Kisah Si Pendatang Baru

Upacara di Shelter Covid-19. KALURAHAN PANGGUNGHARJO

Menjadi aparatur pemerintahan bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata dan dianggap sepele. Saya baru bergabung sebagai perangkat Kalurahan Panggungharjo dan masih seumur jagung. Sebuah pengalaman yang mungkin tak terlupakan berawal dari shelter Tanggon Gabungan Kapanewon Sewon.

Sebuah tantangan tersendiri pada saat itu. Saya yang baru menjadi perangkat Kalurahan Panggungharjo, harus beradaptasi dengan bidang kemakmuran yang merupakan bidang pekerjaan yang sangat baru bagi saya. Bersamaan dengan itu, saya juga harus belajar tentang mekanisme pengoperasian shelter Covid-19 yang juga merupakan pengalaman pertama. Banyak asam, manis, pahit, dan asin pengalaman yang saya alami di Shelter Tanggon ini.

Shelter Tanggon gabungan Kapanewon Sewon sendiri adalah shelter yang beroperasi di tengah meledaknya kasus Covid-19 di medio Juni hingga Agustus 2021. Penuhnya shelter-shelter kabupaten dan provinsi, mau tidak mau “memaksa” kami untuk menyediakan shelter baru untuk mengatasi masalah tersebut.

Sayangnya, di tengah proses pembentukan Shelter Tanggon, saya harus menjalani isolasi mandiri di rumah karena empat orang anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan saya terpapar Covid-19. Selama isolasi mandiri, saya merasa sangat jenuh. Selain itu, saya juga tidak enak hati kepada rekan-rekan lain yang berjuang melawan pandemi sedangkan saya harus berhenti sejenak terkurung di dalam rumah.

Lepas dari “Penjara”

Setelah isolasi mandiri selama 14 hari di rumah, pekerjaan banyak menanti dan kebutuhan Shelter Tanggon akan relawan juga makin masif. Jumlah relawan yang tidak memadai membuat beberapa relawan termasuk dari perangkat kalurahan ngedrop dan bahkan ada beberapa yang terpapar Covid-19. Beberapa dari rekan relawan yang terpapar Covid-19 di antaranya Pak Rosada (Dukuh idola), Pak Siwi (Dukuh Krapyak Kulon yang paling viral) dan Pak Bimo (Pak Kamituwa yang menolak tua).

Karena banyaknya relawan yang berjatuhan, struktur kepengurusan Shelter Tanggon mau tidak mau harus dirombak ulang. Saya diamanahi untuk memegang kesekretariatan yang mengurus kebutuhan administratif Shelter Tanggon dan hal-hal yang mendukung bagian medis maupun nonmedis.

Mendapat amanah baru yang tidak mudah, tentunya memerlukan banyak adaptasi, apalagi harus mengoordinasi rekan-rekan relawan shelter dari berbagai bermacam usia dan karakter. Tak jarang di tengah lelah, capek, puyeng, kuping ini harus siap menerima keluh kesah, masukan, kritikan, dan bahkan curhatan.

Tidak hanya dari teman-teman relawan, keluh kesah para penyintas juga harus didengar. Salah satu keluhan dari penyintas adalah sudah lama tidak nonton Andin (sinetron “Ikatan Cinta”). Hehe. Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi dengan rekan-rekan relawan yang lain, ada yang memberikan ide untuk membuat acara nonton bareng menggunakan proyektor. Para penyintas pun terhibur dan ketagihan minta nobar (nonton bareng) lagi. Melihat senyuman dan antusias mereka jadi pereda lelah di tengah rumitnya pengelolaan shelter.

Pengalaman Pertama Upacara Berhazmat

Di tengah pandemi, tim Shelter Tanggon mengadakan upacara terbatas dengan protokol upacara yang seadanya. Untuk pertama kalinya saya mendapat tugas menjadi pembina upacara dan mengenakan hazmat.️ Waktu menyampaikan amanah pembina upacara, napas saya ngos-ngosan dan kacamata berembun karena napas sendiri.

Syukur alhamdulillah, walau dengan segala keterbatasan, dan sempat diwarnai lagu “Mengheningkan Cipta” yang diputar lewat YouTube tidak bisa diputar, upacara bisa berjalan lancar.

Kisah dari Bunga yang Merekah

Terakhir, di Shelter Tanggon ini tidak hanya sekadar cerita tentang pandemi dan mitigasi, ada juga cerita tentang hati, hehe. Kata orang, di setiap musibah selalu ada hikmah dan juga bunga yang merekah. Bunga itu menjadi rebutan untuk dimiliki. Tetapi, tidak mungkin setiap orang bisa memiliki bunga itu. Hanya orang yang beruntung yang bisa memiliki bunga itu. Siapakah diaaa? Nanti juga tau, kok, hehe.

Semoga orang yang bisa memiliki bunga itu bisa menjaganya dengan sepenuh hati. Untuk yang tidak berhasil semoga tidak berkecil hati. Semoga mereka mendapat bunga yang lain yang layak untuk dimiliki dan membahagiakan hati.