Pandemi dan Ancaman Ketimpangan di Balik Pemulihan Ekonomi

Ilustrasi ketimpangan di kala pandemi. FTCOM

Ekonom biasanya menjadikan Gini sebagai salah satu patokan. Mereka menyebutnya Rasio Gini atau Gini Ratio. Ini adalah ukuran untuk mengukur kesenjangan pendapatan atau kesenjangan kemakmuran. Disebut Gini, karena yang memformulasikan pertama kali namanya Gini. Lengkapnya Corrado Gini, seorang ahli statistik sekaligus sosiolog asal Italia.

Kalau bicara tentang kesenjangan pendapatan atau kemakmuran, kita sedang membayangkan seperti jungkat-jungkit. Jika ujung kiri dan ujung kanan adalah kelompok yang paling kaya dan sebelah kiri adalah yang paling miskin, Rasio Gini dianggap ideal jika antara yang kanan dan yang kiri seimbang. Itu nilainya nol.

Jika yang kaya ada di puncak, sedangkan yang paling kere ada di paling dasar, nilainya satu. Jadi, makin mendekati angka satu, makin timpanglah suatu masyarakat.

Nah, gara-gara Covid-19 berkepanjangan, ekonomi dunia hancur lebur. Sudah hampir dua tahun, namun negara yang berhasil membalikkan kondisi ekonomi tidak banyak. China salah satunya. Vietnam salah duanya. Yang lainnya masih terus berjuang.

Di dalam masing-masing negara, kesenjangan kaya dan miskin juga membayang-bayangi. Persis syair lagu dangdut, “Yang kaya makin kaya, yang misqueen makin misqueen.”

Dalam upaya pemulihan ekonomi ini, karena banyak bangsa berlomba-lomba membalik keadaan, ekonomi dunia tahun ini berpotensi mencapai persentase pertumbuhan tercepat dalam setengah abad terakhir. Ini kita bicara persentase. Jadi, negara yang misalnya kemarin posisinya minus 5 persen misalnya, lalu sekarang jadi plus 2 persen, maka ia tumbuh 7 persen.

Memang masih ada masalah di sana-sini untuk mengembalikan ekonomi kembali ke level sebelum pandemi dalam waktu cepat. Amerika Serikat di bawah Joe Biden, menggelontorkan stimulus ekonomi bernilai triliunan USD.

Tiongkok juga berperan besar dalam pemulihan ekonomi, berkat keberhasilannya mengendalikan dan mengatasi Covid-19, dan segera menggenjot mesin-mesin produksi melalui berbagai stimulus ekonomi.

Krisis ekonomi gara-gara pandemi juga ditentukan oleh seberapa cepat dan akurat setiap negara mengambil langkah program vaksinasi dan perlindungan aktivitas warganya. Sebagian besar negara yang tertinggal dalam program vaksinasi adalah negara berkembang, emerging market, dan sebagian lagi negara-negara yang berada dalam zona Eropa.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengungkapkan, “Meskipun prospek pemulihan ekonomi terlihat membaik, namun terjadi risiko munculnya ketimpangan yang lebar.”

Pernyataan ini dilandasi oleh kenyataan bahwa vaksin belum tersedia bagi semua orang di semua tempat, sehingga mobilitas masih menjadi hambatan. Akibatnya, makin banyak orang kehilangan pekerjaan, yang otomatis mengerek jumlah orang miskin.

Banyak negara akan butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat memulihkan diri, mengikuti jejak AS dan Tiongkok. Kata Georgieva lagi, lembaganya memproyeksikan ekonomi dunia pada tahun 2024 masih akan lebih rendah sekitar 3 persen dibandingkan masa-masa sebelum pandemi. Lalu, mana negara-negara yang paling menderita? Kata IMF selanjutnya, “Adalah negara-negara yang mengandalkan sektor pariwisata dan jasa.”

Di level kawasan Asia Tenggara, Singapura, dan Thailand, serta Malaysia adalah contoh negara yang banyak bergantung pada sektor pariwisata dan jasa. Indonesia pun juga bersandar pada sektor ini, tapi pertanian dan perikanan serta industri kecil/menengah mampu sedikit mengompensasi.

Bloomberg Economics (BE) memperkirakan ekonomi global pada kuartal pertama tahun 2021 akan tumbuh sekitar 1,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Negara lain yang disebut BE akan melakukan rebound antara lain adalah AS, sedangkan Perancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Jepang diperkirakan masih mengalami kontraksi. Sementara negara-negara berkembang besar seperti Brazil, Rusia, dan India akan terlewati oleh Tiongkok.

Secara tahunan, BE memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2021 akan berada pada angka 6,9 persen. Angka ini, jika tercapai, akan mencatat rekor pertumbuhan tertinggi sejak tahun 1960-an. Proyeksi sebesar itu akan ditentukan oleh penurunan penularan virus dan kematian, peningkatan stimulus ekonomi AS.

Bloomberg Vaccine Tracker memperlihatkan vaksinasi di AS telah mencapai seperempat dari total jumlah warga, sementara negara-negara Eropa secara keseluruhan belum mencapai 10 persen. Dua negara Amerika Latin—Meksiko dan Brazil—masih di bawah 6 persen, sedangkan Jepang malah masih kurang dari 1 persen total penduduk.

Chief Economist J.P. Morgan Bruce Kasman bilang, dia belum pernah melihat adanya kesenjangan yang lebar antara AS plus negara-negara maju dibandingkan dengan negara-negara berkembang sepanjang kurun waktu 20-25 tahun terakhir ini. Lagi-lagi, perbedaan distribusi vaksin serta perbedaan pilihan kebijakan yang diambil masing-masing negara sangat menentukan upaya pemulihan ekonomi.

Untuk mengatasi panasnya gerak ekonomi, bank sentral di negara-negara berkembang yang tahun lalu menurunkan suku bunga pada tingkat minimal, pada tahun ini mulai pasang kuda-kuda untuk meningkatkan suku bunga mereka untuk mencegah keluarnya kapital dari negara tersebut serta mengendalikan inflasi.

Bagaimana posisi Indonesia dalam situasi seperti terlukiskan di atas? Secara statistik, rebound dalam pertumbuhan ekonomi sudah terjadi dari kondisi minus. Secara penanggulangan virus, vaksinasi sudah berlangsung beberapa bulan, meskipun secara absolut belum menunjukkan persentase di atas 10 persen.

Bagaimanapun, Indonesia tetap mengalami ancaman ketimpangan yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin gara-gara pandemi ini. Itu sudah bisa kita raba jika kita membuka mata dan telinga ke kanan dan ke kiri, atau bisa kita raba dari kantong kita sendiri.

Add Comment