Wajah dan Tubuh Cabeyan

Rumah Irosentono. ANIK NURYANI

What’s in a name? That which we call a rose by other name would smell as rose? Apalah arti sebuah nama? Jika kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap wangi. Begitulah penggalan salah satu dari penyair ternama di dunia, William Shakespeare.

Sering kita mendengar bahwa nama adalah doa atau harapan yang di

sematkan oleh si pemberi nama. Selain doa atau harapan, pemberian nama juga bisa didasarkan atas ciri khas yang melekat terhadap sesuatu yang diberi nama tersebut. Bagaimana dengan nama Cabeyan?

 

Mengenal Cabeyan

Cabeyan adalah nama sebuah pedukuhan yang terletak di Jalan Parangtritis Km 7. Lokasinya mudah ditemukan karena langsung berbatasan dengan jalan raya provinsi. Apabila datang dari arah Kota Yogyakarta, setelah kampus Institut Seni Indonesia kita akan segera sampai di Cabeyan.

Cabeyan termasuk desa yang berkembang lewat banyak usaha dan kerajinan yang menghidupkan perekonomian penduduk setempat. Secara fisik, mayoritas rumah penduduk sudah dibangun dari bata permanen. Selain itu, fasilitas penunjang ibadah juga cukup memadai. Terdapat tiga buah masjid di Cabeyan, yaitu Masjid Nurul Hidayah di RT 05, Masjid Baitus Salam di RT 06, dan Masjid Baiturrohman di RT 08.

Pedukuhan Cabeyan yang terdiri dari delapan RT memiliki luas wilayah 36,376 Ha dengan rincian pekarangan seluas 10,107 Ha, sawah seluas 23,455 Ha dan yang lain 2,814 Ha. Batas wilayah Cabeyan sebelah utara adalah Pedukuhan Demangan Bangunharjo, sebelah selatan adalah Pedukuhan Tembi Timbulharjo, sebelah barat adalah Pedukuhan Ngireng-ireng Panggungharjo, dan sebelah timur adalah Pedukuhan Garon Panggungharjo.

Lokasi Cabeyan termasuk strategis, terletak di pinggir Jalan Parangtritis, sehingga memudahkan aksesibilitas ke pusat pemerintahan. Orbitasi Cabeyan ke pusat pemerintahan kecamatan adalah 0,5 kilometer, sedangkan jarak ke ibu kota Kabupaten Bantul sejauh 3 kilometer, dan jarak ke ibu kota provinsi adalah 7 kilometer.

 

Penduduk Cabeyan

Penduduk Cabeyan berjumlah 1.550 jiwa dengan 484 kepala keluarga. Terdapat 769 laki-laki dan 781 dari keseluruhan jumlah penduduk. Dilihat dari tingkat pendidikan, mayoritas penduduk Cabeyan memiliki pendidikan terakhir SMA. Data terbaru yang dihimpun sampai Februari 2019 seperti yang tersaji dalam tabel di bawah ini.

Urutan jumlah tingkat pendidikan penduduk Cabeyan terbanyak dimulai dari tingkat menengah (SMP dan SMA), tingkat dasar (tidak sekolah sampai SD), kemudian tingkat pendidikan tinggi (akademi dan sarjana). Berdasarkan 1.550 jiwa, 801 di antaranya berpendidikan menengah, 750 berpendidikan dasar, dan 175 berpendidikan tinggi.

Jumlah penduduk dengan tingkat pendidikan dasar yang hampir separuh (48,38%) dari jumlah keseluruhan penduduk, menunjukkan bahwa tingkat pendidikan belum cukup merata.

Mata pencaharian penduduk Cabeyan mayoritas adalah petani, yaitu sebanyak 756 orang atau sekitar 48,77% dari keseluruhan. Banyaknya jumlah penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani dikarenakan masih adanya area persawahan di sekitar Cabeyan.

Faktor lain yang mempengaruhi banyaknya penduduk bermatapencaharian petani, yakni rata-rata pendidikan yang mereka tempuh hanya sampai jenjang sekolah dasar. Keadaan itu membuat mereka tidak memiliki pilihan selain menjadi petani atau buruh.

Sejumlah 382 orang penduduk Cabeyan bekerja sebagai tukang bangunan maupun pekerja di toko atau pabrik, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor swasta ada 47 orang. Mereka tersebar di lembaga atau instansi atau badan usaha swasta di Yogyakarta dan sekitarnya.

Penduduk Cabeyan yang memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta atau pedagang berjumlah 165 orang yang tersebar di berbagai jenis lini usaha. Usaha-usaha tersebut ada yang terdapat di dalam wilayah Cabeyan maupun di luar Cabeyan. Wilayah Cabeyan memiliki beberapa titik perdagangan atau usaha seperti toko, warung kelontong, rumah makan, jasa laundry, jasa tenaga kerja PJTKI, dan jasa biro perjalanan.

Jumlah penduduk Cabeyan yang memiliki profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 61 orang, sedangkan PNS yang sudah purna tugas ada 48 orang. Selain beberapa mata pencaharian di atas, terdapat 14 orang yang bekerja sebagai anggota TNI/Polri dan untuk penduduk yang bekerja di sektor jasa berjumlah 35 orang.

 

Nama Cabeyan

Jika mendengar nama Cabeyan, mungkin benak kita langsung terhubung dengan kata ‘cabe’ atau ‘cabai’. Ya, benar. Hal itu memang berkaitan erat. Melalui sumber cerita yang turun-temurun, disematkan nama Cabeyan sebab wilayah tersebut terdapat banyak tumbuhan cabai. Banyak penduduk sekitar yang sering datang mencari pohon cabai untuk digunakan sebagai jamu atau pengobatan tradisional.

Cabai merupakan salah satu jenis tumbuhan yang bisa ditemukan di Jawa. Merujuk pada Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, cabai (Piper retrofractum) adalah tanaman penghasil rempah-rempah yang masih sekeluarga dengan lada, kemukus, dan sirih. Bentuk tanamannya menyerupai sirih, yakni merambat, memanjat, membelit, dan melata. Buah cabai rasanya pedas dan beraroma tajam.

Cabai biasanya ditanam di dataran sedang (± 700 mdpl) dengan curah hujan yang cukup. Untuk tumbuh, cabai membutuhkan pohon panjat seperti kelor dan lamtoro. Tanaman ini bisa dipangkas setinggi 1,5 m–2 m untuk menstimulasi cabang baru dan memudahkan pemetikan buah. Nampaknya, cabai memang cukup populer untuk pengobatan tradisional atau jamu. Salah satu jenis jamu yang bahan ramuannya cabai adalah jamu cabai lempuyang.

Pandangan tradisi Jawa menganggap bahwa tumbuhan adalah suatu hal yang sangat dekat. Selain digunakan sebagai pengobatan atau jamu, tumbuhan sering kali muncul untuk melambangkan budaya Jawa. Manusia Jawa menganggap tumbuhan sebagai suatu hal yang penting dalam kehidupannya.

Tumbuhan bagi mereka adalah sedulur sinarawedi, yaitu teman atau sahabat yang hubungannya sudah sangat dekat sehingga dianggap saudara. Makna tentang kekuatan, kesetiaan, kesabaran, keikhlasan, dan kejujuran pun dilambangkan oleh tumbuhan.

Nuansa positif lainnya adalah ajaran budi pekerti orang Jawa banyak diambil dari tumbuhan. Oleh karena itu, tidak heran jika manusia Jawa dinilai memiliki pikir, rasa, dan karsa dalam mengemban tugas memayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia).

Manusia Jawa mengajarkan budi pekerti melalui peribahasa dengan menggunakan tumbuhan. Hal ini dikarenakan hanya tumbuhan satu-satunya makhluk hidup yang dapat mewujudkan sikap narima ing pandum (ikhlas), suatu sikap yang sulit diterapkan oleh manusia dan binatang. Tumbuhan tidak berontak ketika buahnya dipetik, dan tumbuhan tetap menghadirkan daun baru, meskipun tahu itu akan berguguran.

Salah satu peribahasa terkenal dari Jawa adalah kapok lombok yang memiliki makna ‘jera sebentar’. Seperti orang yang merasa kepedasan setelah memakan lombok (cabai), namun tidak berhenti mengonsumsinya. Hal itu, menggambarkan orang yang memiliki tabiat buruk, ketika dinasihati hanya berubah sebentar, tetapi lain kali melakukannya lagi.

Dalam menamakan desanya, manusia Jawa menginginkan sesuatu yang khas dan melekat sebagai identitas dari desa tersebut. Tidak heran jika nama-nama desa di Jawa berasal dari nama tumbuhan.

Kelurahan Panggungharjo sendiri, memiliki empat desa yang penamaannya dari tumbuhan, yaitu Cabeyan, Karang Nongko, Pelem Sewu, dan Kweni. Nama Karang Nongko berasal dari nongko atau nangka (Artocarpus heterophyllus), Pelem Sewu dari tumbuhan pelem atau mangga (Mangifera indica), dan Kweni dari tumbuhan kweni (Mangifera odorata).

 

Sejarah Cabeyan

Sejarah awal nama Cabeyan mungkin agak sulit untuk ditelusuri, mengingat tidak banyak sumber informasi aktual yang tersedia. Tapi, sejarah Cabeyan bisa ditelusuri melalui saksi hidup yang mengalami perubahan zaman, yaitu Gunadi (84 tahun).

Dulu, sebelum tahun 1946, Cabeyan merupakan sebuah kelurahan yang mencakup Pedukuhan Garon, Cabeyan, Ngireng-ireng dan Geneng. Pada zaman tersebut, belum ada kantor pemerintahan yang digunakan sebagai tempat pejabat bekerja. Ketika seseorang menjadi lurah, maka tempat tinggalnya menjadi pusat pemerintahan.

Lurah Cabeyan terakhir yang diketahui adalah Irosentono. Ia menjabat sampai tahun 1946. Peninggalan sejarah yang masih tersisa dari Irosentono adalah rumah joglo yang sudah ada sejak zaman Belanda. Sementara itu, saksi bisunya sebuah pohon jambu air yang hingga saat ini masih hidup dan berbuah.

Rumah joglo Irosentono diperkirakan berusia lebih dari 70 tahun. Selama kurun waktu tersebut, rumah ini jarang sekali dipugar. Pernah satu waktu mendapat kesempatan diperbaiki ketika Bantul diguncang gempa pada tahun 2006, alasannya karena kondisi rumah joglo sempat miring. Kemudian, pemugaran besar-besaran baru dilakukan pada 2019.

Berdiri kokoh sebuah pohon jambu yang usianya tidak kalah tua dengan usia rumah joglo. Pohon jambu air ini juga merupakan saksi bisu perubahan jaman di Cabeyan. Jika dulu sering dipanjat dan dimanfaatkan buahnya, saat ini kondisi pohon tidak terawat. Pada musim berbuah, jambu dibiarkan jatuh tanpa dimanfaatkan.

Pada 1946, Kalurahan Cabeyan, Prancak, dan Krapyak bergabung menjadi satu kelurahan. Hal ini berdasarkan Maklumat 7, 14, 15, 16, 17, dan 18 Monarki Yogyakarta Tahun 1946 yang mengatur tentang Tata Kalurahan. Berdasarkan maklumat tersebut, maka ditetapkanlah tanggal 24 Desember 1946 sebagai hari jadi Desa Panggungharjo.

Peraturan baru tersebut dikuatkan kembali dengan adanya Maklumat Nomor 5 Tahun 1948 Pemerintah Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Yogyakarta tentang Hal Perubahan Daerah-Daerah Kalurahan dan Nama-namanya.

Salah satu isi maklumat menyatakan bahwa dilakukan penggabungan tiga kelurahan, yaitu Kalurahan Cabeyan, Prancak, dan Krapyak menjadi Kalurahan Panggungharjo. Nama Panggungharjo dipilih atas kesepakatan tiga lurah. Hal ini dikarenakan terdapat peninggalan Kerajaan Mataram yang berupa Panggung Krapyak di wilayah Panggungharjo.

Setelah perubahan Cabeyan dari sebuah kalurahan menjadi sebuah pedukuhan, sejarah baru kembali dimulai. Beberapa pedukuhan yang semula dalam cakupan Kalurahan Cabeyan, seperti Pedukuhan Cabeyan, Garon, Ngireng-ireng, dan Geneng, kini tergabung dalam Kelurahan Panggungharjo.

Setelah menjadi pedukuhan, diadakanlah pemilihan untuk menentukan pemimpin atau kepala dukuh. Pada saat itu, yang dipilih adalah sosok yang dianggap vokal atau bisa menjadi juru bicara untuk mewakili suara masyarakat.

Maka, atas kesepakatan bersama terpilih Purwo Utomo sebagai dukuh pertama Cabeyan. Setelah itu, diteruskan oleh Srigati Sumaryanto, lalu dilanjutkan oleh Sunarno, dan kemudian Sri Hartuti terpilih sebagai pengemban tugas hingga saat ini.