Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan ala Gapoktan Bausasran

Gerbang masuk pekarangan pangan lestari, kampung sayur Bausasran. ILHAM LUTHFI HABIBI

Gabungan Kelompok Tani atau biasa disebut Gapoktan adalah perkumpulan kelompok tani yang mempunyai tujuan bersama untuk menjadikan sebuah wilayah menjadi kampung sayur. Seperti halnya dengan Gapoktan Bausasran yang berada di Kalurahan Bausasran, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta.

Gapoktan ini berdiri pada tahun 2012, yang sekarang diketuai oleh Ezperanza. Ezperanza mengungkapkan bahwa Gapoktan ini terdiri dari gabungan enam kelompok tani (poktan) antara lain Poktan Gemah Ripah, Poktan Bon Jowi 4 Dasa, Poktan Bustan Adi, Poktan Sumur Bening, Poktan Manunggal Lestari, dan Poktan Amanah.

Gapoktan Bausasran bergerak pada bidang pertanian khususnya tanaman sayuran dan buah-buahan. Tidak hanya itu, Gapoktan ini juga bergerak dalam budi daya perikanan. Meskipun wilayah Bausasran banyak masyarakat yang tidak asli petani, tetapi mereka semua sanggup untuk membuat kampung sayur yang hijau dan bermanfaat.

Ezperanza menjelaskan bahwa Gapoktan Bausasran memiliki visi yaitu memperkuat ketahanan pangan menjadi lumbung pangan pekarangan, dan misinya menjadi sebuah kemandirian pangan dan berimbas baik untuk masyarakat Kalurahan Bausasran. Dari visi misinya sudah tergambar jelas bahwa Gapoktan ini mempunyai keinginan kuat agar bisa berguna bagi masyarakat Kalurahan Bausasran dan masyarakat luas pada umumnya.

Rata-rata anggota poktan yang berada di bawah naungan Gapoktan Bausasran berjumlah 25 orang. Hal ini amat banyak, melihat kampung ini terletak di tengah-tengah Kota Yogyakarta yang notabene jarang bahkan tidak ada yang berprofesi sebagai petani. Memang pada awalnya tidak mudah untuk mengajak semua masyarakat untuk bercocok tanam, tetapi dengan ditunjukkannya eksistensi oleh Gapoktan Bausasran untuk memperhijau kampung dan mempercantik kampung. Dari situ masyarakat ikut tertarik untuk bergabung ke kelompok tani ini.

Keterbatasan lahan tidak membuat anggota kelompok tani patah semangat, tetapi malah membuat terpacu bahwa pertanian di tengah kota tidak kalah dengan yang ada di pedesaan. Untuk menghadapi keterbatasan lahan, pertanian Bausasran menggunakan konsep urban farming.

Konsep urban farming merupakan pemanfaatan ruang terbuka menjadi lahan hijau untuk menghasilkan produk pertanian dengan menggunakan sistem vertikultur dan hidroponik. Dengan membuat sistem penanaman vertikultur dan hidroponik, dapat bercocok tanam sayur di lahan yang sempit dan juga dapat memperindah perkampungan.

Tanaman yang banyak dibudidaya di kampung sayur ini yaitu terong, sawi, dan cabai. Selain waktu panen yang singkat, sayuran ini yang sangat diminati oleh masyarakat sekitar. Untuk hasil panennya dipasarkan ke anggota, warga masyarakat, dan ke pasar-pasar yang terdekat di wilayah Bausasran. Selain itu, penjualannya menggunakan sistem pembeli bisa memetik sendiri, menimbang, dan terus membayar. Selain menjual hasil panennya, kelompok tani juga menjual bibit kepada masyarakat guna memfasilitasi yang ingin menanam di rumahnya sendiri.

Selain sayuran, di kampung sayur ini juga terdapat budi daya ikan lele dan ikan nila. Untuk ikan lele masa panennya kurang lebih tiga bulan, sementara untuk ikan nila lebih lama yaitu sekitar lima bulan.

Perawatan kampung sayur bukan tanpa kendala, banyak kendala yang harus dihadapi, salah satunya yaitu tanaman terserang hama karena rata-rata latar belakang anggota kelompok bukan petani. Jadi, pendampingan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta sangat membantu sekali dalam menghadapi kendala ini.

Ke depannya, Ezperanza mempunyai harapan ingin mewujudkan kampung sayur menjadi ekowisata dan edukasi. Kemudian juga dia ingin menjadikan pusat kunjungan oleh masyarakat luar daerah, bahkan bisa sampai masyarakat mancanegara agar bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Apalagi kampung sayur ini memiliki lokasi yang strategis, di tengah kota dan dekat dengan destinasi wisata yang lainnya, misalnya dengan Malioboro.

Gapoktan Bausasran Berprestasi

Gapoktan Bausasran yang sudah berdiri hampir sembilan tahun ini sudah banyak prestasi yang ditorehkan, di antaranya adalah juara satu Gapoktan se-Kota Yogyakarta tahun 2014, juara satu lomba kelompok tani se-Kota Yogyakarta tahun 2015, dan juara satu kampung sayur se-Kota Yogyakarta Tahun 2019.

Pada tahun 2019 bahkan Menteri Pertanian (Mentan) Indonesia, Syahrul Yasin Limpo sempat melakukan kunjungan Kampung Sayur Bausasran. Ini menunjukan bahwa Gapoktan Bausasran mendapat apresiasi yang dapat dibanggakan oleh Gapoktan Bausasran.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan yang didampingi oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengapresiasi kerja keras warga masyarakat Bausasran yang berhasil menyulap gang-gang di Bausasran menjadi lorong sayur sehingga Bausasran memperoleh predikat sebagai Kampung Sayur.

Sebagai bentuk apresiasi, Mentan juga berjanji akan memberikan bantuan kepada Kampung Sayur Bausasran dalam bentuk tanaman buah dalam pot (Tambulapot) dan uang pembinaan.

Tidak heran jika Gapoktan ini banyak mendapatkan prestasi dan apresiasi dari berbagai pihak, karena memang banyak inovasi-inovasi dan gebrakan mengenai pertanian. Inovasi-inovasi itu dapat dilihat melalui produk yang dikeluarkan oleh Gapoktan ini di antaranya inovasi produk seperti nugget ikan lele dan kerupuk ikan lele. Tidak hanya makanan, inovasi juga dilakukan pada minuman misalnya minuman dari telang dan serai.

Gapoktan Bausasran juga memiliki jasa catering, snack, dan nasi dus sebagai upaya pemberdayaan masyarakat agar bisa menambah pemasukan, apalagi di musim pandemi Covid-19 ini sulit untuk mencari pekerjaan.

Kekompakan dan keguyuban masyarakat, ditambah dengan dukungan pemerintah menjadi kunci atas kemajuan yang dialami oleh Gabungan Kelompok Tani Bausasran.

Add Comment