Tegal Krapyak, Tanah Tegalan yang Kini Menjadi Daerah Industri Mebel

Gapura Kampung Tegal Krapayak. UTIA KAFAFA

The present is the key to the past. Kutipan tersebut adalah salah satu konsep yang diutarakan James Hutton dalam ilmu geologi. Seluruh proses yang terjadi di alam berjalan dalam ruang dan waktu. Masa lampau dan masa kini terjalin berkat hubungan sebab akibat. Konsep Hutton, bagi saya, tidak hanya berlaku pada kajian geologi. Ia dapat digunakan sebagai analogi bagi setiap lini kehidupan.

Untuk melihat apa yang terjadi di masa lalu, pelajarilah masa kini. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, bercerminlah pada sejarah masa lalu.

Hari ini adalah kunci untuk mempelajari masa lampau. Kita akan mengetahui apa yang terjadi di masa lampau dengan membaca tanda-tanda yang terjadi hari ini. Salah satunya dengan mempelajari toponimi, yakni suatu tempat untuk mengetahui asal-usul tempat tersebut.

Toponimi adalah cabang ilmu linguistik yang membahas asal-usul penamaan tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi. Hal ini mendorong saya untuk melakukan pencarian asal-usul dari sebuah dusun bernama Tegal Krapyak.

Secara administratif, Tegal Krapyak masuk di wilayah Pedukuhan Glugo. Namun, awal mula terbentuknya Dusun Tegal Krapyak tentu tidak terlepas dari keberadaan Kampung Krapyak yang terletak di sebelah utara dusun tersebut.

Pada abad ke-16, di masa Pangeran Sedo Krapyak (1910), wilayah Krapyak Kulon dan Glugo merupakan kawasan wisata berburu. Satu abad selanjutnya, kawasan ini berubah menjadi tempat olahraga memanah kijang atau menjangan dan tempat pertahanan pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Kampung tersebut juga mempunyai sebuah bangunan bernama Panggung Krapyak. Panggung Krapyak berbentuk seperti kastil dari susunan batu dengan tinggi sekitar sepuluh meter. Konon, pada zaman dahulu, tempat tersebut digunakan raja sebagai panggung untuk menyaksikan prajurit kerajaan berburu menjangan di hutan.

Panggung Krapyak merupakan salah satu situs penyusun sumbu imajiner Yogyakarta yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan (Segara Kidul). Sumbu imajiner tersebut selaras dengan konsep ‘Tri Hita Karana’ dan ‘Tri Angga’ (Parahyangan-Pawongan-Palemahan atau Hulu-Tengah-Hilir dan nilai Utama-Madya-Nistha). Pendeknya, simbol tersebut menggambarkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Asal Mula Penamaan Dusun Tegal Krapyak

Pencarian asal-usul Dusun Tegal Krapyak saya awali dengan menemui salah seorang Mbah Kaum yang disarankan oleh Damanhuri (Dukuh di Pedukuhan Glugo). Saya mengelilingi dusun tersebut untuk mencari rumahnya. Setelah bertanya kepada beberapa warga setempat, sampailah saya di sebuah rumah sederhana. Rumah tersebut terletak di sebuah gang kecil di pinggir jalan.

Sebuah motor tua bergaya klasik yang memantulkan nilai estetis tinggi terparkir di depan rumah. Saya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak lama kemudian, sosok perempuan yang tengah menggendong anaknya membuka pintu dan menyambut saya dengan ramah. Ia kembali masuk untuk memanggil seseorang. Selang beberapa waktu, seorang laki-laki sepuh keluar dari balik pintu menggunakan baju koko dan peci warna hitam. Pakaiannya tampak rapi. Ia bernama Jamzani, seorang Mbah Kaum di Dusun Tegal Krapyak.

Saya lantas menceritakan tujuan kedatangan saya ke rumahnya. Dengan antusias, ia menceritakan kisah Tegal Krapyak dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Berdasarkan Jamzani, Dusun Tegal Krapyak terdiri dari dua kata, yaitu Tegal dan Krapyak yang bermakna tegalan di Kampung Krapyak. Dusun ini dulunya satu wilayah dengan Kampung Krapyak.

Tegalan merupakan istilah untuk menyebut jenis pemanfaatan lahan kering. Tegalan biasanya ditanami tanaman musiman. Biasanya, orang-orang memilih tegalan untuk lahan dengan pengairan yang tidak terlalu baik. Wilayah ini terus menjadi lahan menanam hingga suatu hari ditempati sebuah keluarga.

Wilayah Tegal Krapyak mulanya tidak dihuni manusia. Keluarga itu lalu datang dan mendirikan rumah. Konon, mereka berasal dari Kabupaten Kulonprogo. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang mengikuti jejak keluarga tersebut. Mereka ikut mendirikan rumah, salah satunya kakek dari Jamzani. Jamzani yang saya temui merupakan generasi ketiga dusun ini.

Pada zaman dahulu, perizinan untuk mendirikan bangunan tentu tidak serumit hari ini. Asalkan terdapat lahan kosong yang belum dimiliki seseorang, siapa pun dapat menempati lahan tersebut.

Kedatangan keluarga pertama di Tegal Krapyak tidak diketahui pasti waktunya oleh Jamzani. Ia hanya menturkan bahwa kejadian itu berlangsung pada zaman penjajahan Belanda. Saya kemudian menelusuri beberapa literatur untuk memastikan tahunnya.

Saya menemukan sebuah bukti bahwa Dusun Tegal Krapyak sudah tercatat di peta topografi Desa Panggungharjo skala 1:25000 pada 1933. Keterangan ini saya dapat dari dokumen Leiden University Libraries (Belanda). Peta tersebut diproduksi di Batavia pada 1935. Ada satu hal menarik yang saya temukan di peta itu, yaitu penulisan Dusun Tegal sebagai Krapjaktegal.

Jamzani menerawang masa lalu di hadapan saya. Ia menceritakan sulitnya menjalani kehidupan di zaman penjajahan Belanda. Saat masih muda, Jamzani dipekerjakan secara paksa menuruti segala perintah kompeni. Keringatnya sama sekali tak dibayar. Malah, nyawanya jadi taruhan.

Suatu ketika ia dan beberapa temannya diminta memanjat pohon kelapa untuk mengambil buahnya. Ketika mereka sampai di atas, tanpa alasan yang jelas, serdadu Belanda tiba-tiba menembaki teman-temannya hingga gugur. Beruntung, ia bernasib baik, tidak menjadi sasaran tembak. .

Hari terus berganti, Dusun Tegal Krapyak berkembang menjadi sebuah pemukiman dengan penduduk yang makin padat. Rumah-rumah berdiri saling berhimpit satu sama lain. Dusun ini begitu ramai dipenuhi kebahagiaan dan keharmonisan.

Tegalan yang merupakan cikal bakal Tegal Krapyak kini tidak ditemukan. Saat ini, Dusun Tegal Krapyak berkembang menjadi kawasan industri mebel. Hasil produksinya telah merambah berbagai wilayah di Indonesia. Roda perekonomian berputar kencang di Tegal Krapyak. Semoga, warganya selalu berbahagia.

Add Comment