Tamanmartani, Mengolah Limbah jadi Pupuk Murah

Proses Pengolahan Limbah. PEMKAB SLEMAN

Petani di beberapa daerah kerap kali mengeluh karena kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Bahkan pupuk tidak bersubsidi pun mengalami kejadian hal demikian–sulit dicari. Bukan rahasia umum ketika kita mendengar berita tentang kelangkaan pupuk subsidi selalu terjadi setiap tahun.

Mengapa hal demikian ini terjadi hampir di tiap daerah, ini dikarenakan pupuk yang dicari para petani adalah pupuk berbahan kimia atau anorganik. Adapun jenis pupuk subsidi yang menurut petani tergolong sulit diperoleh saat itu secara berurutan adalah NPK Phonska, SP36, dan Urea. Jika sudah demikian haruslah balik ke penggunaan pupuk organik.

‘Go Organik’ sudah menjadi kesepakatan masyarakat dunia sebagai salah satu upaya penyelamatan kehidupan di bumi. Slogan tersebut digalakkan karena saat ini semakin jelas terasa dampak pemanasan global karena adanya emisi gas rumah kaca.

Selain itu, alasan lainnya adalah pengelolaan lahan produksi pangan yang tidak rasional, penggunaan senyawa agrokimia yang tidak terkendali, dan produksi pangan yang tidak rasional. Penggunaan senyawa agrokimia yang tidak terkendali, dan proses produksi beberapa jenis industri yang di antaranya menyebabkan kerusakan berkesinambungan terhadap sumber daya alam termasuk lahan budidaya alam.

Indikator yang jelas terlihat pada kehidupan sehari-hari, misalnya adanya perubahan musim. Dampak nyata dari kerusakan lahan produksi pangan jika tidak segera ditangani, diramalkan pada tahun 2030 akan terjadi bencana kekurangan pasokan pangan di berbagai kawasan di dunia yang ditandai dengan melonjaknya harga pangan di dunia.

Sampah anorganik dapat dikelola atau didaur ulang menjadi berbagai macam kerajinan yang unik dan bermanfaat seperti dijadikan alat sehari-hari atau perlengkapan rumah. Jika hal tersebut ‘ditelateni’ sampah juga dapat menghasilkan rupiah. Selain itu, dengan cara mendaur ulang sampah dapat juga memperpanjang masa pakai suatu barang sebelum benar-benar menjadi sampah tidak layak pakai.

Sementara, cara pemanfaatan sampah organik melalui kompos memang sudah tidak asing lagi dilakukan. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih enggan berurusan dengan sampah. Bau yang tidak sedap serta kesan menjijikan menjadi alasan orang malas mengolah sampah. Padahal, dengan menggunakan komposter, membuat kompos dari sampah menjadi lebih praktis, mudah, dan tidak menjijikan.

Tersedianya Sarana Pengolahan Pupuk

Kalurahan Tamanmartani, memiliki alat pengolahan sampah untuk dijadikan pupuk organik dari Kementerian Perindustrian yang belum bisa dioperasikan pada akhir 2014 lalu. Hal ini diakibatkan belum siapnya Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola alat senilai 1,4 miliar itu. Selain itu, pihak desa juga belum mendapat Bimbingan Teknis (Bimtek). Tanpa adanya Bimtek, tentunya pihak desa tidak berani mengoperasikan alat sebesar ini.

Alat pengolahan pupuk organik itu berada di lahan seluas 500 meter persegi di tanah kas desa. Di sekitar lokasi memang sebagai tempat pembuangan sampah sementara. Sejak tahun 2000-an mulai diperuntukkan untuk pengolah pupuk kompos. Ketika itu sempat berhenti beroperasi karena ada kendala pemasaran. Kehadiran alat ini akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan secara struktur organisasi sudah terbentuk bersama pemuda Tamanmartani.

Adanya keprihatinan mahalnya harga dan kelangkaan pupuk, petani di Tamanmartani mencetuskan keinginan untuk mengurangi pemakain pupuk kimia. Oleh karena itu, keinginan kuat dari warga membuat karang taruna akhirnya belajar untuk dapat mengoperasikannya, sehingga saat ini banyak memberi manfaat ekonomi bagi warga.

Mesin pengolahan pupuk organik itu mampu memproduksi satu ton pupuk organik dengan delapan jam kerja sehari. Dengan begitu, diharapkan dengan produksi pupuk oleh warga dan karang taruna kebutuhan pupuk murah tidak hanya dinikmati warga Kalurahan Tamanmartani saja, namun bisa lebih luas lagi dalam memasarkan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman.

Sistem kerja pengelolaan pupuk ini juga melibatkan peran Karang Taruna Taman Bina Karya Tamanmartani. Limbah kotoran sapi dan sampah dikumpulkan dari kandang sapi seluruh warga di Dusun Babrik, kemudian dilakukan vermentasi terlebih dahulu agar kering dan tidak berbau. Selanjutnya, kotoran yang sudah kering dimasukkan ke dalam enam mesin, termasuk mesin penggiling.

Menurut dia, pupuk hasil olahan kotoran sapi dan sampah ini dijual murah kepada para petani dan sebagian ada yang dijual ke luar wilayah. Harga pupuk ini sangat terjangkau, hanya Rp500 per kilogram.

Ke depannya, untuk melancarkan aktivitas industri pupuk organik ini diperlukan kerja sama dari tiga kementerian. Yakni, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian BUMN. Dengan demikian pupuk hasil kerja pemuda Tamanmartani diharapkan dapat langsung diserap oleh BUMN, dalam hal ini PI. Mengingat kebutuhan pupuk organik dalam negeri sangat mendesak.

Menyikapi pengelolaan sampah menjadi pupuk memang dibutuhkan sinergitas dan upaya bersama dari seluruh pihak, baik pemerintah, stakeholder lain dan tentu saja masyarakat yang berperan sebagai subjek maupun objek dalam pengelolaan sampah di Tamanmartani.

Bahan Bacaan:

Suryati, Teti. 2014. Bebas Sampah dari Rumah. AgroMedia Pustaka: Jakarta.

Suwahyono, Untung. 2017. Panduan Penggunaan Pupuk Organik. Penebar Swadaya: Jakarta.