Belajar di Desa Sehat

Panggungharjo Menjadi Tempat Belajar Desa Lain. IG/KUPAS

Setelah perjalanan yang begitu panjang, sampailah di penghujung waktu perkuliahan ini yang rasanya tanpa aba-aba langsung disambut oleh kegiatan Laboratorium Sosial (Labsos). Ini bukan akhir, sebab di ujung sana ada skripsi yang sedang menanti.

Tahun ini saya mendapat giliran untuk melaksanakan program pembelajaran tersebut. Pertama kali yang dirasakan ketika akan mengikuti Labsos ini, bingung. Banyak tanda tanya yang memenuhi kepala, terkait lokasi yang akan saya jadikan tempat menimba ilmu, tentang kegiatannya, daSeteln masih banyak lagi.

Seiring dengan berjalannya waktu, pihak kampus melakukan bimbingan dan menjelaskan tentang Labsos yang sempat membuat saya bingung. Berkat penjelasan tersebut, semua teman saya dapat melihat gambaran kegiatan. Seketika kebingungan saya langsung pergi.

Sebelumnya, saya diberi hak untuk memilih lokus kegiatan di sektor hortikultura. Pilihan saya jatuh pada suatu tempat. Tepatnya di salah satu kecamatan di Kabupaten Sleman. Saya sudah merencanakan kegiatan yang kira-kira dapat dilaksanakan pada Labsos ini, tapi semua berubah dan rencana saya hanya menjadi bayangan.

Ternyata, pilihan tersebut masih belum bisa pasti. Dengan kata lain, masih menggantung. Instruksi dari pihak kampus pun berupa himbauan untuk menunggu informasi selanjutnya.

Informasi terkait Labsos akhirnya keluar dan saya mendapat kabar bahwa tempat Labsos saya pindah. Tidak seperti pilihan saya di awal. Tempat baru saya letaknya berada di sisi selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih tepatnya, saya akan mendedikasikan diri saya selama beberapa minggu di Kalurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Saya mencoba berpikir positif, barangkali Tuhan tengah menunjukan jalan yang sebaik-baiknya untuk saya. Dengan tekad kuat dan dibarengi keteguhan hati, seraya merapal bismillah, saya berdoa agar setiap hal yang akan saya lalui selama labsos di Kalurahan Panggungharjo diberikan kelancaran hingga akhir dan mendapat manfaat dari kegiatan ini.

Penerjunan labsos pun dimulai, disambut dengan pembukaan dari pihak kampus yang diwakili langsung oleh rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU), sedangkan dari pihak desa dibuka oleh Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo.

Setelah mendengar pemaparan dari Wahyudi, saya berpikir, sepertinya ini bukan desa biasa dan menarik untuk dipelajari. Ada beberapa poin dari pemaparan yang menguatkan pernyataan bukan desa biasa tersebut, yaitu Kalurahan Panggungharjo sebagai salah satu desa percontohan KPK. Bisa diartikan bahwa praktik korupsi tidak terjadi di desa ini.

Terdapat hal lain yang membuat saya takjub dengan desa ini, mereka memiliki usaha di bidang kuliner. Usahanya cukup besar, namanya Kampoeng Mataraman. Kehadirannya bagai oasis sehingga mampu memberdayakan masyarakat Kalurahan Panggungharjo karena berhasil menyerap banyak tenaga kerja. Saya jarang menemukan kegiatan seperti ini di desa lain.

Pada waktu pembukaan, Wahyudi baru memaparkan sedikit materi, tetapi dengan materi yang baru sedikit sudah menarik perhatian dan membuat saya ingin memperdalami seluk-beluk Panggungharjo.

Kini, arti dari sebuah kata sehat tidak selalu identik dengan makhluk hidup, jasmani, dan rohani, namun memiliki arti yang luas. Kata sehat bisa mencakup semuanya, tak terkecuali dalam konteks desa. Menurut saya, desa sehat bukan yang selalu terhindar dari sebuah penyakit atau wabah, melainkan desa yang memiliki banyak program yang tentunya akan bermuara pada manfaat atau membantu masyarakatnya.

Program-program atau unit-unit usaha tersebut tidak hanya sebagai alat untuk mendapatkan sebuah keuntungan, melainkan juga dapat memberikan penghidupan dan mengurangi angka pengangguran yang ada di desa melalui usaha tersebut. Pernyataan ini sangatlah sesuai dengan pemaparan Lurah Panggungharjo pada hari berikutnya. Ia menjelaskan bahwa di Kalurahan Panggungharjo memiliki banyak program, yakni Program Bantuan Pendidikan, Program Layanan Persalinan, Program Keperawatan Lansia Ketergantungan, dan Program Aksi Simpati.

Program tersebut tidak lepas dari Undang-undang Dasar Pasal 28 Ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk mengembangkan diri, memenuhi kebutuhan dasarnya, dan berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan, seni serta budaya. Demi meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup manusia, dibuatlah program tersebut.

Langkah yang ditempuh pemerintah desa guna mewujudkan masyarakat yang lebih berkualitas dan sejahtera, dibuatlah berbagai unit usaha. Perkembangannya dimulai dari Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (KUPAS) yang berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Panggung Lestari. Hadirnya mendorong inovasi-inovasi di sektor perdagangan bermunculan. Pembentukan unit-unit usaha bertujuan memperkuat perekonomian di Kalurahan Panggungharjo.

Bagi saya, tidak ada yang tidak menarik untuk dipelajari karena tidak semua desa memiliki program tersebut, seperti di desa saya. Salah satu program yang menarik bagi saya, yaitu terkait dengan bantuan pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu. Program bantuan pendidikan ini merupakan salah satu upaya nyata dari pemerintah desa untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, berwawasan, serta dapat mengentaskan kemiskinan. Hal ini didasari dengan adanya keyakinan dari pemerintah desa yang menganggap solusi untuk dapat memutus rantai kemiskinan yaitu melalui jalan pendidikan.

Bantuan ini diberikan kepada masyarakat kurang mampu yang mempunyai tunggakan biaya pendidikan, baik dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi.

Kemudian, usaha yang dibentuk oleh Kalurahan Panggungharjo juga menarik untuk didalami. Terutama unit usaha KUPAS. Berdiri sejak tahun 2013 dan menjadi unit usaha pertama bagi BUMDES Panggung Lestari. Berangkat dari keprihatinan terhadap sampah yang tidak terkelola dengan baik, kini unit usaha ini berhasil menyulap rasa prihatin menjadi rasa syukur. Hadirnya rasa syukur itu sebab semakin meningkatnya kebersihan lingkungan dan tentu saja adanya KUPAS di tengah-tengah masyarakat mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Kehadirannya diharapkan dapat mengoptimalkan potensi lokal apapun yang dimiliki oleh desa, untuk melakukan perubahan budaya baru dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan, serta untuk membuka lapangan pekerjaan. Beberapa manfaat yang dihasilkan, yakni lebih terkelolanya sampah rumah tangga di desa. Hal itu menciptakan lingkungan hidup pedesaan yang sehat, terserapnya lebih banyak tenaga kerja yang ada di desa, dan untuk memberikan percontohan sistem pengelolaan sampah rumah tangga yang inovatif dan produktif bagi desa-desa lain di Indonesia.

Kalurahan Panggungharjo merupakan salah satu desa yang sudah mengoptimalkan potensi-potensi yang dimiliki melalui program dan usaha yang telah dibentuk oleh pemerintah desa. Walaupun masih ada permasalahan yang terjadi di lapangan, hal tersebut tak menyurutkan untuk lebih berkembang.

Sebagai catatan lagi, desa tempat saya menimba ilmu ini adalah salah satu desa yang bisa dijadikan contoh nyata bagi desa lain karena kemandiriannya. Barangkali sebuah tagline yang sering kita dengar ‘dari rakyat, untuk rakyat’ bisa disematkan di Kalurahan Panggungharjo sebab sebuah usaha yang sudah dilaksanakan sejak dari dini dan kini sudah menuai hasilnya. Oleh karena itu saya sangatlah bersyukur dapat belajar dan terjun langsung di desa ini. Saya harap, saya dapat mengaplikasikan di desa.