BUMDES Maju, Desa Berdikari

BUMDES Panggung Lestari Mendapat Penghargaan di Tingkat ASEAN. KABAR JOGJA

Panggungharjo merupakan salah satu kalurahan yang terletak di Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul. Faktanya desa ini merupakan daerah strategis ekonomi dengan pemasukan sektor jasa serta perdagangan kurang lebih 70, sedangkan sekitar 30 persen dari pertanian. Perihal yang menarik adalah tidak banyak bentang alam, tetapi desa ini sanggup menggunakan bentang sosial dan bentang budaya sampai tiap tahunnya memperoleh apresiasi dari berbagai pihak.

Kalurahan Panggungharjo memperoleh penghargaan di tingkat ASEAN pada tahun 2019. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas inovasi-inovasi yang dicoba pemerintah desa dalam rangka mewujudkan akuntabilitas serta transparansi. Misi tersebut ditegaskan dengan dibuatnya MoU dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), berkolaborasi dengan Kantor Arsip Kabupaten Bantul, serta penerbitan Koran Desa.

Dalam hal pemberdayaan ekonomi, semenjak tahun 2013 dengan modal 25 juta rupiah pemerintah desa membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang bergerak dalam pengolahan sampah, kuliner, dan e-commerce.

Desa ini bisa menjadi satu-satunya desa yang mempunyai BUMDES yang mengelola sampah. Sampah tersebut dikelola mulai dari dipilah, didaur ulang, hingga dijual. Sampah- sampah organik diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah non organik diolah menjadi bahan kerajinan. Nama unit ini adalah Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS). Didirikan pada tahun 2013 dan merupakan unit usaha awal yang dimiliki BUMDES Panggung Lestari.

KUPAS memfokuskan usahanya pada bidang jasa pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Bentuk nyata pemerintah desa dalam mengatasi permasalahan ini dengan memperkenalkan layanan pengelolaan sampah, yang dikemas dalam suatu sistem dengan mengintegrasikan bermacam aktor, yakni pemerintah desa, lembaga desa, dan warga.

KUPAS juga memanfaatkan sumber daya manusia yang berasal dari dinas sosial dengan latar belakang pemulung, selain itu karyawan banyak juga yang berasal dari daerah setempat. Wujud nyata Pemerintah Panggungharjo serta warga dalam pengelolaan sampah rumah tangga, yakni meraka tidak keberatan membayar retribusi pelayanan persampahan.

Hambatan yang timbul dalam sistem pengelolaan sampah rumah tangga di Panggungharjo merupakan rendahnya partisipasi warga. Mereka tidak memilah sampah mereka semenjak awal. Hal ini mengurangi keefektifan serta keefisiensian, baik bayaran maupun waktu, dalam metode operasional serta pengelolaan sampah.

Guna meningkatkan persan serta masyarakat desa, pemerintah membentuk lembaga pengelola sampah di setiap tingkatan RT di empat belas padukuhan. Ini bisa kita ketahui bahwa pengelolaan sampah rumah tangga terpadu sudah diterapkan di Kalurahan Panggungharjo.

Unit usaha kedua adalah Kampoeng Mataraman dan merupakan salah satu kampung wisata yang dibangun oleh Pemerintah Panggungharjo dengan luas kurang lebih tiga hektar. Konsep yang diusung ialah pedesaan tempo dulu. Wisatawan dapat menikmati serta merasakan atmosfer seperti sedang menjelajah di abad ke-19. Berbagai kuliner serta gaya kehidupan sosial di era tersebut ditampilkan, seperti pakaian yang dikenakan oleh para pramusaji. Mereka berbusana menggunakan lurik untuk merepresentasikan zaman Kerajaan Mataraman.

Beberapa nilai secara implisit dihadirkan dari Kampoeng Mataraman adalah nuansa desa yang sehat ditafsirkan dengan suasana perdesaan, baju karyawan yang menggunakan pakaian abad ke-19 dengan tampilan asli tanpa mengenakan make up maupun yang yang lain, serta pangan ataupun santapan yang ditawarkan dari Kampoeng Mataraman ini berkonsep kearifan lokal sehingga tidak heran menu- menu yang terdapat di Kampoeng Mataraman ini dapat dikatakan ndeso.

Tidak hanya KUPAS dan Kampoeng Mataraman saja, tetapi PT. Sinergi Panggung Lestari (PTSPL) merupakan bagian dari BUMDES. Didirikan semenjak paruh kedua tahun 2018 dengan tujuan membuka jalur untuk masyarakat desa selaku pemilik langsung BUMDES. Perseroan ini ialah satu satunya produsen minyak nyamplung atau tamanu oil di Indonesia.

Tamanu oil ialah komoditas internasional yang secara luas digunakan secara langsung atau dijadikan bahan baku industri kosmetika. Menariknya lagi, Kalurahan Panggungharjo tidak mempunyai sumber bahan baku tanaman nyamplung. Bahan baku dihadirkan dari berbagai daerah di Jawa Tengah serta Jawa Timur.

Ketika pandemi muncul dan terjadi beberapa krisis, Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo berinisiatif menciptakan aplikasi Pasardesa.id. Tujuannya agar masyarakat desa tetap dapat menjajakan produknya. Hadirnya menjadi suatu upaya dari pemerintah desa dalam menanggulangi dampak kerugian akibat persebaran Covid-19, paling utama dalam aspek non klinis. Konsep nilai yang melatarbelakangi Pasardesa.id ada empat, yakni mitigasi, solidaritas, kerja sama, serta ekonomi berbagi.

Nilai mitigasi memiliki maksud kedudukan platform ini sesungguhnya tidak hanya langkah untuk melaksanakan stabilisasi pasar, namun sekaligus hadir menjadi bagian dari penangkalan meluasnya sebaran Covid-19.

Nilai solidaritas memiliki makna bahwa Pasardesa.id ini membagikan pengembalian dua puluh persen untuk konsumen yang belanja di atas 250 ribu rupiah dalam bentuk paket sembako yang harus diberikan kepada masyarakat desa yang memerlukan. Inilah upaya platform ini dengan mengusung slogan ‘Berbagi Belanja.’

Nilai kerja sama, yakni berarti stakeholder yang ikut serta paling utama dari sisi penyedia benda, meliputi bermacam jenis mitra menyediakan aneka benda kebutuhan mulai dari sembako, kebutuhan dapur, hingga kebutuhan bunda serta anak.

Nilai ekonomi berbagi dimaknai guna memenuhi kebutuhan masyarakat mengenai bahan pangan serta kebutuhan lain, yang tidak didapatkan dari penyedia barang yang berada jauh dari mereka sehingga daya beli serta cadangan ekonomi warga yang menipis.

Dalam melaksanakan subholding ini ada lima insfrastruktur yang wajib di jalankan, yaitu insfrastruktur politik, insfrastruktur sosial, insfrastruktur ekonomi, insfrastruktur teknologi, dan insfrastruktur pengetahuan. Wahyudi mengatakan bahwa terdapat banyaknya lembaga desa ini diharapkan akan menjadi akselerator pemulihan roda ekonomi yang bersumber dari desa.

Orientasi pembangunan kawasan Kalurahan Panggungharjo merupakan upaya untuk tingkatkan mutu pelayanan pembangunan serta pemberdayaan warga desa di kawasan ini lewat pendekatan pembangunan partisipatif. Mandat UU Desa mengenai desa kawasan selaku langkah progresif, di mana sepanjang ini pembangunan yang sektoral serta egosentris dapat dieliminir secara lambat- laun.

Impian kemandirian desa lewat sinergi serta kerja sama antar desa dalam rangka memeratakan kesejahteraan warga desa jadi kebutuhan yang mendesak serta absolut. Desa merupakan ujung tombak pembangunan negara. Kemakmuran bangsa serta negeri berada pada desa. Bangsa serta negeri dinilai bermartabat apabila desanya makmur serta kuat.

Indonesia bagaimanapun merupakan kumpulan dari ribuan desa. Membangun Indonesia berarti meniscayakan pembangunan terhadap desanya. Bukan perihal yang gampang untuk menggapai cita-cita kemajuan desa jika tidak diberdayakan secara maksimal. Maka membangun negara adalah membangun desanya. Desa seolah terlupakan dari pembangunan sehingga tidak heran bila banyak penduduk desa mencari pekerjaan di kota besar yang dikira pembangunan serta ekonominya jauh lebih maju.

Hal ini berakibat pada permasalahan urbanisasi mulai dari kemacetan, tata kota yang kacau balau, kepadatan penduduk, sampai tingkatan kriminalitas yang besar. Disparitas perkembangan ekonomi antara desa serta kota sangat besar. Arus urbanisasi yang demikian kencang pula dapat merangsang ledakan pengangguran yang begitu besar di perkotaan.

Tidak hanya itu, akibat urbanisasi ini pula hendak menyebabkan penumpukan perekonomian yang terkonsentrasi pada kota-kota besar semata. Hal itu memberikan kesimpulan akibat dari pola pikir dan tindakan tersebut menimbulkan disparitas antara desa dengan kota kian menganga.

Sebagian upaya yang dicoba oleh pemerintah Kalurahan Panggungharjo untuk menekan titik- titik perekonomian memiliki tujuan agar lebih setara serta menyeluruh. Salah satunya dengan menggalakan program ekonomi yang berbasis pedesaan. Inti dari gebrakan tersebut adalah membuat kembali tingkatkan gairah perekonomian di zona pedesaan. Tidak terpaku pada keahlian teknis dan sumber daya manusia yang dinilai mumpuni serta bermutu.

Berkembangnya Kalurahan Panggungharjo ini didukung oleh kinerja pemerintahan desa yang sanggup meresap nilai-nilai lokal dan sumber daya manusia setempat. Kearifan lokal sejatinya sanggup mendesak timbulnya kemandirian desa yang ditopang oleh kuatnya motivasi untuk masyarakatnya. Hal ini akan menjadi modal yang berarti bagi masyarakat guna meningkatkan keunggulan negara.

Desa merupakan jantung pada sebuah negara. Membangun desa sama dengan membangun negara. Dalam formasi pembangunan partisipatif, pembangunan kawasan pedesaan bukan hanya menempatkan desa sebagai posisi dan objek penerima manfaat, namun menguatkan posisi desa selaku subjek yang ikut serta mengakses dalam arena aktivitas pembangunan kawasan pedesaan. Pastinya pemberdayaan dalam zona ini bisa kita rasakan dengan berlakunya BUMDES, meskipun belum menyeluruh terdapat di segala wilayah.

Add Comment