Mengenal Asal-usul Kampung Glugo

Makam Kyai Citropati dan Nyai Citropati. PURWANTI RAMIYATUN.

Jalanan di Kampung Glugo pada siang hari terasa lengang. Sebagian besar rumah yang saling menempel dan nyaris tanpa halaman tampak tertutup. Hanya beberapa rumah yang terbuka. Biasanya, mereka membuka usaha rumahan seperti warung kelontong. Bunyi gergaji terdengar di beberapa titik yang disebabkan pukulan alat-alat pertukangan dari usaha mebel warga. Itu pun tidak menimbulkan kebisingan.

Keadaan sunyi itu sungguh berkebalikan dengan sisi selatan Glugo yang berbatasan dengan Ring Road. Jalanan begitu ramai dan bising. Deretan ruko dengan berbagai usaha tampak begitu ‘hidup’. Sebuah rumah sakit swasta, hotel, dan rumah susun berdiri kokoh. Perguruan tinggi Akademi Teknologi Kulit (ATK) juga tampak ramai dengan aktivitas mahasiswa. Demikian pula sebuah rumah usaha gigi palsu. Tukang gigi legendaris ini tak pernah sepi dari kunjungan pasien.

Kampung Glugo adalah salah satu kampung di wilayah Desa Panggungharjo yang terletak di Pedukuhan Glugo. Wilayahnya membentang dari barat Jalan Parangtritis hingga timur perempatan Dongkelan di Jalan Bantul. Sisi utaranya berbatasan dengan Dusun Krapyak Kulon dan Krapyak Wetan yang merupakan ujung utara Desa Panggungharjo. Pedukuhan Glugo terdiri dari empat kampung, yaitu Janganan, Sorowajan, Tegal, dan Glugo.

Sekitar enam ratus orang yang merupakan penduduk asli dan pendatang saat ini menempati Glugo. Jumlah tersebut belum termasuk penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Mereka tersebar di dua RT, yaitu RT 6 dan RT 7. Sebelumnya, Glugo terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Glugo Kulon, Glugo Wetan, dan Glugo Baru. Namun, sejak konsep RW dihapus di Bantul pada 2001, Glugo Wetan dan Glugo Baru disatukan menjadi RT 7 sementara Glugo Kulon menjadi RT 6.

Saat ini, proses urbanisasi fisiko-spasial tengah terjadi di wilayah ini. Hal tersebut ditengarai menjadi ciri perubahan karakteristik penggunaan lahan dan peruntukan bangunan. Lahan pertanian di pedukuhan ini tinggal tiga petak. Tidak ada lagi kelompok tani yang mengolah lahan pertanian (Fitrianatsany, 2017).

Lahan pertanian juga telah berubah menjadi pemukiman dan bangunan publik, seperti rusunawa, kampus, rumah sakit, dan hotel. Berbagai infrastruktur tersebut mengundang banyak orang berpindah ke dusun ini. Mereka memilih tinggal di Glugo karena ingin dekat dengan tempat bekerja, tempat belajar, maupun aktivitas sosial lainnya. Fenomena ini membentuk urban sprawl yang mengubah wajah kampung menjadi kekotaan.

Meski tampilan Glugo mengarah pada karakter-karakter kekotaan, kultur ‘kebersamaan’ yang menjadi salah satu nilai khas masyarakat pedesaan masih kental di kampung ini.

“Gotong-royong selapanan (selamatan 35 hari) dan ronda masih gayeng,” tutur seorang warga asli Glugo.

Tidak ada istilah meri (iri) di kelompok ronda ketika salah seorang warga absen. Mereka mafhum jika terkadang seseorang memiliki urusan-urusannya sendiri yang harus segera diselesaikan. Ketidakhadiran seseorang di satu kelompok ronda tak pernah mengendurkan semangat warga lain.

Anggota ronda tidak pernah berkurang apalagi vakum seperti yang sering terjadi di banyak tempat lain. Uang jimpitan (iuran sukarela) hasil ronda pun dikembalikan ke kelompok, meski sebelumnya disetor ke pengurus RT.

Setiap tahun selalu diadakan evaluasi dan pengembalian uang hasil jimpitan pada masing-masing kelompok. Uang ini biasanya digunakan untuk kegiatan sosial, seperti santunan anggota kelompok yang sakit dan semacamnya.

“Lebih dari tiga puluh tahun saya tinggal di sini—ya, begini-begini saja warga sini. Enggak ada perubahan budaya atau kebiasaan warga yang mencolok. Hanya pemukiman yang makin padat dan tanah yang makin habis. Dari dulu, warga juga bekerja sebagai buruh. Cuma, kalau dulu buruh tani, sekarang buruh serabutan,” demikian gambaran keadaan kampung ini menurut seorang warga.

Asal-usul Kampung Glugo

Mencari tahu asal-usul Glugo bukan perkara mudah. Menurut beberapa survei dan blusukan yang saya lakukan, saya tidak menemukan situs atau bangunan bersejarah di kampung ini. Wilayah yang mencakup dua RT ini hanya diisi pemukiman dan beberapa ruang usaha penduduk. Keterbatasan tidak hanya seputar lahan dan ruang, namun juga menyangkut kegiatan sosial, budaya, dan kesenian. Itu pun mengarah pada seni keagamaan yang sudah berpadu dengan budaya modern.

Salah satu warga yang masih menghidupkan seni budaya masa lalu adalah Pak Sugiman. Lelaki berusia tujuh puluh tahun ini adalah warga asli Glugo. Melalui beliau, saya mendapat sedikit informasi mengenai sejarah Glugo.

“Glugo itu nama yang unik,” begitu penjelasan penjelasan awal darinya.

Tak ada nama kampung yang menyamai Glugo. Berbeda dengan Krapyak, Tegal, atau Janganan. Banyak nama kampung seperti itu di kota lain. Menurutnya, Glugo tidak memiliki arti khusus. Saya kemudian menelusuri kata Glugo di KBBI serta mesin pencarian di internet, namun tidak menemukan apapun. Ucapan Sugiman betul. Tidak ada kata Glugo di KBBI atau internet.

Nama Glugo berasal dari kata Galugo. Penghuni pertama kampung ini adalah Kiai Galugo. Ia berasal dari Majapahit. Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Majapahit (1293-1500) adalah kerajaan Hindu terbesar di Indonesia. Pusat pemerintahan kerajaan ini berada di Jawa Timur.

Islam pertama kali masuk ke Jawa timur pada abad ke-11, dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun di Gresik bertahun 1082, serta sejumlah makam Islam di Kompleks Makam Majapahit.

Pada masa tersebut, Kiai Galugo telah memeluk agama Islam. Perbedaan keyakinan dengan kebanyakan orang Majapahit membuatnya memilih meninggalkan kerajaan dan mengembara. Sampailah ia di wilayah Bantul, tepatnya di daerah yang saat ini dikenal sebagai Glugo. Ia memutuskan untuk tinggal di sana, berkeluarga, beranak-pinak, hingga meninggal di kampung ini.

Apakah Kiai Galugo seorang pangeran atau bangsawan dari Kerajaan Majapahit? Sugiman tak dapat memastikannya. Menurutnya, Galugo bukan nama bangsawan. Kemungkinan besar, ia warga biasa atau sebatas prajurit kerajaan. Kiai Galugo juga dikenal dengan nama lain, yaitu Kiai Citropati. Bisa jadi, ia seorang prajurit yang sudah pensiun. Jiwa seseorang biasanya mulai ‘menep’ di masa seperti itu sehingga mampu meluangkan waktu untuk merenung, serta memikirkan kehidupan dan hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam perenungan dan laku keseharian inilah Kiai Galugo memeluk Islam dan memilih tempat baru untuk ditinggali. Demikian asumsi narasumber yang saya temui.

Pergeseran kata Galugo menjadi Glugo terpengaruh kecenderungan seseorang untuk melafalkan kata yang mudah. “Orang biasa mengucapkan kata yang mudah saja. Seperti kampung Prawirotaman, sering disebut Perotaman.”

Selain itu, kata yang menunjuk tempat biasanya ditambahi awalan ‘n’ atau ‘ng’. Seperti kata ‘jaran’ menjadi ‘Jaranan’, ‘drowo’ menjadi ‘Ndruwo’, dan semacamnya. Demikian penegasan lelaki tujuh puluh tahun ini yang menjadi penutup wawancara kami.

Antara Ada dan Tiada

Terdapat makam Kiai Citropati di Kampung Glugo. Makamnya berada di area pemakaman umum, berjejer dengan makam juru kunci pertama. Ini merupakan pemakaman umum bagi warga di pedukuhan Glugo. Keberadaan makam kiai pendiri kampung ini, tak banyak orang mengetahui. Sebagian warga asli yang lahir dan tumbuh di kampung ini tidak sekalipun mengetahuinya.

Tak ada orang yang secara khusus menziarahi makam tersebut. Pengunjungnya hanya kalangan juru kunci makam. Merekalah yang secara khusus menziarahi dan merawat makam ini. Namun, sejak setahun lalu saat juru kunci pemakaman ini meninggal, makam Kiai Citropati kemudian dikelola kampung. Tanpa kehadiran juru kunci, tak ada lagi yang merawat makam ini.

Meski demikian, bagi para sesepuh kampung, penghormatan pada Kiai Citropati terus berlanjut. Hingga saat ini, pada setiap kegiatan tahlilan, doa, dan acara-acara tertentu yang dipimpin Mbah Kaum, mereka bertawasul (mengirim doa) untuk Kiai Citropati. Sayangnya, masyarakat yang mengikuti tahlilan tidak memperhatikan siapa saja yang mereka doakan. Mereka hanya tahu bahwa ritual doa dilakukan sesuai hajat empu acara, sekaligus mengirim doa pada leluhur. Tetapi, leluhur yang mana? Tidak banyak yang memperhatikannya secara serius.

Sejarah Kiai Citropati dan makamnya tentu saja akan hilang apabila tidak kita tulis. Kisah-kisah masa lalu yang diwariskan lewat budaya tutur akan semakin pudar seiring berpulangnya para sesepuh. Saya berharap, upaya mengais kisah Glugo yang terserak ini menjadi langkah kecil untuk melestarikan sejarah budaya kita. Semoga.

Bahan Bacaan

Wikipedia.org

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Sosial Fitrianatsany, 2017, “Urban Desa Proses Transisi Desa Menjadi Kota Studi Kasus di Desa Panggungharjo Sewon Bantul”, Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama dan Perubahan , Vol 11, No2, Juli – Desember 2017.

Add Comment