Transformasi Perkampungan Menjadi Lorong Sayur nan Indah

Pemandangan lorong sayur kreasi Kelompok Tani Bustan Adi. ILHAM LUTHFI HABIBI

Lorong sayur sekarang banyak digemari di beberapa wilayah Indonesia. Salah satu kota yang intensif memperkenalkan lorong sayur ke warga sejak tahun 2019 adalah Kota Yogyakarta. Menurut Suyana selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, lorong sayur yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta terbukti sangat bermanfaat bagi warga di saat pandemi seperti sekarang ini. Hasil lorong sayur bisa dikonsumsi sendiri maupun dibagikan ke tetangga.

Sekarang, lorong sayur yang biasanya dikelola oleh kelompok wanita tani dan gabungan kelompok tani ini telah ada di semua kelurahan di Kota Yogyakarta. Dalam masa pandemi Covid-19, masyarakat bisa menanam sayuran yang memiliki masa tanam singkat seperti bayam, kangkung, sawi, dan seledri yang bisa dipanen saat umur 30-60 hari.

Salah satu kelurahan yang berhasil mengembangkan lorong sayur adalah Kelurahan Bausasran, Kemantren Danurejan. Semangat warga dalam memanfaatkan lahan kosong untuk ketahanan pangan patut dihargai. Sepanjang lorong di kelurahan tersebut tampak rapi dan hijau. Gang-gang sempit telah disulap menjadi lorong sayur. Aneka sayuran ditanam dan ditata di kanan kiri jalan gang.

Salah satu kelompok tani yang berada di Kalurahan Bausasran adalah Kelompok Tani Bustan Adi. Berdirinya kampung sayur ini diawali oleh kecintaan menanam yang dilakukan oleh Sumartinah yang sekarang menikmati hari tuanya di rumah. Untuk mengisi kegiatan sehari-harinya, ia melakukan budi daya sayuran di pekarangan rumah dan di sepanjang jalan perkampungannya.

Kemudian setelah banyak warga yang melihat apa yang dia lakukan Sumartinah, akhirnya banyak warga yang juga ikut menanam sayur di pekarangan rumahnya. Kegiatan itulah yang melatarbelakangi berdirinya Kelompok Tani Bustan Adi.

Kelompok Tani Bustan Adi berdiri pada bulan Februari 2019. kelompok ini berdiri di wilayah RT 43 RW 11 Kalurahan Bausasran, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta.

Kelompok tani yang beranggotakan kurang lebih 20 orang ini memanfaatkan pekarangan rumah dan pinggiran jalan rumah atau gang-gang perumahan untuk berbudidaya tanaman sayur. Pada awalnya anggota kelompok tani ini tidak berani menanam di pinggir jalan, takut kalau nantinya mengganggu pengguna jalan. Setelah mendapat izin dari pemerintah desa, akhirnya baru berani untuk menanam di pinggir jalan.

Berdiri atas keinginan dari masyarakat sendiri dan di didukung oleh pemerintah setempat, kelompok tani ini pada awalnya juga menggunakan swadaya masyarakat untuk kegiatan operasional lorong sayur, karena pada saat itu bantuan dari pemerintah setempat belum diberikan.

Berjalan kurang lebih sekitar tiga sampai lima bulan, kelompok tani ini menghadapi banyak kendala, salah satunya yaitu banyaknya tanaman sayuran yang sudah waktunya panen malah dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mendengar permasalahan tersebut, pemerintah desa berinisiatif memberikan bantuan kepada kelompok tani sebuah CCTV, agar nantinya orang-orang yang melakukan pencurian dapat terlihat oleh CCTV ini. Tidak hanya CCTV yang diberikan kepada kelompok tani, tetapi pemerintah desa juga memberikan bantuan listrik dan sumur bor untuk kegiatan kelompok tani agar lebih baik lagi.

Penanaman memanfaatkan lahan yang sempit, maka digunakanlah kreasi agar tanaman ini bisa berkembang lebih baik dan bisa memperindah perkampungan. Sistem yang cocok digunakan untuk itu semua adalah menggunakan sistem tanam hidroponik. Hidroponik yang ada di lorong sayur ini sudah ada banyak, yaitu berjumlah 850 lubang, jadi tidak heran jika sekali panen lorong sayur mampu memenuhi kebutuhan dapur anggota kelompok Bustan Adi.

Tanaman yang sering ditanam paling banyak adalah sayur-sayuran, karena sayuran dirasa paling mudah perawatannya dan paling cepat masa panennya. Kangkung, sawi, cabai, dan bayam adalah jenis sayuran yang sering panen, bahkan hasil panennya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan anggota sendiri, tetapi juga dijual kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Selain melakukan budi daya tanaman sayuran, Kelompok Tani Bustan Adi juga melakukan budi daya ikan lele. Pada umumnya ternak ikan lele dilakukan di kolam yang membutuhkan lahan yang luas. Kelompok ini melakukan ternak lele dengan menggunakan tong karena lahan yang tersedia sangat tidak memungkinkan untuk ternak lele di kolam pada umumnya.

Pandemi Covid-19 yang masih melanda tidak menyurutkan kelompok tani untuk tetap beraktivitas untuk berkebun di lorong sayur. Menyirami tanaman adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari di waktu sore, minimal dua jam sehari untuk melakukan itu. Untuk kegiatan perawatan lorong sayur dibagi jadwal agar setiap harinya ada yang bertanggung jawab untuk mengelola lorong sayur tersebut. Selain kegiatan harian, kelompok tani juga melakukan kerja bakti yang dilakukan semua kelompok yang dilaksanakan setiap bulan satu kali.

Sumartinah selaku wakil ketua Kelompok Tani Bustan Adi melakukan inisiatif dengan membagikan bibit sayuran dan medianya sekaligus kepada warga sekitar, agar semakin banyak warga yang menanam dan ikut bergabung ke Kelompok Tani Bustan Adi. Dia juga berkeinginan untuk menjual sayuran dengan cara diolah dulu tidak langsung mentahan di jual, seperti misalnya kangkung dan bayam bisa diolah menjadi keripik, dan juga mengolah ikan lele menjadi abon.

Harapan Sumartinah ke depannya, anggota kelompok dapat dibagi menjadi dua, ada yang fokus ke pertanian dan juga ada yang fokus ke pengolahan hasil panen yang bisa inovatif lagi. Selain itu, dia juga berharap adanya Sumber Daya Manusia yang paham betul mengenai pertanian sayuran karena di kelompoknya sekarang belum ada anggota yang paham mengenai hal tersebut.

Add Comment