39 Tahun Nelayan DIY, Akselerasi Menuju Among Tani Dagang Layar

‘Angin bertiup, mengembangkan layar membawa harapan, mutiara bermunculan bagai laron di musim hujan. Ikan-ikan memanggil-manggil, nyiur melambai, merangkai kisah baru untuk esok, selatan, selatan nan jaya, bumi bagi masa depan.’

Bukan lautan, hanya kolam susu,

Kail dan jala cukup menghidupimu,

Tiada badai, tiada ombak kautemui,

Ikan dan udang menghampiri dirimu.

Festival Perahu Hias Among Tani Dagang Layar 2017 di Kulon Progo. DKP KULON PROGO

Mengutip sajak Dadang Juliantara dan lirik lagu Koes Plus di atas, tidak berlebihan apabila digunakan sebagai penggugah dan motivasi untuk mengakselerasi terwujudnya ‘Among Tani Dagang Layar’ dan sekaligus putar kemudi ke visi maritim.

Potensi sumber daya ikan di laut sudah tidak diragukan lagi kekayaannya. Artinya, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya masih dapat dioptimalkan dan masih mempunyai potensi ekonomi yang besar, terlebih pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI) 573 yakni perairan selatan pulau Jawa sampai selatan laut Timor. Masih ditambah dengan potensi deep sea water yang sampai saat ini masih minim pemanfaatan.

Kendala utama dalam pengembangan perikanan tangkap di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah mengubah budaya perilaku petani ke nelayan ‘transformasi budaya petani ke nelayan’, yang berkaitan erat dengan budaya.

Bagi nelayan dari daerah lain bila disebut nenek moyangnya pelaut dapat diakui kebenarannya, akan tetapi bagi nelayan DIY sebutan itu bisa dikatakan ‘kurang pas’, barangkali lebih tepat sebutannya nenek moyang nelayan DIY adalah nenek moyangnya budaya dan seni atau mungkin petani.

Alasannya, masyarakat pesisir atau nelayan DIY mulai berani menangkap ikan ke tengah laut baru tahun 1982, apabila dihitung baru berumur sekitar 39 tahun. Berbeda dengan nelayan di daerah lain, usia pengalaman sudah ratusan tahun. Namun ada yang membanggakan nelayan DIY pada umumnya, pendidikannya lebih tinggi dibandingkan nelayan daerah lain.

Hal ini dapat diatasi melalui sentuhan dari berbagai stakeholder dengan penuh komitmen dan konsistensi. Mengubah budaya memang tidak gampang, namun demikian bukan berarti tidak bisa, hal ini tetap bisa dilakukan namun butuh waktu dan komitmen.

Saat ini jumlah nelayan DIY sudah lebih dari tiga ribu orang, akan tetapi mayoritas (>50 persen) berstatus nelayan sambilan tambahan, sedang sisanya nelayan sambilan utama, nelayan utama dan nelayan andon (boro).

‘Among Tani Dagang Layar’ dimaksudkan untuk menyeimbangkan pembangunan antara daratan (land) dengan lautan (ocean). Selama ini pembangunan yang telah berlangsung lama berorientasi daratan, sedangkan di pesisir dan laut masih belum mendapatkan perhatian yang serius, bahkan terpinggirkan dapat dikatakan sebagai anak tiri. Alhamdulillah mulai perlahan sekarang sudah mendapat perhatian yang besar dan serius.

Mudah-mudahan semua pemangku kepentingan ‘menyengkuyung’ guyub rukun untuk program ini. Oleh karena itu, diperlukan pemerataan pembangunan, kemanusiaan, keadilan, dan peradaban. Dari hal ini kesejahteraan dapat tercapai secara berkelanjutan.

‘Among Tani Dagang Layar’ diharapkan dapat memacu dan mempercepat (akselerasi) pembangunan di pesisir dan laut, sehingga ke depan terjadi keseimbangan pembangunan dan pengembangan antara di daratan dan di laut.

Akselerasi Transformasi

Transformasi petani ke nelayan dapat diartikan sebagai perubahan budaya, karakteristik, struktur, dan kemampuan petani beralih menjadi nelayan dalam menumbuhkembangkan pola kehidupannya, dalam rangka menyejahterakan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan.

Proses transformasi budaya usaha dicirikan oleh perusahan yang mencakup aspek kaitan pasar dan orientasi ekonomi, mutu, manajemen, dan spirit usaha yang menggerakan, bentuk keorganisasian (kemitraan) usaha dan lainnya. Apabila dilihat secara mendalam proses transformasi dipengaruhi oleh adanya respons terhadap tuntutan hidup yang lebih baik dan dinamika pasar global atau keterbukaan pasar.

Yogyakarta dalam membangun peradaban barunya dengan strategi mengembalikan paradigma ‘Among Tani Dagang Layar’. Pembangunan berbasis daratan menuju kemaritiman yaitu dengan menggali, mengkaji, menguji, dan mengembangkan keunggulan lokal dan tidak mengabaikan kearifan lokal.

Konsekuensinya pesisir selatan bukan lagi sebagai halaman belakang, akan tetapi dijadikan halaman depan, dengan harapan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Untuk mengakselerasi terwujudnyaAmong Tani Dagang Layar’, langkah-langkah yang harus diupayakan adalah dengan meningkatkan kapasitas kelembagaan budaya maritim, membangun budaya konsumsi makan ikan, fasilitasi kelembagaan budaya maritim, dan inventarisasi budaya masyarakat. Mudah-mudahan semua pemangku kepentingan serius menyukseskannya sehingga ke depan masyarakat lebih sejahtera dan mandiri. Insyaallah.