Desa Ini Menyelipkan Rasa Takjub di Pandangan Pertama

Acara Stadium General dan Penerjunan Mahasiswa UNU. AHMAD SYAHRUDDIN

Tak terasa saat ini, saya sudah mencapai tingkat semester tua dalam artian semester tujuh. Mata kuliah yang wajib dilaksanakan salah satunya adalah Action Riset atau magang. Pembagian kelompok dan tempat magang ditentukan oleh Universitas tanpa harus mencari anggota kelompok dan tempat magang sendiri.

Nampaknya, keberuntungan tengah menghinggapi Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) sebab memiliki kesempatan magang di Kalurahan Panggungharjo. Banyak universitas ternama di Yogyakarta ingin melakukan magang di sana, namun jumlah peserta magang dibatasi karena covid-19.

Satu kata yang menggambarkan kesan pertama saya terhadap Kalurahan Panggungharjo, rasanya takjub. Kedua obsidian saya tak henti–hentinya memandang lingkungan di wilayah tersebut karena terlihat asri dan indah.

Banyak hal yang membuat saya nyaman berada di Kalurahan Panggungharjo. Salah satunya karena disana banyak berbagai jenis tanaman. Mulai dari tanaman buah hingga tanaman hias. Keberadaan tanaman itulah yang menjadikan udara di wilayah kelurahan Panggungharjo menjadi lebih segar dibandingkan dengan lingkungan tempat saya tinggal. Selain tempat yang nyaman saya merasakan adanya keramahan lingkungan di daerah panggungharjo.

Terdapat satu kolam dengan ukuran besar yang diselimuti bunga teratai dan menjadikan tempat itu menjadi lebih bagus. Bunga teratai bermekaran saat pagi hari, namun ketika siang menjemput bunga teratai kembali menguncup. Meskipun begitu, tidak merubah keindahan pada panggungharjo.

Tepat di tengah kolam ada jembatan yang semakin menambah keindahan. Hal itulah yang sering dimanfaatkan oleh para pengunjung sebagai lokasi foto, termasuk saya. Saya menyempatkan diri mengabadikan momen bersama teman–teman di sela-sela waktu magang. Memang wajib hukumnya mengabadikan diri ketika berjumpa dengan tempat yang indah.

Kami tidak perlu khawatir apabila lapar melanda sebab tempat ini memang bagian dari Kampoeng Mataraman. Tempat ini sebenarnya rumah makan dengan suasana pedesaan. Hidangan yang disajikan pun berupa makanan dan minuman tradisonal yang ditata rapi membentuk prasmanan. Para pelayan pun berdandan menggunakan pakaian adat Jawa sehingga aura tradisional sangat kental terasa ketika berkunjung.

Seiring berjalannya waktu, rumah makan ini harus mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, dari segi menu minuman. Pengelola Resto menambahkan beberapa varian jus buah, namun tetap tidak menghilangkan unsur tradisonal.

Sembari menikmati makanan dan minuman, pengunjung disuguhkan dengan alunan musik jawa. Alunan musik jawa diputar saat rumah makan mulai buka sampai tutup. Ditambah dengan arsitektur rumah makan yang berbentuk joglo semakin mengentalkan atmosfer tradisionalnya. Hal itu membuat orang semakin betah bila berada di Kampoeng Mataraman.

Desain yang ditampilkan menonjolkan nuansa kekeluargaan. Tidak heran apabila tamu yang berkunjung sering kali berasal dari rombongan keluarga. Tidak hanya didatangi dari daerah Bantul dan sekitarnya, namun keluarga dari berbagai daerah pun turut menikmati hidangan dan keindahan alam yang disajikan. Bangunan Joglo yang disediakan membuat suasana menjadi semakin syahdu dan nyaman sehingga para pengunjung dapat dengan tenang menikmatinya.

Lingkungan yang dijaga kebersihannya tidak hanya Kampoeng Mataraman oleh pemerintah desa, namun seluruh bagian Kalurahan Panggungharjo mendapat perhatian yang sama. Rahasia dari terjaganya lingkungan, yakni sampah yang dikelola dengan baik.

Pengelolaan sampah ini sangat terbantu karena masyarakat turut andil dalam menjaga lingkungan. Setiap dua hari sekali sampah-sampah itu diambil dan dipilih mana yang bisa didaur ulang. Sedangkan sampah yang tidak bisa didaur ulang dikelola menjadi pupuk organik.

Kalurahan Panggungharjo merupakan desa yang sangat strategis. Alasan saya beri sebutan desa yang strategi karena letaknya berada di Ringroad Selatan yang menjadikan para pengunjung mudah melakukan kunjungan ke Kampoeng Mataraman.

Sarana dan prasarana tersedia di sana, seperti mushola dan aula yang bisa disewakan untuk acara pernikahan atau acara penting lainnya. Kampoeng Mataraman pun dapat digunakan untuk beberapa kegiatan, contohnya seperti kegiatan rapat, seminar, dan buka bersama ketika bulan Ramadan.

Kampoeng Mataraman pernah berada pada titik yang tidak memungkinkan karena adanya pandemi. Wahyudi dan sang manajer sepakat untuk menutup sementara. Tiga bulan lamanya. Saat ini, Kampoeng Mataraman sudah kembali dibuka, namun dengan beberapa peraturan baru yang ditetapkan oleh pemerintah. Peraturan tersebut berupa 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Peraturan dibuat dengan meyesuaikan anjuran pemerintah agar dapat menekan penyebaran Covid-19.

Bak sedia payung sebelum hujan, Kalurahan Panggungharjo sudah memiliki pelindung untuk bertahan dari Covid-19, yakni dana sosial untuk masyarakat yang diberi nama Badan Pelaksana Jaring Pengaman Sosial (Bapel JPS). Tujuannya adalah merealisasikan salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh masyarakat yang berdomisili dan ber-KTP Panggungharjo.

Jauh sebelum adanya pandemi Covid-19, Kalurahan Panggungharjo sudah memiliki program ini dan saat pandemi pun masih tetap berjalan, di antaranya layanan pendidikan untuk pembayaran sekolah dan layanan untuk warga lanjut usia (lansia) oleh perawat desa.

Apabila ada anak yang ingin sekolah namun tidak mampu, pihak pemerintah desa siap untuk menanggung biayanya, tetapi ada proses yang harus dilalui. Untuk mendapatkannya, warga perlu menyampaikan surat dan dokumen permohonan pendidikan kepada Lurah Panggungharjo. Setelah itu, akan dilakukan proses survey ke rumah pemohon dan sekolah yang dituju.

Hal yang berkesan bagi saya adalah, masyarakat Panggungharjo terkenal dengan keramahannya. Mulai dari lurah sampai masyarakatnya. Mereka menyambut kami dengan suka cita. Kami juga mendapatkan materi atau penjelasan dari lurah serta penanggungjawab pada setiap lembaga yang ada di Panggungharjo.

Semua materi yang diberikan pada kami tidak lain adalah materi tentang Kalurahan Panggungharjo beserta lembaga-lembaga yang ada di tempat tersebut, seperti Kampoeng mataram, Koperasi Dewi Kunti, Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID), Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID), Pasardesa.id, dan KUPAS.

Materi diberikan agar kami memiliki bekal ketika diterjunkan ke lembaga-lembaga yang ada di Panggungharjo. Sekaligus, agar kami memahami dengan benar arti dari penelitian yang tengah dijalankan dari awal berjalannya sebuah lembaga sampai macam-macam kendala yang dialami pada saat lembaga bertumbuh.

Saat materi diberikan, kami tidak luput dari pengawasan para dosen pembimbing dan dari pihak kampus yang bersangkutan. Perbedaan pendapat antara mahasiswa menjadikan konflik tersendiri dalam menentukan lokasi pembagian kelompok. Ada sedikit kejadian yang membuat kami sebagai mahasiswa merasa tidak enak dengan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan saat itu, khususnya orang yang bekerja di Kalurahan Panggungharjo.

Penelitian kami berbeda dari kampus-kampus yang lain, maka dari itu kami harus selalu mengamati setiap materi yang disampaikan dan selalu mengumpulkan data dari setiap lembaga yang diberikan.

Bagi mereka yang berdomisili dan ber-KTP Panggungharjo akan lebih mudah dalam mendapat pekerjaan di lembaga-lembaga desa. Pemerintah desa ingin memanfaatkan sumber daya manusia yang ada, namun mereka tetap membuka lowongan bagi warga di luar Panggungharjo. Tentu saja kriterianya lebih ditentukan, yakni minimal harus memiliki pengalaman selama tiga tahun.

Sebuah desa yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya sendiri itu sebuah keunggulan tersendiri bagi saya karena pemandangan tersebut sangat jarang saya temui, bahkan tidak pernah. Alasan di balik semua itu adalah Kalurahan Panggungharjo ingin warganya mengalami peningkatan kesejahteraan ekonomi.

Kalurahan Panggungharjo sendiri selalu menjunjung tinggi musyawarah kepada masyarakatnya. Adanya musyawarah ini diharapkan dapat mengikis jarak antara masyarakat, lembaga, dan pemerintah desa sehingga relasi yang erat dapat tercipta. Musyawarah juga dianggap sebagai jaminan kesuksesan BUMDES. Hal lain yang menjamin kesuksesan BUMDES, yaitu kualitas musyawarah desa dan kapasitas direkturnya.

 

Add Comment