Alih Kejayaan Industri Minyak ke Teknologi

Ilustrasi Digital Marketing. FREEPIK

Zaman dahulu, ketika masih sekitar pertengahan abad 16-17, orang-orang Eropa mulai melakukan penjelajahan. Mereka ingin menjelajah tempat baru, dengan melakukan Gold, Glory dan Gospel atau 3G. Belanda datang ke Hindia Belanda untuk menjual rempah rempah berkualitas tinggi ke eropa. Rempah-rempah saat itu merupakan komoditas yang paling berharga.

Namun zaman selalu berubah, wacana penjajahan atau kolonialisme sudah disadari orang Eropa, sehingga mereka juga akan melakukan pelepasan jajahannya. Setelah era rempah-rempah dan revolusi industri, komoditi yang paling laris adalah kekayaan alam, misal minyak, gas, batu bara, dan lain sebagainya.

Di abad ke-20, manusia mulai sadar terhadap teknologi, sehingga diciptakanlah teknologi untuk kepentingan industri dan ekonomi. Teknologi salah satunya digunakan untuk explore minyak dan gas alam, karena industri di abad 19-20 masih sangat membutuhkan minyak dan gas.

Tidak heran negara seperti Arab Saudi yang sebelumnya termasuk negara miskin, tiba-tiba menjadi kerajaan yang kaya, karena menjadi negara dengan produksi dan ekspor minyak terbesar di dunia. Sejarah minyak di Arab Saudi cukup menarik, karena sebelumnya mereka mendirikan perusahaan minyak Saudi Aramco bersama perusahaan dari Amerika.

Namun, kemudian Saudi Aramco dinasionalisasi oleh Arab Saudi 100 persen sehingga Saudi Aramco menjadi landasan utama bagi kekayaan negeri Arab Saudi. Abad ke-20 diwarnai oleh supremasi perusahaan minyak, ExxonMobil, perusahaan minyak dari Amerika menjadi perusahaan yang mempunyai kapitalisasi terbesar di dunia, bersaing dengan Microsoft.

Namun, memasuki abad ke-21 ini, perkembangan sains dan teknologi sangat cepat. Abad ke-21 menunjukkan bahwa perusahaan teknologi mempunyai valuasi lebih besar daripada perusahaan minyak atau gas. Majalah Forbes merilis data bahwa perusahaan teknologi mampu mempunyai kapitalisasi terbesar di dunia.

Saat ini Apple, perusahaan teknologi yang mempunyai kapitalisasi terbesar di dunia, disusul oleh Microsoft maupun Amazon. Sedangkan perusahaan komoditas seperti ExxonMobil turun cukup signifikan. Namun ada juga perusahaan minyak Saudi Aramco yang IPO di tahun 2019 dan valuasinya sempat melonjak sampai US$ 2 triliun, namun kemudian turun lagi.

Sebenarnya perusahaan tambang juga harus memiliki teknologi tinggi dalam eksplorasi minyak maupun gas alam. Sebagai contoh, meski hubungan Rusia dan Amerika sering memanas, Rosneft BUMN minyak Rusia bekerja sama dengan ExxonMobil untuk explorasi minyak di Arctic atau kutub utara.

Di tahun 2020 ini, juga tercatat bahwa harga gas dan minyak anjlok tajam, karena terjadi over supply. Rusia dan Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia sama-sama tidak mau menurunkan produksinya.

Kembali ke bisnis teknologi, saat ini saya pikir tidak ada bisnis yang valuasinya cepat melejit tajam kecuali valuasi perusahaan startup teknologi IT.

Di Indonesia kita bisa melihat Gojek yang kapasitasnya sudah menjadi Decacorn, atau telah disuntik dana kapital di atas US$ 10 billion. Valuasi Gojek, sudah melampaui valuasi perusahaan Garuda Indonesia maupun Taxi Bluebird saja, meski Gojek tidak punya aset alat transportasi.

Di Amerika sendiri, performa valuasi perusahaan teknologi luar biasa. Amazon, Microsoft, Apple, Google telah melampaui valuasi US$ 1 triliun, dan Facebook akan segera menyusul.

Investasi di perusahaan teknologi ini juga cukup menguntungkan, sehingga Warren Buffet sebagai investor paling handal, yang semula menghindari investasi di perusahaan IT, kemudian ikut membeli saham Apple, dan Buffet menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Carl Icahn.

Tak bisa dimungkiri, saat ini salah satu cara cepat untuk kaya adalah membuat startup teknologi, meski hal ini tidak mudah dan lebih banyak startup yang gagal daripada yang berhasil