun tersebut, dengan cepat bakteri berkembang dan melakukan penetrasi ke daun, akibatnya daun akan mengalami busuk basah yang dengan cepat menyebar ke seluruh daun dan lebih luas lagi.

Harus kita pahami pula bahwa patogen tidak hanya menyerang satu jenis tanaman inang saja, tetapi ada juga tanaman inang alternatif yaitu tanaman lain yang dapat diserang sebagai tempat hidup dan berkembangnya patogen. Sclerotium sp, dapat menyerang dan berkembang hampir di semua jenis anggrek.

Selain inang alternatif, maka interaksi dengan vektor (hewan pembawa patogen) juga mempunyai peran yang sangat penting untuk penyebaran penyakit tanaman. Beberapa jenis virus biasanya bisa cepat menyebar karena peran vektor.

Pada kasus serangan hama Wereng Hijau pada tanaman padi, maka kerusakan akan menjadi lebih parah lagi karena hama Wereng ini membawa serta virus Tungro yang pada akhirnya terjadi serangan yang komplek antara hama dan penyakit.

Begitu pula pada serangan serangga, hama, kutu daun ‘Aphids’. Serangga ini membawa serta virus keriting yang dengan cepat menyebar pada tanaman cabai, tomat, dan beberapa jenis tanaman dari keluarga Solanaceae.

Ada kalanya, serangan hama dan penyakit pada tanaman menjadi berantai dan kompleks karena adanya vektor tersebut. Contoh yang paling banyak terjadi dan sering dikeluhkan adalah pada kasus serangan hama kutu putih dan Aphids.

Pada awalnya serangga hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan tanaman di ujung tumbuhan yang masih muda. Seperti saya ceritakan di atas, bahwa Aphids membawa serta virus yang kemudian melakukan penetrasi ke dalam tanaman dan berkembang.

Di saat Aphids mengeluarkan ekskresi atau membuang kotoran, maka ekskresi dari Aphids ini mengandung zat manis semacam madu yang sangat disenangi oleh semut. Itu sebabnya sering terdapat banyak semut pada tanaman yang diserang Aphids.

Saat semut ini berkeliaran, maka kakinya atau bagian tubuhnya membawa serta jamur jelaga. Ada dua jenis jamur penyebab penyakit embun jelaga yang dikenal yaitu Capnodium sp. dan Meliola sp. Inilah yang kemudian membuat tanaman kesayangan Anda daunnya ditumbuhi jamur berwarna hitam yang menutupi hampir seluruh permukaan daun.

Mengendalikan Penyakit Tanaman dengan Segitiga Penyakit

Kembali kepada permasalahan di awal pembicaraan, yaitu bagaimana cara efektif nan murah untuk mengendalikan penyakit tanaman. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan konsep segitiga penyakit tanaman ini.

Sebagaimana telah saya perbincangkan di atas, bahwa penyakit tanaman tidak akan muncul dan tampak apabila salah satu unsur dari faktor pendukung penyakit tanaman tersebut tidak ada atau tidak terpenuhi. Apalagi kalau kemudian kita juga berpikir secara ekonomis dengan menggunakan bahan obat-obatan non hayati tentulah memerlukan tambahan biaya, belum lagi tentang efek residu racunnya.

Dengan memanfaatkan konsep ini maka kita gunakan cara pencegahan (preventif) dengan meminimalkan kondisi-kondisi yang memicu atau memberikan kesempatan bagi patogen penyebab penyakit untuk tumbuh dan berkembang. Bukankah pencegahan itu lebih baik daripada melakukan penyembuhan (kuratif)?

Nah, dengan memanfaatkan konsep tersebut, maka kita tinggal mengelola saja ke tiga unsur penyebab penyakit tersebut. Berikut adalah beberapa tips cara pengelolaan untuk mencegah timbulnya penyakit tanaman.

Pertama, pemilihan tanaman yang tepat. Budidayakan tanaman dengan varietas yang baik dan tahan terhadap penyakit. Apabila memang tidak menemukan tanaman dengan jenis dimaksud, maka setidaknya lakukan budidaya tanaman pada musim tanam yang tepat. Lakukan pemupukan secara seimbang agar tanaman tumbuh optimal.

Kedua, siapkan media tanam dan apabila diperlukan lakukan perlakuan khusus untuk memastikan patogen penyebab penyakit yang mungkin terikut dalam media tanam.

Ketiga, jauhkan jarak tanam agar ada ruang sehingga mengurangi kontak langsung antar tanaman yang memungkinkan penularan penyakit karena tanaman yang bersinggungan. Jarak tanam juga akan berpengaruh pada aliran udara dan kelembapannya.

Keempat, lakukan penyiraman dengan tepat sesuai kebutuhan tanaman. Penyiraman yang berlebihan akan membuat kelembapan udara meningkat yang akan dapat memberikan kesempatan bagi pathogen untuk berkecambah, tumbuh dan berkembang.

Kelima, hilangkan dan bersihkan gulma dan tanaman lain yang memang tidak dibudidayakan karena bisa saja tanaman tersebut dapat menjadi inang alternatif atau inang perantara bagi patogen penyebab penyakit.

Keenam, segera potong bagian tanaman yang menunjukkan gejala sakit (becak, busuk, layu dan sebagainya) dengan alat yang sudah disterilkan dengan alkohol atau cairan sterilisasi lainnya. Sebaiknya potongan bagian tanaman tersebut dibakar atau dikubur dalam tanah agar patogen dapat lenyap.

Ketujuh, lakukan sanitasi lingkungan. Bersihkan secara berkala area pertanaman dari sampah, daun kering, atau bagian tanaman lain yang rontok untuk mengurangi sumber penyakit.

Kedelapan, kendalikan serangga, semut, siput, dan hewan lain di sekitar pertanaman karena hewan-hewan tersebut dapat menjadi vektor pembawa patogen penyebab penyakit. Apabila diperlukan gunakan juga perangkap serangga atau hama.

Kesembilan, atur pencahayaan sinar matahari sesuai kebutuhan tanaman, kelembapan udara dan curah hujan yang secara langsung mengenai tanaman.

Kesepuluh, karantina dan pisahkan tanaman yang sudah terserang penyakit agar tidak menular kepada tanaman yang masih sehat.

Terakhir, gunakan pestisida, fungisida, dan lain-lain secara tepat sesuai dengan rekomendasi untuk menghindarkan terjadinya resistensi penyakit terhadap pestisida tersebut.

Sesungguhnya, di saat tanaman sudah menunjukkan adanya gejala penyakit, berarti sudah terlambat. Patogen sudah melalui proses inkubasi mulai dari perkecambahan, penetrasi ke dalam jaringan tanaman, berkembang dan menyebar dan bahkan sudah membentuk badan buah serta memproduksi spora untuk kemudian terlihat gejala penyakitnya. Terlambat, karena patogen sudah menjalar kemana-mana dan lebih sulit untuk mengatasinya.

Pada akhirnya, keindahan dan kemanfaatan tanaman yang kita budidayakan sebenarnya sangat tergantung pada kecintaan dan keikhlasan kita untuk selalu memperhatikan dan merawatnya dari waktu ke waktu sehingga setiap perubahan dan timbulnya gejala sakit pada tanaman kita segera dapat mengetahuinya.

Add Comment