Selembar Pesan Singkat di Hotline Bantultangguh.com

Halaman Utama Situs Bantul Tangguh

Covid-19 mendekonstruksi tatanan kehidupan tanpa teriakan revolusi?

Memang benar, pandemi ini mengubah seluruh tatanan kehidupan, tetapi kurang tepat jika tidak ada teriakan revolusi. Banyak teriakan suara keresahan akan situasi ini baik lirih maupun lantang dari sudut-sudut rumah, pojok-pojok desa, maupun lorong-lorong negeri ini.

Suara dan teriakan yang didengar maupun tidak, akhirnya bermuara pada perbedaan pendapat. Mereka saling mencari kebenaran masing-masing sehingga melahirkan dua kubu ‘percaya’ dan ‘tidak percaya’ pada saat gelombang satu Covid-19 melanda.

Masyarakat yang terdampak secara ekonomi, sosial, dan agama seakan mendapat angin segar dan rumah untuk bersandar pada kubu ‘tidak percaya’. Mereka lebih memilih tetap berkegiatan seperti biasa, tanpa mempedulikan kesehatan dan bersikukuh Covid-19 tidak ada. Mereka menganggap itu hanya flu biasa.

Demi menjaga keluarga, tetangga, maupun masyarakat yang lebih luas ketika gelombang kedua menerjang, kami sepakat membentuk satgas Covid-19 tingkat RT yang lebih solid. Satgas Covid ini dibentuk bukan berdasar pada ‘percaya’ atau ‘tidak percaya’, namun atas dasar kemanusiaan.

Kami melakukan ozonisasi, fogging disinfektan di rumah pasien dan warga, memantau kondisi kesehatan, dan memenuhi kebutuhan harian pasien dengan ransum dan vitamin. Hal itu dilakukan sebagai bentuk darma kami kepada pasien maupun keluarga pasien.

Melalui pendekatan seperti itu banyak warga tergugah untuk mengulurkan tangannya dengan cara mendonasikan alat medis (oksimeter, tensimeter, thermo gun, tabung oksigen, dan APD). Tangan tersebut mereka ulurkan pula untuk membantu pemenuhan operasional dan kebutuhan keluarga isoman.

Puncak Gelombang Kedua

Keadaan tak terkendali, rumah sakit sesak, shelter kabupaten penuh, bahkan pasien Covid-19 dengan gejala berat dipaksa untuk tetap isoman. Saat itu, tidak lagi klaster tempat kerja atau klaster sekolah, tetapi sudah antar tetangga. Berita kematian semakin sering. Selama beberapa hari, dinginnya malam selalu ditemani hilir mudik suara sirene ambulans yang terdengar jelas.

Menyikapi situasi ini, Wahyudi Anggoro Hadi sebagai Lurah Desa Panggungharjo berkoordinasi dengan Kapanewon Sewon menginisiasi situs bantultangguh.com untuk penapisan dan pemantauan kesehatan harian pasien positif, pasien terduga corona, maupun pasien kontak erat.

Salah satu langkah yang diharapkan dapat meredam kekacauan di gelombang kedua ini, ialah dengan cara membentuk shelter gabungan Kapanewon Sewon. Shelter itu bernama Shelter Tanggon. Lokasi shelter tersebut di SMK Negeri 4 Sewon.

Kemudian, kepengurusan Shelter Tanggon dibentuk. Penulis sangat beruntung bisa tergabung dalam divisi kesekretariatan bagian hotline. Beruntung karena bisa menjadi bagian dari kebaikan, serta beruntung karena menjadi saksi di setiap alur perjalanan rekan-rekan relawan yang mempertaruhkan jiwa raganya.

Bisa dipastikan, setiap hari telepon dari pasien isoman berdering untuk permohonan kunjungan. Keluhan yang mereka rasa adalah sesak nafas. Relawan tim medis selalu terjaga meski tengah malam. Mereka tetap semangat menghantarkan nafas untuk pasien isoman, sebab tabung oksigen merupakan satu-satunya harapan kala itu.

Sabtu Pon, 31 Juli 2021, pukul 4.11, telepon berdering dari keluarga pasien isoman yang tadi malam sudah dikunjungi oleh tim medis. Pasien tersebut merupakan pasien berkebutuhan khusus dengan gejala berat. Suara wanita yang panik terdengar di seberang telepon, ia adalah istri pasien.

“Mas, pripun niki, Bapakmalah kejang, mata mendelik-mendelik,” ungkapnya.

Ketika itu O2 masih bekerja, sedangkan alat oksimeter eror. Bagian hotline hanya bisa menemani dan menenangkan sembari menunggu tim medis meluncur.

Mas, Bapak kok malah meneng mawon niki, Mas?

Kemudian, telepon dimatikan seiring tim medis tiba di rumah pasien itu. Tak berselang lama, tim medis memberi kabar duka. Seketika rasa kantuk hilang meski semalam begadang. Penulis pikir, sebegitu dekatnya kita dengan kematian.

Jika ada kabar duka, tentunya ada banyak sekali kabar bahagia, bahkan kisah-kisah lucu yang bisa dibagi. Ada satu momen yang terpatri di benak penulis, yakni ketika harus melayani kepanikan istri pasien melalui panggilan video. Ia meminta bantuan tutorial mengganti air di mesin O2C yang kita tinggal di rumah pasien isoman. Bisa dibayangkan persiapan seorang ibu yang pertama kali melakukan panggilan video, kan? Betul, persiapannya seperti akan pergi ke kondangan.

Banyak sekali kisah yang ingin saya dan rekan relawan tuangkan dalam tulisan, namun gambaran yang ada di benak selalu lebih sempurna daripada yang diciptakan oleh tangan. Semoga situasi segera pulih dan pandemi segera berakhir.

Lantas, bagaimana jika gelombang ketiga menerjang? Penulis yakin, tema tidak mungkin berulang dan komposisi tidak akan ditampilkan dua kali. Tentu saja rasa optimis itu harus selalu diiringi ikhtiar dan rapalan doa.

Add Comment