Bukan Sekadar Mitos, Ternyata BUMDES Membawa Kesejahteraan

Kunjungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi ke Kampoeng Mataraman. MEDIA PANGGUNGHARJO

Kalurahan Panggungharjo adalah salah satu desa yang mendapat berbagai penghargaan, baik di tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. Pernah dinobatkan menjadi desa terbaik se-Indonesia. Mendapat penghargaan menjadi desa terbaik tentu memiliki banyak kelebihan yang tersimpan. Jika dilihat sekilas, desa tersebut tidak memiliki lanskap yang baik seperti pegunungan atau pantai, namun Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo mampu menemukan potensi yang dapat dikembangkan.

Perlu diketahui bahwa pendapatan asli desa di atas satu miliar per tahun. Pendapatan itu bersumber dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang dirintis sejak 2013 atau sebelum Undang-undang tentang desa disahkan.

Wahyudi Anggoro Hadi adalah lurah yang sadar data. Soal usaha bank sampah misalnya, data menunjukkan adanya peluang ekonomi di sana. Pada 2013, ketika beliau hendak memulai usaha tersebut, penduduk Panggungharjo tercatat masih sekitar 27 ribu jiwa. Sampah warga mencapai 56 meter kubik per hari atau setara enam truk sampah. Ongkos mengelola sampah sebanyak itu sekitar 4,1 juta rupiah per hari, mulai dari pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), biaya sewa kendaraan, tenaga kerja, bahan bakar, dan retribusi ke TPA.

Dengan data itu, pada 25 Maret 2013, Wahyudi kemudian mendirikan badan usaha desa untuk mengelola sampah. Modal awalnya 37 juta rupiah, dan pekerjaan yang dilakukan, yakni mengambil dan mengolah sampah di setiap dusun. Uang operasional dan pengelolaan sampah berasal dari retribusi warga. Sesuai jenis sampah dan volumenya, tarif berkisar antara 20 ribu rupiah hingga 25 ribu rupiah per bulan.

Tahun 2013, ada lebih dari seribu pelanggan. Sampai akhir 2017 jumlah pelanggan mencapai 1.013, lalu meningkat menjadi 1.067 pada 2018, dan 1.092 pelanggan di tahun 2019. Hingga tahun lalu rata-rata pendapatan dari retribusi sampah mencapai 25 juta rupiah per bulan. Itu saja belum pendapatan dari pilah sampah menjadi rosok. Rata-rata hasil penjualan rosok sekitar 7,8 juta rupiah per bulan, dan ada juga tambahan pendapatan dari pengolahan sampah organik menjadi pupuk.

Usaha sampah itu lumayan berkembang, dan kini memiliki enam belas orang karyawan. Mereka terdiri dari penarik sampah, pemilah sampah, pemilah rosok, dan petugas yang mengambil sampah. Status karyawan beragam, dari pekerja kontrak hingga harian. Para pengambil sampah ini juga punya peran khusus.

“Kami minta mereka untuk menyapa warga dan mendengar keluhannya,” kata Wahyudi, menjadi mata dan telinga desa saat mengambil sampah.

Berdasarkan hasil ‘dengar curhat’ itu, muncul beberapa ide, seperti pembuatan pupuk organik. Hingga tahun 2019, lini usaha itu menghasilkan sekitar lima kuintal pupuk organik padat dan ratusan liter pupuk organik cair. Pupuk organik itu digunakan untuk keperluan sendiri, khususnya mendukung unit usaha agro, dan selebihnya dijual untuk umum.

Pengelolaan sampah ini merupakan unit usaha pertama yang dimiliki BUMDES Kalurahan Panggungharjo atau biasa dikenal dengan nama BUMDES Panggung Lestari. Sebelum pandemi, 60% tenaga kerja BUMDES berasal dari kelompok rentan seperti orang jalanan, ODGJ, dan lain-lain. Hambatan di KUPAS terletak di manajemen sumber daya manusianya. Ada beberapa kendala juga di bagian sistem akuntansi, manajemen komplain, dan basis data yang valid.

Pada 2018 Panggungharjo mendirikan PT. Sinergi Panggung Lestari (PTSPL), yang bergerak dalam pengelolaan minyak goreng bekas menjadi jelantah atau Used Coconut Oils (UCO). Usaha minyak jelantah ini bermula dari limbah minyak goreng bekas warga yang tidak dimanfaatkan lagi. Selain terbuang sia-sia, pembuangan jelantah juga dapat merusak lingkungan dalam jangka panjang.

Inilah yang mendasari pengelolaan minyak goreng bekas untuk menjadi UCO atau bahan bakar mesin untuk industri. Kerja sama pertama adalah dengan PT. Tirta Inveskama (Danone Aqua) di klaten. Sebetulnya penjajakan kerja sama sudah dilakukan tiga tahun sebelumnya, namun masih berupa riset mesin pengolah minyak jelantah yang sesuai dengan mesin milik PT. Tirta Inveskama. Pada 2016, BUMDES Panggung Lestari mengirim UCO ke Danone Aqua Klaten sebanyak 34 ton. Lalu, setahun berikutnya naik menjadi 41 ton.

Rata-rata pengiriman ke pihak Danone Klaten mencapai 2 ton setiap bulannya. Sayangnya kerja sama itu berakhir pada oktober 2018, lantaran ada surat edaran dari Kementrian ESDM yang ditujukan pada Danone Aqua terkait aturan standar filtrasi minyak UCO yang digunakan industri.

BUMDES Panggung Lestari juga melirik potensi bisnis lainnya, yakni industri minyak nyamplung (tamanu oil). Pada tahun 2018 badan usaha itu menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Minyak nyamplung yang sudah melalui proses penyaringan, lalu dikemas ke wadah khusus untuk di distribusikan. Produk minyak nyamplung ini dipasarkan ke seluruh Indonesia melalui platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan lainnya.

Pencapaian usaha ini juga sangat membanggakan. Pada awal 2020, usaha minyak nyamplung ini lolos menjadi salah satu peserta dalam sayembara yang dibuat The Royal Academy of Engineering, Prince Philip House, Inggris.

Kumarati Tamanu Oil produk BUMDES Panggungharjo itu menyisihkan 1.200 peserta lainnya melalui penjurian ketat oleh Kedutaan Besar Inggris. Selama sepekan di Inggris, peserta yang lolos akan mengikuti sesi pengembangan bisnis dan kepemimpinan.

Selain itu, terdapat unit usaha BUMDES lainnya, yaitu Kampoeng Mataraman. Kampoeng Mataraman adalah salah satu unit usaha BUMDES Panggung Lestari yang bergerak dibidang kuliner. Berawal dari kegelisahan Wahyudi tentang tidak adanya keindahan alam di Panggungharjo, lantas ia menciptakan Kampoeng Mataraman pada tahun 2017 dengan mengusup konsep pedesaan di zaman Mataram Islam.

Dulu, tempat yang sekarang menjadi Kampoeng Mataraman itu adalah rawa-rawa milik desa. Disulapnya rawa-rawa menjadi tempat yang menakjubkan karena kegelisahan pemerintah desa terhadap banyak pengangguran di Kalurahan Panggungharjo.

“Ketika ada warga yang dianggap marginal, pemerintah desa harus turun tangan. Mereka harus diajak maju, dilatih, dan dibimbing untuk menjadi lebih baik,” ujar Wahyudi.

Hingga saat ini 99% karyawan Kampoeng Mataraman adalah warga Panggungharjo itu sendiri. Kampoeng Mataraman menggunakan lahan seluas enam hektar tanah kas desa. “Modal awalnya sekitar 670 juta rupiah dan itu memakai modal utangan,” tutur Nuzulina selaku Manajer Kampoeng Mataraman.

Selain menjadi tempat kuliner, Kampoeng Mataraman juga disewakan sebagai tempat untuk wedding, rapat, dan lain-lain. Pada tahun 2018, kementerian memberi apresiasi usaha yang dibuat oleh BUMDES Panggungharjo itu. Bahkan agar menambah semangat, kementerian memakai Kampoeng Mataraman untuk melantik sejumlah pejabat eselon satu.

Jumlah pengunjung Kampoeng Mataraman rata-rata 100-300 orang per hari, dan puncaknya pada akhir pekan. Sayangnya, ketika pandemi Kampoeng Mataraman sempat menutup semua layanannya selama tiga bulan.

Target pasar Kampoeng Mataraman adalah untuk menengah ke atas. Biasanya pengungjungnya adalah rombongan keluarga. Para pegunjung sangat senang karena anak-anak mereka bisa bermain dengan aman dan nyaman. Terlebih lagi di masa pandemi seperti ini protokol kesehatan dan jaga jaraknya sangat diperhatikan.

Unit usaha selanjutnya adalah Pasardesa.id. Bergerak di bidang perdangangan berbasis digital, Pasardesa.id lahir di tahun 2020 karena pandemi. Ini adalah sebuah aplikasi untuk reseller menjual produk-produk UMKM desa. Cara kerjanya adalah reseller menawarkan ke orang-orang melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, dan lain-lain.

Indonesia sendiri terdapat 74 ribu desa dan 37 ribu diantaranya memiliki BUMDES yang tersebar di pelosok negeri. Belum ada platform secara khusus yang mengutamakan distribusi produk dari desa, oleh desa, dan untuk desa padahal selain harga yang lebih kompetitif, terdapat sekian aspek lain sebagai benefit. Aplikasi ini menjadi wadah transaksi bagi produk unggulan desa. Usaha ini memperkuat produktifitas desa dan komunitas dengan cara yang mudah, praktis, dan efisien.

Beberapa keuntungan menjadi reseller Pasardesa.id, yakni secara otomatis memiliki toko online yang bisa diatur sesuai keinginan, dapat berjualan tanpa mempunyai stok produk di rumah, mendapatkan pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan omset, mendapatkan komisi reseller dari setiap hasil penjualan, dan tim pasar desa akan membantu dalam memilih konten untuk berjualan.

Beberapa hambatan pun turut menyertai perjalanan Pasardesa.id, seperti keterbatasan sumber daya manusia untuk operasional. Sumber daya manusia masih terbatas untuk menjalankan model bisnis yang ditetapkan. Beberapa fungsi belum berjalan dengan maksimal. Tak terkecuali hambatan yang dari pihak BUMDES, yaitu kapasitas BUMDES berbeda-beda baik dari segi lembaga, kapasitas sumber daya manusia, dan jenis usaha yang dijalankan oleh BUMDES.

 

 

Add Comment