Bahkan Pandemi Tak Surutkan Panggungharjo ‘Tuk Inovatif

Kantor Kalurahan Panggungharjo. DATABASE KEWILAYAHAN DIY

Kalurahan Panggungharjo merupakan salah satu desa yang dinobatkan sebagai desa terbaik se-Indonesia. Tentunya desa ini memiliki alasan kuat yang membuatnya layak diberi predikat tersebut. Meskipun tidak memiliki bentang alam yang menjadi daya tarik, namun mampu menemukan potensi desanya sehingga predikat desa terbaik dan desa mandiri memang layak disematkan.

Sejak diberlakukan Undang-undang Desa, pemerintah pusat menghimbau untuk membuat dan mengoptimalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang merupakan lembaga usaha untuk mendorong produktivitas ekonomi warga desa. Kalurahan Panggungharjo juga memiliki badan usaha tersebut, namanya BUMDES Panggung Lestari.

Tujuan adanya BUMDES untuk mengoptimalkan pengelolaan aset desa, memajukan perekonomian desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sifatnya berorientasi pada pengelolaan usaha yang terbuka, jujur, partisipatif, dan keadilan. Fungsinya sebagai penggerak perekonomian desa, menghasilkan pendapatan, dan sebagai sarana untuk mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Peran BUMDES di Kalurahan Panggungharjo guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi sosial yang berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat. Selain itu, untuk memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian.

BUMDES sebagai pondasi terus berupaya dalam mewujudkan dan mengembangkan perekonomian masyarakat desa dengan meningkatkan penghasilan sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kemakmuran masyarakat itu sendiri.

BUMDES Panggung Lestari terdapat Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS). Belajar dari unit usaha ini, kita bisa menyadari betapa pentingnya mengedukasi sejak dini terkait sampah sehingga kita bisa mengerti berbagai macam pengelolaan sampah itu sendiri.

Dengan adanya kunjungan ke KUPAS, Nono selaku karyawan menyampaikan, “Kita harus mengawali semuanya dengan peduli, alasan saya bekerja di tempat sampah adalah peduli karena sampah tidak akan ada matinya sampai kapanpun.”

Iya, benar. Sampah tidak akan pernah ada matinya sampai kapan pun karena dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia pasti memiliki sampah baik organik maupun non organik. Awal berdirinya KUPAS di Kalurahan Panggungharjo berangkat dari tingkat padukuhan melalui program-program pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya program tersebut, KUPAS dapat menghasilkan lingkungan yang sehat, serta memberikan contoh terhadap sistem pengelolaan sampah yang inovatif dan produktif bagi desa-desa lain.

Rizki selaku Manager KUPAS menyampaikan bahwa terdapat 3 jenis sampah di antaranya sampah residu (sampah yang tidak bisa di daur ulang), sampah organik, dan sampah non organik. Melalui pemaparan tersebut saya memperoleh gambaran tentang sistem pengelolaan sampah di Kalurahan Panggungarjo dan beberapa hambatan yang muncul yang berkaitan dengan aspek-aspek teknik operasional, pembiayaan, dan peran serta masyarakat.

Teknik operasional atau penanganan awal sampah, pengolahan, pengangkutan, dan peroses akhir dijalankan secara terstruktur dan sesuai dengan kebijakan yang ada di KUPAS. Sedangkan biaya dalam pengolahan sampah didanai oleh pemerintah desa melalu APBDES. Hasil dari penjualan produk sampah pun merupakan pendapatan tambahan bagi BUMDES. Biaya operasional serta manajemen dalam pengolahan sampah di Kalurahan Panggungharjo berasal dari hasil penjualan produk olahan sampah.

Kontribusi masyarakat dalam hal ini adalah mereka tidak keberatan membayar retribusi layanan sampah. Beberapa hambatan yang muncul dalam pengelolaan sampah adalah kurang partisipasinya masyarakat yang tidak bisa memilah dan memilih sampah sejak awal. Hal ini sangat berpengaruh di dalam waktu, biaya, dan teknik operasional pengelolahan sampah.

Omset yang dihasilkan KUPAS meliputi bank sampah. Bank sampah di sini lebih memfokuskan kepada sampah non organik, seperti barang bekas yang dikumpulkan oleh masyarakat. Bank sampah sudah berdiri sejak tahun 2018 dan aktif sampai sekarang, serta pengurusnya pun tidak ada upah sama sekali karena hal itu merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Bank sampah bekerja sama dengan pegadaian emas dalam bentuk tabungan jadi, tidak dalam bentuk uang. Hal itu diciptakan agar dapat merubah pola pikir masyarakat terhadap sampah.

Unit usaha lain adalah Kampoeng Mataraman yang bergerak di bidang kuliner. Berdiri sejak tahun 2017 dengan program eksplorasi desa yang dipadu dengan bisnis kuliner dalam konsep wisata pedesaan. Wisata ini bediri di atas tanah seluas enam hektar yang merupakan tanah kas desa. Awal mulanya adalah tempat rawa-rawa atau aliran pembuangan desa sehingga dengan adanya ide dan inovasi dapat dimanfaatkan untuk menjadi lapangan pekerjaan.

Jualan yang disajikan makanan dan minuman yang identik dengan ciri khas desa. Arsitekturnya berupa limasan yang menambah suasana Jawa zaman dahulu. Kampoeng Mataraman ini dikelola penuh oleh warga desa, semua pegawainya adalah warga yang tidak memiliki kesempatan untuk bekerja di tempat lain.

Awal perintisan terdapat lima orang karyawan dan lambat laun mencapai sebanyak lima puluh orang karyawan. Tetapi karena adanya pandemi Covid-19 jumlah orang karyawan tersisa tinggal 27 orang. Tak lepas dari ciri khasnya, karyawan Kampoeng Mataraman pun menggunakan baju lurik untuk menambah kesan ndeso.

Dalam pencatatan awal berdirinya Kampoeng Mataraman, laporan keuangan dicatat secara manual dengan menggunakan kertas, namun saat ini pencatatannya sudah menggunakan aplikasi dan tidak manual lagi. Melalui kisah ini kita banyak mendapatkan pengetahuan dan inovasi-inovasi baru bahwa segala sesuatu yang ingin kita kembangkan atau yang ingin kita kelola akan menjadi wadah besar dan peluang besar.

Selain unit usaha yang berkembang, ada lembaga Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) yang didirikan pada tahun 2020 untuk mewujudkan pengalaman yang dikemas dalam bentuk pengetahuan. Pengetahuan tersebut bisa digunakan oleh pemerintah dan warga guna mendorong sebuah kamandirian yang ada di Kalurahan Panggungharjo.

Ketika pandemi Covid-19 melanda, YSID mampu melahirkan inovasi baru, yaitu dibuatnya aplikasi Pasardesa.id sebagai bentuk tindakan mengurangi dampak bencana ekonomi bagi warga desa. Pasardesa.id muncul sebagai platform marketplace digital, selain itu Pasardesa.id menjadi pendukung Bantuan Langsung Tunai (BLT) dana desa.

Sistem Pasardesa.id berjalan seperti pasar online yang menghubungkan semua pedagang. Aplikasi ini tidak hanya digunakan oleh pedagang dari Panggungharjo, melainkan dipergunakan oleh desa lain, yakni Desa Ngestiharjo, Desa Guwosari, Pajangan, Desa Wirokerten, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, dan Yogyakarta. Target pengguna dari Pasardesa.id adalah warga keluarga harapan. Mereka bisa memperoleh semua jenis kebutuhan yang berasal dari pedangang desa.

Hadirnya Pasardesa.id tidak terlepas dari peranan Lurah Panggungharjo. Konsepnya sendiri adalah untuk menghubungkan warga yang terdampak ekonomi, seperti warung-warung yang memiliki penghasilan tidak tetap. Hadirnya Pasardesa.id sebagai sebuah solusi penyebaran Covid-19 sangat memungkinkan karena kegiatan transaksi dilakukan online.

One thought on “Bahkan Pandemi Tak Surutkan Panggungharjo ‘Tuk Inovatif

Add Comment