Berdialog dengan Diri Sendiri Untuk Memahami Arti Labsos

Mahasiswa UNU Yogyakarta Foto Bersama Setelah Matrikulasi. JUNAEDI

Menurut saya, kegiatan Laboratorium Sosial (Labsos) merupakan kegiatan pembelajaran di luar kelas, di mana pembelajaran lebih banyak di lapangan dan mengamati setiap yang terjadi, intinya mahasiswa akan mencoba untuk melakukan riset.

Kali ini saya baru pertama kali melakukan Labsos. Tempat yang menjadi objek adalah Kalurahan Panggungharjo dan kegiatan sudah terlaksana selama kurang lebih satu minggu. Kala itu saya belum memahami kegiatan dan tujuannya.

Bagi saya, kegiatan ini bagus untuk pembelajaran mahasiswa, terlebih lagi mahasiswa akan merasakan pengalaman baru yang terjadi di lapangan. Barankali dengan adanya Labsos, mahasiswa akan menemukan persoalan dan mencoba menguraikan dan memecahkannya.

Maka dari itu, sepatutnya saya harus mengenal tentang Kalurahan Panggungharjo terlebih dahulu. Bagaimana bisa memberi solusi tanpa memahami, betul atau tidak? Mengikuti Labsos ini menjadi jalan ninja saya untuk langsung terjun ke masyarakat dan mengenal yang namanya Panggungharjo.

Ketika terjun ke lapangan, saya dapat mengetahui seluk-beluk Kalurahan Panggungharjo yang memiliki banyak unit usaha dan lembaga, seperti Kampoeng Mataraman, Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS), Pasardesa.id, Koperasi Dewi Kunti, Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID), dan Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID).

Pengalaman pertama yang saya terima adalah mendapat pembekalan dari Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). Selama kegiatan Labsos saya mengikuti kegiatan observasi lapangan ke KUPA. Dalam kunjungan ke KUPAS, saya langsung mengamati sebagian yang ada di lokasi, seperti tumpukan sampah, kendang sapi, ada lahan pertanian juga.

Awalnya tidak menyangka sampah yang begitu menumpuk tersebut masih bisa diolah. Salah satunya ada sampah organik yang diproses menjadi pupuk kompos, selain itu juga ada beberapa sampah yang harus dipisah-pisah. Kegiatan observasi ini membuat saya belajar dalam menemukan suatu titik persoalan yang ada di unit usaha tersebut dan mencoba memahami semua karakteristiknya.

Seorang mahasiswa seharusnya mampu lebih jauh dalam menanggapi isu-isu yang terjadi, tidak heran apabila Labsos ini perlu diadakan. Sepengetahuan saya, Labsos baru diterapkan di UNU Yogyakarta. Sebutan Labsos di kampus lain biasanya dikenal dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau magang.

Sebagai mahasiswa UNU Yogyakarta sangat bangga sekali dengan kampus saya karena adanya kegiatan Labsos. Menurut saya, ada beberapa hal yang masih kurang, di antaranya dari penerapan komunikasi antar mahasiswa dengan dosen yang kurang sinkron sehingga mahasiswa merasa bingung dengan kegiatan yang akan dilakukan.

Sebenarnya saya sudah memilih tempat Labsos di Lintang Songo, namun ternyata kuota sudah terpenuhi dan tiba-tiba saya langsung ditempatkan di Kalurahan Panggungharjo. Sempat terbesit untuk menolak karena tujuan semula saya ingin belajar riset dengan tema budidaya tanaman hortikultura. Saya pikir, saya tetap harus menerima dan memahami bahwa tidak semua keinginan dapat tercapai.

Kemudian, saya mencoba mengambil pilihan untuk Labsos di Kalurahan Panggungharjo, terlebih lagi jarak dari tempat yang sayang tinggali sekarang tidak terlalu jauh. Lokasi saya berada di Pondok Pesantren UNU Yogyakarta, tepatnya di daerah Karanggede.

Alhamdulillah, selama kegiatan berlangsung saya dapat hadir sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak Kalurahan Panggungharjo. Saya sempat sedikit kebingungan karena program studi (prodi) saya agribisnis, sedangkan saya berpikir bahwa desa dan pemerintahannya kurang selaras dengan jurusan yang saya geluti.

Mulai dari situ saya tertarik terhadap materi agribisnis yang memunculkan pertanyaan di benak saya. Jawaban yang ingin saya ketahui, yakni ada atau tidaknya keterkaitan antara desa dengan agribisnis. Kegiatan pembelajaran seperti di dalam kampus atau ruang kelas membuat saya hanya mendapatkan ilmu pengetahuan teori tanpa adanya fakta langsung, mungkin ini termasuk proses belajar seorang mahasiswa agar lebih memahami hubungan desa dengan lingkup agribisnis.

Setidaknya pembelajaran tidak hanya mencakup teori saja, tetapi mahasiswa dapat mengimplementasikan teori yang dipelajari. Hal itu bertujuan agar mahasiswa dapat membuktikan sendiri bahwa teori yang dipelajari sesuai dengan kenyataannya atau berbeda. Jadi, pembelajaran langsung terjun ke lapangan, lumayan sekali dapat menambah skill dan mengasah kemampuan mahasiswa lebih jauh, serta dapat mengantongi pengalaman yang barangkali akan berguna bagi ke depannya.

Bagi saya ilmu praktek langsung itu adalah hal yang penting. Belajar teori tanpa ada praktek, maka itu akan susah ke depannya. Sebagai contoh, saya mahasiswa yang belajar di dalam kelas dengan mengandalkan teori cara budidaya tanaman sawi, tetapi dengan teori saja apakah akan sama ketika di lapangan? Jawabannya, belum tentu sama.

Begitu pun mahasiswa yang kini tengah melakukan Labsos. Kami hanya dibekali dan dicekoki teori selama enam semester. Selama itu juga kami hanya berkutat dengan deretan huruf di setiap lembarnya. Kemudian, kami diterjunkan ke lapangan, apakah akan sama teori yang dipelajari di kelas dengan kegiatan selama Labsos di Kalurahan Panggungharjo?

Kegiatan ini merupakan suatu pembelajaran terkait riset dalam memahami segala entitas yang ada di Kalurahan Panggungharjo. Mungkin kegiatan Labsos akan lebih fokus lagi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dengan begitu saya sebagai seorang mahasiswa prodi agribisnis tertuju pada lembaga yang berkaitan dengan bisnis.

Pada kenyataannya, ada beberapa yang masuk dalam prospek agribisnis, seperti adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Saya pernah belajar terkait materinya, hanya saja tidak terlalu rinci dan masih belum bisa memahami. Barangkali dengan adanya Labsos saya bisa lebih dalam lagi mengenal cara kerja BUMDES dan penerapannya di masyarakat.

Sebenarnya saya juga meninjau Kalurahan Panggungharjo yang begitu maju dan berkembang dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Suatu saat ilmu tersebut ingin saya jadikan acuan ketika berada di kampung halaman karena desa yang saya tinggali baru berdiri selama empat tahun. Bisa dibilang desa yang masih permulaan sehingga saya berharap dapat membantu mengembangkannya.

Add Comment