Sebuah Cerita Sebelum Menjadi Kweni

Makam Ki Dento Prawiro. DADANG WARSITO

Dalam peta Belanda yang diproduksi Batavia pada 1935, Jarakan menjadi wilayah yang ditonjolkan. Selain itu, dari beberapa dusun yang mendiami daerah tersebut, Jarakan menjadi satu-satunya nama wilayah.

Menurut Wazani, mantan dukuh Kweni periode 1976-2012, jauh sebelum bernama Kweni, kampung tersebut memiliki beberapa wilayah yang terkenal dengan ciri khasnya masing-masing. Ada Jarakan, Jagalan, Tegalsari, Pabrik Bubrah, dan Karangnongko Tempel.

Beberapa wilayah tersebut merupakan bagian penting yang nantinya akan membentuk Kampung Kweni, seperti Tegalsari yang terkenal dengan daerah persawahan dan banyak pohon bambu, Jagalan yang terkenal dengan jagal babi, dan Jarakan yang terkenal dengan pohon jaraknya. Ciri khas Tegalsari sampai sekarang masih bertahan, sementara beberapa wilayah yang lainnya sudah berkurang dan menjadi tempat tinggal warga.

Selain itu, jalanan di sekitar kampung masih banyak yang diselimuti pepohonan. Kondisi Jalan Bantul sebagai jalan utama masih beraspal seadanya dan belum sehalus sekarang. Rel kereta api yang menuju Kota Bantul juga masih beroperasi. Sementara, di sisi timur jalan raya ada satu akses yang menghubungkan tiga kampung, yakni Tegalsari, Pabrik Bubrah, dan Jarakan.

“Jalanan masih terjal. Selain itu, wilayah tersebut banyak tumbuh pohon jarak, pohon bambu, dan persawahan. Sedangkan di Kampung Jagalan akses jalan juga masih belum banyak. Hanya sedikit akses jika ingin memasuki kampung itu,” kata Wazani.

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh tetua masyarakat, yakni Isti Sugiraharjono, “Daerah di Kweni sudah banyak akses antarwilayah dan dulu orang yang memiliki rumah tidak sebanyak sekarang.”

Kweni adalah salah satu dusun yang terletak di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabu

paten Bantul. Seperti kebanyakan dusun atau kampung di Panggungharjo yang memiliki asal-usul, daerah ini pun mempunyai sejarah yang penting sebelum bernama Kweni.

Dusun Kweni yang kini sudah berkembang dengan pesat, pasti tidak lepas dari campur tangan pendiri desa tersebut. Wilayah Kweni sendiri terdiri dari beberapa kampung yang dileburkan menjadi satu.

Isti Sugiharjono yang pernah menjabat sebagai ketua RW 34 menuturkan bahwa lapangan Kweni sampai ke Pabrik Bubrah merupakan wilayah Tegalsari. Selain itu, Masjid An-Najiwa Kweni ke utara hingga perbatasan Kweni RT 01 merupakan wilayah Jagalan.

Merangkum dari cerita masyarakat, Muh. Wazani memaparkan bahwa orang yang pertama kali dimakamkan di Makam Tegal Jajaran Kweni adalah Mbah Demang, nama lengkapnya Demang Nuryorejo. Ia dianggap pendahulu atau orang yang pertama kali datang dan membentuk kampung tersebut.

Pria yang lebih akrab dipanggil Mbah Demang atau Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Nuryorejo adalah sosok yang dimungkinkan sebagai cikal bakal pendiri Jarakan, Jagalan, Tegalsari, Karangnongko Tempel, dan Pabrik Bubrah. Kampung-kampung inilah yang nantinya menjadi kesatuan bernama Kweni.

Selain itu, Demang Nuryorejo merupakan abdi dalem keraton yang sering berhubungan dengan Sri Sultan. Sebutan ‘Demang’ merupakan istilah pemimpin wilayah di bawah kadipaten (sebuah wilayah setingkat di bawah kerajaan, kasunanan, dan kesultanan). Hal ini dikarenakan sistem pemerintahan dulu masih mengikuti aturan dari Keraton.

Saat ini, Makam Demang Nuryorejo dikubur di Makam Jajaran Kweni. Wujud makamnya pun masih ada hingga saat ini. Ketika memasuki area makam, kita sudah disambut dengan bangunan cungkup yang tinggi di antara makam-makam lainnya.

Hingga kini, keturunan-keturunannya pun sudah tidak bisa dihitung lagi, mereka hidup bersama dengan keluarganya masing-masing. Sosoknya barangkali terlupakan oleh generasi saat ini, namun ia akan tetap ada untuk dikenang sebagai tokoh yang membabat alas Jarakan dan sekitarnya, yang kini menjadi kesatuan dari Pedukuhan Kweni. Inilah bukti sejarah pendiri Pedukuhan Kweni.

Salah satu bukti peninggalan Kampung Jarakan adalah SD Jarakan. Sekolah ini dulunya merupakan sekolah rakyat. SD Jarakan terbagi dua wilayah, yakni unit utara dan unit selatan. Keduanya merupakan bangunan Belanda yang masih tersisa di dusun tersebut. Hingga kini, SD yang berdiri di Jalan Bantul itu masih digunakan sebagai sarana pendidikan bagi warga sekitar yang tinggal dekat di wilayah Kweni.

Ada pula cerita di belakang SD Jarakan, tepatnya jika kita memasuki area pemukiman warga ada makam dalam rumah. Menurut Mbah Mangun, yakni orang yang menempati rumah tersebut, makam itu adalah salah satu makam orang sakti yang juga merupakan tokoh terkenal di wilayah Karangnongko Tempel.

Tokoh tersebut bernama Ki Dento Pawiro yang berasal dari Blitar. Dulunya, ia seorang pengembara atau musafir yang menetap di wilayah tersebut. Sampai saat ini, makamnya masih ada di dalam rumah tersebut karena tidak mengganggu Penghuni pun masih merawat makam yang letaknya ada di antara dapur dan kamar mandi.

“Setiap bulan Ruwah pasti ada keluarganya yang mengirim doa datang ke rumah itu. Namun, sudah dua tahun ini tidak dikunjungi,” tutur Mbah Mangun.

Adanya SD Jarakan dan sebuah makam pendahulu, nama Jarakan tidak benar-benar hilang, bahkan nama Jarakan lebih terkenal daripada Pedukuhan Kweni yang resmi masuk secara administrasi di Desa Panggungharjo.