Sejarah Jalan Syech Noor di Kampung Sorowajan

Makam Pangeran Soro, yang masih menyimpan misteri.

Hari berganti hari, ingatan tentang satu hari ketika saya naik motor untuk pulang ke rumah masih tersimpan hingga saat ini. Kala itu, beberapa meter sebelum sampai rumah, saya terperosok ke persawahan dengan kedalaman satu meter. Beruntung, seorang lelaki paruh baya datang menolong. Ia menaikkan sepeda motor yang saya pakai. Saya selamat. Saya pulang dan sampai rumah dengan badan lusuh terkena lumpur sawah.

Ketika itu, jalan begitu sempit dan licin karena memang bukan jalan yang semestinya dilalui kendaraan. Jalan itu lebih layak disebut pematang sawah yang sepi. Hanya bapak dan ibu petani saja yang sering melewati jalan itu di pagi dan sore hari untuk menengok sawah mereka.

Itu mungkin terjadi 30 tahun silam, ketika saya dan keluarga belum lama menempati rumah yang kami bangun di tempat ini. Tempat dengan suasana pedesaan, udara sejuk, angin semilir meniup melambai, pemandangan asri, suara merdu katak yang bersaut setiap pagi dan sore. Itulah suasana salah satu sudut Kampung Sorowajan yang masuk wilayah pedukuhan Glugo. Pada waktu itu, Sorowajan dipimpin seorang dukuh yang bernama Sugiyo Pranoto.

Setiap hari, saya selalu melewati kompleks pemakaman tiap kali pergi dan pulang karena letaknya tidak jauh, sekitar lima puluh meter dari rumah yang saya tempati. Terdapat sebuah makam di sana, tepatnya di sebelah barat jalan dan makam tersebut tampak tak terawat. Kondisinya kotor. Dinding tua mengitarinya selayaknya bangunan tua. Warga Sorowajan menyebutnya Makam Syech Noor. Sebagian warga lainnya menyebutnya makam Pangeran Soro.

Area makam Syech Noor tidak begitu luas dan tidak terawat dengan baik. Atap bangunan terlihat usang dimakan waktu. Tidak ada warga yang datang ke makam itu karena mereka tidak memiliki ikatan kekeluargaan dengannya. Tahun demi tahun saya terus menetap di Sorowajan.

Pada 2006, bencana dahsyat melanda Yogyakarta, tepatnya di wilayah Bantul dan sekitarnya. Bencana tersebut dianggap sebagai bencana nasional. Beritanya tersiar ke seluruh penjuru dunia.

Gempa bumi selama 57 detik dengan kekuatan 6,5 SR menghancurkan banyak bangunan. Dua ratus ribu jiwa kehilangan tempat tinggal dan ribuan penduduk meninggal terkena reruntuhan bangunan, demikian halnya dengan Makam Syech Noor.

Usai gempa besar itu, warga Sorowajan bergotong royong membersihkan Makam Syech Noor. Pemerintah Bantul dengan program ‘Bantul Bangkit’ berupaya mendorong semangat warga untuk membangun kembali wilayah-wilayah terdampak gempa. Salah satunya dengan membangun rumah susun. Rumah susun tersebut terletak di wilayah Kampung Glugo.

Kesempatan itu dimanfaatkan warga untuk mengusulkan perbaikan jalan setapak di depan Makam Syech Noor. Jalan kampung itu dapat memudahkan warga menuju jalan besar. Makam Syech Noor juga dibenahi dengan memberi pembatas dinding di halaman makam. Pada akhirnya, jalan tersebut diberi nama Jalan Syech Noor

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya, mengapa ada dua nama di nisan makam tersebut? Pangeran Soro dan Syech Noor. Saya ingin tahu bagaimana kaitan antara keduanya.

Pada suatu hari, saya memutuskan untuk pergi ke rumah sesepuh di Kampung Sorowajan. Ia adalah mantan ketua RW ketika kampung ini belum menjadi pedukuhan seperti saat ini. Namanya Jabir, putra dari Muh. Hayat. Ia adalah tokoh dan pegiat kesenian Solawat Rodat. Kesenian itu bisa kita lihat hingga sekarang.

Pada Kamis 14 Juli 2019, ia mengatakan bahwa semula masyarakat Sorowajan tidak mengetahui siapa sosok yang disebut Pangeran Soro, hingga seseorang datang menceritakannya. Pada zaman dahulu terdapat beberapa orang yang membuat kerajinan logam dan wajan. Oleh karena itu, kampung ini disebut Sorowajan.

Jabir mendengar cerita itu dari masyarakat setempat, salah satunya dari kakeknya sendiri, seorang tokoh di kampung Sorowajan bernama Abu Somad. Kala itu, ia menjabat sebagai Kaum Rois, bukan kaum beselit seperti sekarang.

Dalam penelusuran yang saya lakukan pada Jumat 15 Juli 2019, saya menemukan satu cerita bahwa nama asli Syech Noor adalah Pangeran Sabuk Janur. Beliau merupakan anak Raja Brawijaya. Konon, Raja Brawijaya mempunyai 117 putra. Tujuh anaknya melarikan diri ke Pulau Bali dan seratus sepuluh lainnya ditolong Wali Songo.

Salah seorang yang ditolong Wali Songo adalah Pangeran Sabuk Janur. Pangeran Sabuk Janur lari dari Keraton karena tidak lagi sepaham dengan adat atau kebiasaan dalam Keraton. Ia lalu keluar dari Keraton dan menetap di Sorowajan sambil menyebarkan syiar agama Islam hingga akhir hayatnya.

Pangeran Sabuk Janur meninggal dan dimakamkan di Sorowajan. Makam Pangeran Sabuk Janur dilalui oleh sebuah jalan yang bernama Jalan Syech Noor. Penamaan jalan tersebut merupakan sebuah bentuk apresiasi atas jasa-jasanya dalam mensyiarkan agama Islam.

Sorowajan Seiring Berjalannya Waktu

Masyarakat Sorowajan pada zaman dulu mencari nafkah dengan bercocok tanam dan mencetak batu bata. Tanah persawahan di kampung ini, sebelum dipergunakan sebagai perumahan, merupakan tanah yang sangat dalam. Ketika saya membuat sumur, kedalaman satu lutut saja sudah cukup untuk memunculkan air.

Tanah di kampung ini cenderung menjorok ke dalam. Ketika membangun rumah dan meratakan tanah dengan jalan raya, saya harus mencari tanah uruk seluas enam ratus meter yang diangkut menggunakan seratus truk.

Awal mula tinggal di Sorowajan, di tengah area persawahan, pemandangan tampak begitu indah. Hamparan sawah hijau tampak begitu luas. Ketika kita melihat ke kejauhan, tidak ada dinding yang menghalangi. Jalan Parangtritis tampak jelas dengan pemandangan sepeda, kendaraan bermotor, andong, gerobak sapi, hingga gardu listrik.

Bila menghadap ke utara, terlihat semak-semak yang membatasi kampung ini, sepi dan damai. Tahun demi tahun berganti, kini suasana telah berubah. Pembangunan begitu cepat. Sawah di sekitar rumah yang begitu luas telah tiada, berganti rupa dengan rumah-rumah pendatang.

Berkat pembangunan jalan Syech Noor dan jalan lain di Kampung Sorowajan, masyarakat mendapat kemudahan beraktivitas dan menjalani kehidupan. Penduduk Sorowajan yang terkenal dengan kelompok hadroh dan beberapa kelompok religi lain kerap mengadakan pengajian rutin. Ini karena kedekatan Kampung Sorowajan dengan Pedukuhan Krapyak yang disebut Kampung Santri.

Selain itu, pengaruh kaum pendatang membantu perkembangan budaya lain, seperti kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kelompok kegiatan pendidikan dan ketrampilan membuat batik, jumputan, dan kerajinan yang lain.

Selain itu juga ada kegiatan ecoprint, tas rajut, kelompok kegiatan lingkungan dan rumah tangga yang membuat tanaman obat dan sayur-mayur, kelompok kegiatan kesehatan yang mengadakan senam pagi setiap hari Minggu, dan pendirian bank sampah. Mereka juga membantu menyelenggarakan posyandu dan posbindu sebulan sekali.

Masih ada lagi yang sangat populer di bidang kuliner, yakni usaha angkringan nasi kucing. Dengan kemajuan yang mengesankan, pihak Kalurahan Panggungharjo menjadikan Sorowajan sebagai desa percontohan dan diajukan untuk mengikuti lomba desa di tingkat kabupaten. Alhamdulillah, desa ini menjadi pemenang di tingkat nasional.

Add Comment