Hal yang Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah

Ilustrasi Akad Nikah. ISTOCKPHOTO

Mendengar kata ‘menikah’ membuat terbang melayang-layang membayangkan betapa megahnya acara pernikahan saya kelak. Ditambah lagi desas desus tentang mereka yang memutuskan untuk ‘menikah muda’. Berbicara tentang pernikahan, siapa sih yang tidak ingin menikah? Pasti tidak ada. Barangkali, hidup bersama dengan orang yang dicintai merupakan salah satu harapan terbesar manusia bukan?

Bukan hanya soal bersama untuk kesenangan semata, dalam membina rumah tangga tak jarang perselisihan kerap singgah, entah itu kecil maupun besar. Menghadapi hal itu, suami istri perlu bekerja sama untuk dapat menyelesaikan masalah mereka.

Untuk menghindari percekcokan yang bisa saja semakin besar ketika berumah tangga kelak, perlu diketahui beberapa hal yang harus dibicarakan sebelum menikah. Supaya nantinya dapat berjalan dengan lancar serta minim akan perdebatan. Oleh karena itu, penting membicarakan beberapa hal sebelum menikah.

  1. Tujuan menikah

Hal pertama yang perlu ditanyakan, yaitu tujuan menikah. Pertanyaan ini membantu kita mengetahui niat masing-masing pihak. Tujuan ini nantinya akan menentukan cara bahtera dijalankan dan arah yang ingin dicapai. Sebagai contoh, ada pasangan yang berencana menikah dengan tujuan beribadah kepada Allah, langkah yang diambil sang istri dengan cara berbakti dan mengabdi kepada sang suami. Kemudian, sang suami turut membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, mencium kening istri, mengayomi, serta menafkahi istri pun sudah dihitung sebagai ibadah.

  1. Visi dan misi

Selain berbicara mengenai tujuan, pembicaraan mengenai visi dan misi menikah merupakan hal yang tak kalah penting. Visi misi ini diperlukan guna mengetahui target dan langkah yang akan dilakukan. Memiliki visi dan misi yang sejalan, tampaknya lebih mempermudah dalam mengambil keputusan dan mengurangi perselisihan. Seperti yang pernah saya dengar dari seorang Youtuber pada saat itu, “Menikahlah dengan orang yang satu visi misi denganmu.”

  1. Tempat tinggal

Tempat tinggal setelah melangsungkan pernikahan juga perlu dibicarakan sebelum menikah, apakah nantinya akan satu atap dengan orang tua atau mengontrak atau bahkan membuat rumah sendiri? Hal ini perlu dibicarakan berkaitan dengan rasa nyaman atau ketidaknyamanan orang-orang yang bersinggungan langsung.

Mayoritas menantu yang tinggal dirumah orang tua akan merasa sedikit tidak nyaman ketika orang tua ikut campur dalam urusan rumah tangga, bahkan untuk urusan terkecil. Selain itu, rasa tidak nyaman juga bisa timbul karena takut salah melakukan sesuatu yang berhubungan terhadap pelayanannya kepada suami, rasanya takut kalau pelayanannya terhadap suami kurang dianggap maksimal. Berbeda ketika mendapat mertua yang nompo opo anane, barangkali akan nyaman-nyaman saja ketika tinggal satu atap.

  1. Karier

Karir adalah sesuatu yang tidak mengganggu sama sekali ketika kita masih lajang, namun kehidupan menikah bisa saja menjadikannya sebuah problematika yang berujung pertengkaran. Terutama bagi perempuan sebab masih ada lelaki yang menuntut istrinya agar tetap di rumah dan mengurus anak saja. Sebuah perselisihan tidak dapat dihalau apabila perempuan tersebut berniat menjadi wanita karier. Sebaliknya, perempuan pun perlu menanyakan pendapat kepada calon suami perihal dirinya yang tidak ingin bekerja.

Obrolan tentang bekerja ini tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti pekerjaan tersebut menggunakan sistem pengaturan jam kerja yang dibagi atau tidak, kekuatan finansial keluarga masih mampu atau tidak jika yang bekerja hanya satu orang, dan sebagainya. Oleh karena itu, membicarakan pekerjaan sebelum menikah sangat disarankan.

  1. Keuangan

Selanjutnya merupakan hal sensitif, yakni masalah keuangan. Berbicara tentang uang menjadi semakin bersemangat, ya? Tapi kali ini akan sedikit lebih rumit, pembahasan tentang keuangan sebelum menikah bukan melulu soal nominal yang diberikan sang suami kepada sang istri, melainkan pertanyaan yang menyangkut hutang. Jika memiliki hutang, maka perlu diluruskan bahwa hutang tersebut akan dibayar oleh sang istri atau sang suami.

Ada hal yang tak boleh luput dari atensi dalam membicarakan keuangan sebelum menikah, yaitu menunjuk dan memutuskan si peran utama dalam mengelola uang rumah tangga. Mengatur keuangan tidaklah mudah, terutama jika pasangan mempunyai penghasilan yang pas-pasan dengan tanggungan keluarga yang lumayan banyak.

Peran istri di sini menjadi begitu penting karena mayoritas perempuan dalam rumah tangga biasanya menjadi pemegang semua harta suami. Tetapi, tidak menutup kemungkinan dalam hal mengatur keuangan dilakukan secara bersama-sama atau diatur oleh suami.

  1. Kebiasaaan masing-masing

Kebiasaan di setiap individu pastinya berbeda-beda. Jika kalian ingin menikah maka perlu juga membahas tentang kebiasaan dengan pasangan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pasanganmu nanti dapat menerima kamu beserta kebiasaan-kebiasaan tersebut atau tidak.

  1. Pembagian tugas rumah tangga

Pembahasan selanjutnya mengenai pembagian tugas rumah tangga. Hal ini untuk menentukan pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh sang istri atau sang suami atau dilakukan bersama-sama. Beberapa perempuan ada yang menganggap bahwa melakukan pekerjaan rumah tangga adalah menjadi pembantu.

Ya, memang benar dalam Islam tidak ada hadis atau ayat Al-quran yang mewajibkan seorang istri mengerjakan semua tugas rumah tangga sehingga tidak menutup kemungkinan suami ikut berperan membantu meringankan beban sang istri. Justru hal tersebut akan menjadikan rumah tangga semakin harmonis.

  1. Penyelesaian masalah keluarga

Selanjutnya, penting menanyakan kepada calon pasanganmu mengenai cara dia dalam memecahkan masalah yang terjadi di rumah tangga maupun keluarga besar. Apakah dia akan menyelesaikannya dengan emosional atau dengan kepala dingin? Menurut saya ini perlu diperhatikan guna menghindari sikap-sikap yang mengarah kepada kekerasan dalam rumah tangga.

  1. Anak

Lalu, hal selanjutnya adalah pembicaraan mengenai anak. Contohnya jumlah anak yang diinginkan, cara mengasuh anak, dan orang yang mengasuh anak. Berbicara mengenai anak, lantas bayangan yang muncul adalah bayi lucu dan mungil. Namun, untuk merawat bayi sampai menjadi dewasa tentunya bukan hal yang mudah. Perlu dilakukan pembekalan agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, selain itu ayah dan Ibu juga perlu mengajarkan atau membiasakan sesuatu yang positif agar anak dapat merekam dan mempraktikannya.

  1. Perayaan pernikahan seperti apa yang diinginkan

Bab terpenting dalam sebuah pernikahan adalah bukan seberapa hebatnya acara perayaan pernikahanmu, tetapi bagaimana kehidupanmu setelah menikah. Ada beberapa orang yang merayakan pernikahannya secara berlebihan, tetapi mereka lupa bahwa kehidupan setelah menikah itu lebih penting.

Salah satu yang sering terlupakan adalah tentang bagaimana kesiapan mental serta kondisi finansial setelah melangsungkan pernikahan yang megah dengan bujet pas-pasan. Dengan kondisi finansial yang pas-pasan, namun ingin melakukan perayaan yang megah menjadikan kalian terlilit hutang sehingga kehidupan di masa yang akan datang menjadi terkendala atau biasa disebut dengan ‘gali lubang tutup lubang’.

Bagaimana sudah cukup riweuh dan rempong, ‘kan? Ya, kira-kira begitu beberapa hal yang perlu kamu bicarakan dengan pasanganmu agar jalan untuk ke depan menjadi lebih mudah. Berdasarkan pembahasan di atas hal yang perlu disimpulkan adalah jangan sembarangan memilih calon suami atau istri karena hidup dengan pasangan tidak hanya 1 atau 2 tahun saja, melainkan sampai menjadi kakek dan nenek.

Untuk dapat menyatukan dua insan yang berbeda tentunya tidaklah mudah, maka dari itu sebelum melangsungkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, perlu sering-sering berdiskusi agar dapat mengetahui calon pasangan bisa diajak untuk berdiskusi atau tidak. Sejatinya lama atau tidak suatu hubungan itu bukan karena rupa, melainkan karena komunikasi yang saling bertautan. Oleh karena itu, yuk cari pasangan yang se-frekuensi!

One thought on “Hal yang Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah

Add Comment