Keikhlasan dalam Menjaga Ketahanan Pangan

Kolam budi daya ikan Kelompok Tani Kauman 265. ILHAM LUTHFI HABIBI

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya dijamin oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Tidak hanya sekedar memenuhi kuantitas pangan tetapi juga kualitasnya. Pasal 60 UU No 18/2012 mengamanatkan bahwa Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal guna mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif.

Penjabaran dari Undang-Undang Pangan tersebut telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi dimana dalam Pasal 26 disebutkan bahwa upaya penganekaragaman pangan salah satunya dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan

Kampung sayur merupakan suatu program dari pemerintah daerah Yogyakarta yang kali ini dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta untuk mewujudkan ketahanan pangan sebagai pondasi pembangunan dari sektor-sektor lainnya. Sasaran program kampung sayur adalah warga yang mempunyai pekarangan terlantar (tidak dimanfaatkan) untuk dijadikan tempat tanam.

Setiap anggota wajib mengembangkan pemanfaatan pekarangan dengan menanam tanaman sumber pangan (sayur, buah, umbi) ataupun memelihara ternak dan ikan. Tujuannya adalah mencukupi ketersediaan pangan dan gizi di tingkat rumah tangga. Hasil dari usaha pekarangan ini diutamakan untuk dikonsumsi oleh rumah tangga bersangkutan dan apabila berlebih dapat dibagikan atau disumbangkan kepada anggota kelompok.

Kauman 265 merupakan kelompok tani yang terletak di Kalurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta. Kelompok tani ini berdiri sejak tahun 2014. Bukan waktu yang singkat Kelompok Tani Kauman masih bisa berjalan hingga sekarang, mengingat lokasi pertaniannya terletak di tengah kota, yang notabene warga masyarakatnya jarang berlatar belakang petani. Lebih lagi, di perkotaan sekarang sangat sulit untuk ditemui lahan kosong yang bisa digunakan untuk pertanian.

Anggota Kelompok Tani Kauman 265 berjumlah 36 anggota, tetapi yang aktif sekitar 15 orang saja. Hal itu tidak menyurutkan anggota kelompok tani terutama Tukinem sebagai ketua untuk tetap mengembangkan kampung sayur. Tukinem adalah ketua kedua yang didapuk pada tahun 2018 menggantikan kepengurusan sebelumnya. Pergantian diharapkan bisa meregenerasi pengurus yang mampu memberi ide atau gagasan baru mengenai kampung sayur.

Lahan pertanian untuk budi daya sayuran di sini dimiliki oleh warga sekitar, yang telah mengizinkan agar dikelola untuk kepentingan bersama dan tentunya menjadi kegiatan positif. Lahan ini berlokasi di tengah pemukiman warga, yang tidak hanya bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan sayuran warga sekitar tetapi juga sebagai lahan hijau yang dapat menyegarkan pemandangan.

Awalnya, selain ingin memanfaatkan pekarangan rumah untuk budi daya sayuran, kelompok tani juga ingin memanfaatkan gang-gang sempit atau di samping jalan untuk budi daya sayuran, tapi niat itu tidak terlaksana karena banyak warga yang tidak terima jika gang-gang sempit tersebut dibuat tempat budi daya sayuran. Mereka beralasan dapat mengganggu pengguna jalan dan membuat kotor pemukiman warga.

Kampung sayur di sini banyak melakukan budi daya sayuran di antaranya kangkung, sawi, dan cabai. Untuk hasil panennya, sementara ini di jual ke warga sekitar terutama kepada orang lansia, karena tanaman dibudidayakan tanpa menggunakan pestisida selama perawatannya, membuat warga lansia sangat menyukainya untuk dikonsumsi setiap hari.

Tidak hanya sayuran yang dibudidayakan oleh anggota Kelompok Tani Kauman 265, ada juga budi daya ikan seperti nila dan lele. Untuk hasil dari budi daya ini cukup menghasilkan, minimal dapat dijual ke warga sekitar dan dapat dinikmati hasilnya oleh anggota Kelompok Petani Kauman 265.

Pengelolaan di kampung sayur dibagi dua, yaitu pengelola budi daya sayuran dan pengelola budi daya ikan. Hal ini untuk memudahkan pelaksanaan operasional terutama mengenai keuangan, sehingga setiap bulannya pada saat rapat koordinasi pengurus Kelompok Tani Kauman 265, dapat dilihat mengenai seberapa besar pemasukan dan pengeluaran antara budi daya sayuran dan budi daya ikan.

Selain melakukan rapat koordinasi setiap bulan, kelompok tani ini juga membuat jadwal setiap hari untuk merawat kampung sayur seperti menyirami tanaman dan memberi makan ikan. Ada juga kerja bakti yang pelaksanaanya kondisional, bisa sebulan sekali atau dua kali. Kalau memang kampung sayur membutuhkan perawatan yang intensif, kerja bakti bisa dilakukan seminggu sekali.

Hambatan dan tantangan pasti banyak dihadapi oleh pengurus Kelompok Tani Kauman 265 dalam melaksanakan pengelolaan kampung sayur, misalnya banyak pengurus kurang sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai pengurus kelompok tani, “Namanya juga kerja sosial atau kerja sama untuk kebermanfaatan bersama, tidak bisa dipaksakan. Semua kembali kepada pengurus untuk keikhlasan membantu mengelola kampung sayur tersebut,” ujar Tukinem, Ketua Kelompok Tani Kauman 245.

“Ditambah lagi waktu pandemi Covid-19, banyak warga yang takut untuk keluar rumah dan otomatis kampung sayur tidak ada yang merawatnya. Kalau ada, paling hanya satu sampai dua orang saja, tapi seiringnya berjalannya waktu, aktivitas kampung sayur sudah seperti biasanya lagi seperti sebelum adanya pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Hal yang melatarbelakangi warga masyarakat mau bertani di tengah kota adalah untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang produktif dan dapat menyalurkan hobinya. Banyak tenaga yang dikeluarkan untuk mengelola kampung sayur, tapi apabila didasari dengan kesukaan pasti hal itu akan tergantikan oleh kampung sayur yang hijau dan indah.

Harapannya ke depan mengenai Kelompok Tani Kauman 265, Tukinem mengungkapkan lebih banyak lagi warga yang aktif mengelola kampung sayur dan kampung sayur ini dapat lebih bermanfaat, khususnya untuk warga kampung Kauman dan untuk warga Kalurahan Ngupasan pada umumnya.

Kelompok Tani Kauman 265 Berprestasi

Kelompok Tani Kauman 265 yang berdiri sejak tahun 2014, berarti sudah selama tujuh tahun ini berjalan untuk memberi manfaat kepada warga sekitar. Terutama dalam hal ketahanan pangan, kelompok tani ini sudah berkontribusi kepada warga sekitar untuk menyediakan kebutuhan dapur terutama sayuran. Apalagi di waktu pandemi Covid-19, di saat banyak warga tidak bisa keluar rumah karena kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial guna mencegah penyebaran Covid-19, Kelompok Tani Kauman 265 hadir sebagai penyedia kebutuhan sayur-sayuran warga sekitar.

Hasil dari itu semua tidak lepas dari peran pengurus atau anggota kelompok tani dalam mengelola kampung sayur, meskipun banyak kendala yang harus dihadapi, Kelompok Tani Kauman 265 tetap bisa berdiri dan berjalan agar bisa terus memberi manfaat kepada warga sekitar.

Melihat kontribusi dan solidaritas pengurus Kelompok Tani Kauman 265, tak heran jika kelompok tani ini banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai kategori, di antaranya adalah kategori kampung hijau dan kategori kelompok tani.