Bahaya Kapal Nelayan untuk Wisata

Wisata Pantai. KAPANEWON SRANDAKAN

Setiap membaca media cetak, tentang kapal nelayan yang digunakan sebagai wahana wisata dan mengangkut para wisatawan, muncul rasa kekhawatiran yang cukup besar. Kekhawatiran ini beralasan, mengingat pernah terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, seperti kapal terbalik atau kecelakaan lainnya. Walaupun tim SAR selalu siaga, namun perlu dipahami bahwa setiap jenis transportasi baik air, udara, dan darat memiliki perizinan masing-masing.

Banyak wisatawan yang datang ke pantai setiap hari libur, tidak sedikit dari mereka yang ingin naik kapal nelayan dan berlayar ke tengah laut. Para wisatawan ini ingin melihat dan menikmati laut serta indahnya daratan dari laut. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya kapal nelayan tidak diperuntukan untuk mengangkut penumpang, apalagi untuk wisata. Dokumen perizinan kapal nelayan pun berbeda dengan kapal wisata. Ada aspek risiko yang diabaikan para penyedia jasa demi meraup keuntungan.

Izin kapal nelayan hanya digunakan untuk kegiatan menangkap ikan, sedangkan kapal wisata bahari perizinannya untuk kapal wisata. Umumnya perizinan disesuaikan dengan fungsi kapal, misal kapal tanker, kapal penumpang, kapal perang, kapal wisata, kapal tonda, kapal penangkap ikan atau kapal nelayan, dan banyak lagi. Semuanya mempunyai perizinan yang berbeda-beda.

Secara umum dokumen perizinan kapal yang harus dimiliki untuk semua kapal, antara lain surat ukur, pas kapal/pas tahunan, dan gross akte. Persyaratan selanjutnya harus melengkapi dokumen perijinan yang berbeda sesuai fungsinya.

Kapal penangkapan ikan harus dilengkapi dengan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), sedangkan kapal penumpang harus dilengkapi dengan surat izin pengangkutan penumpang, kapal wisata harus dilengkapi dengan izin kapal wisata, dan seterusnya. Selain dokumen kapal dan perizinannya, kapal juga harus dilengkapi dengan peralatan navigasi, alat keselamatan pelayaran, dan alat komunikasi.

Kapal penangkap ikan (kapal nelayan) sangat berbahaya untuk mengangkut wisatawan, baik di laut, di laguna, di sungai, di waduk, maupun perairan lainnya tanpa ada izin sebagai kapal wisata.

Peruntukan dan kelengkapan yang ada di masing-masing kapal sangat berbeda. Kalau kapal tersebut memiliki izin sebagai kapal penangkap ikan, maka kapal tersebut hanya dapat digunakan untuk kegiatan menangkap ikan. Tidak boleh digunakan untuk mengangkut wisatawan. Jika kapal nelayan dipaksakan untuk mengangkut wisatawan, jaminan keselamatan bagi para wisatawan sangat kurang.

Resiko besar yang ada jika kapal nelayan mengangkut wisatawan, antara lain desain kapal nelayan bukan untuk wisata, peralatan dan perlengkapan yang ada dalam kapal nelayan tidak sesuai untuk wisata, kapal tidak dilengkapi jaminan asuransi, kemungkinan tidak semua wisatawan bisa berenang, belum ada regulasi, dan kelebihan penumpang (overload).

Penggunaan kapal penangkap ikan untuk melayani wisatawan ke laut sangat membahayakan dan tidak sesuai dengan peraturan. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko kecelakaan bagi wisatawan di laut, perlu dibuat regulasi terkait dengan pengembangan wisata bahari yang menggunakan fasilitas kapal nelayan.

Sementara itu, untuk mencegah kapal nelayan dipakai mengangkut wisatawan, maka semua stakeholder, seperti pemilik kapal, nakhoda, crew, pengelola, dan wisatawan perlu diedukasi tentang resikonya.

Selain itu, peran syahbandar di pelabuhan sangat penting karena selama kapal tersebut tidak mempunyai dokumen lengkap dan perizinan, pihak syahbandar sebagai filter terakhir yang akan meloloskan kapal untuk berlayar dengan menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), padahal untuk kapal nelayan sebelum diterbitkan SPB, nakhoda harus sudah memiliki Surat Layak Operasional (SLO).

Para pengusaha jasa wisata pantai, saat ini belum menangkap peluang wisata bahari yang menggunakan kapal. Semangat pemerintah kabupaten untuk mengembangkan pesisir atau pantai sebagai tujuan wisata sangat besar, namun masih ada yang belum memperhatikan faktor-faktor keselamatan wisatawan dan belum didukung dengan fasilitas yang memadai, terutama para wisatawan yang naik kapal ikan.

Akan sangat baik jika peluang ini dimanfaatkan oleh pemda atau pihak swasta untuk menyediakan fasilitas wisata bahari, khususnya terkait dengan kapal wisata yang memadai. Melalui cara ini, diharapkan minat wisatawan akan naik dan semakin banyak yang datang bermalam.

Akan lebih menarik lagi jika kapal wisata dilengkapi dengan perizinan menangkap ikan atau dikombinasikan, misal kapal pancing tonda ataupun kapal yang di fasilitasi dengan peralatan memancing.

Selain menambah minat wisatawan, dengan adanya kapal wisata yang memadai dapat menambah lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapatan warga sekitar, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan pendapatan asli daerah. Semoga kedepannya lebih tertib sesuai dengan peraturannya dan wisata bahari lebih nyaman dan maju.