Komitmen Besar Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Kolam budi daya ikan di tengah kampung sayur KTD Ngremboko. ILHAM LUTHFI HABIBI

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Pangan adalah salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat gizi. Kekurangan atau kelebihan pangan dalam jangka waktu lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan.

Keadaan kesehatan seseorang tergantung dari tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan terpenuhinya semua zat gizi yang diperlukan tubuh sedangkan kuantitas menunjukkan jumlah masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Jika susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh baik secara kualitas maupun kuantitasnya, maka tubuh akan mendapatkan kondisi kesehatan gizi yang sebaik-baiknya.

Pada masyarakat dikenal adanya kebiasaan makan yang berbeda antara masyarakat satu dengan yang lain. Hal ini disebut dengan pola konsumsi pangan. Pemenuhan kebutuhan pangan dalam konteks ketahanan pangan merupakan pilar bagi pembentukan sumber daya manusia berkualitas yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tatanan global. Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis karena pangan adalah kebutuhan dasar manusia.

Ketahanan pangan pada dasarnya terbagi menjadi ketersediaan pangan (food availability), konsumsi pangan (food consumption), dan keterjangkauan pangan (food accessibility). Ketersediaan pangan yang cukup berarti rata-rata jumlah dan mutu gizi pangan yang tersedia di masyarakat dan pasar mencukupi kebutuhan konsumsi semua rumah tangga.

Ketahanan dan konsumsi pangan yang cukup merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan ketersediaan dan gizi bagi tubuh. Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein dalam jangka waktu tertentu akan berdampak pada menurunnya produktivitas kerja.

Berangkat dari kepedulian masyarakat terhadap ketahanan pangan, warga Kalurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta membuat Kelompok Tani Dewasa (KTD). Adapun nama dari kelompok tani dewasa adalah Ngremboko. Ngremboko berasal dari bahasa jawa yang mempunyai arti berkembang atau berkembang biak. Jadi, sesuai dengan nama kelompoknya, kelompok ini mempunyai spirit untuk berkembang lebih baik lagi dan apa pun yang dibudidayakan di kampung sayur dapat berkembang biak lebih banyak lagi.

Kelompok ini sudah berdiri sejak tahun 2016, tapi secara legalnya KTD Ngremboko baru sah pada tahun 2018. Pada awal berdirinya, anggota KTD Ngremboko berjumlah 42 orang, tapi seiring berjalannya waktu anggotanya menyusut menjadi 35 orang, sementara yang benar-benar aktif hanya 15 orang. Meskipun demikian hal ini tidak membuat para anggota kelompok putus asa, mereka tetap semangat dalam mengelola kampung sayur.

Lahan yang dikelola anggota kelompok tani untuk digunakan sebagai perkebunan atau dijadikan kampung sayur, dulunya adalah lahan kosong yang penuh semak belukar dan dijadikan pembuangan sampah oleh warga sekitar. Kemudian warga sekitar berinisiatif untuk mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif, salah satunya digunakan untuk menanam sayuran untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi sehari-hari dan juga dapat dipasarkan sehingga bisa meningkatkan perekonomian.

Dalam mengelola kampung sayur, KTD Ngremboko banyak melakukan budi daya di banyak bidang, di antaranya ada tanaman, perikanan, dan peternakan. Hal ini sangat bagus untuk kemajuan sebuah kelompok tani karena tidak hanya menggantungkan penghasilan di satu sektor saja melainkan banyak sektor yang dapat menghasilkan. Untuk sejauh ini budi daya yang paling sering menuainya adalah sayuran, mengingat sayuran itu perawatannya mudah dan waktu panennya singkat.

Budi daya tanaman yang dilakukan anggota kelompok ada dua jenis yaitu sayuran dan buah-buahan. Untuk jenis sayuran ada sawi, lombok, terong, dan lain-lain. Untuk sawi sendiri tidak hanya dikonsumsi kelompok, tapi juga dijual langsung kepada warga sekitar, salah satunya kepada penjual mie ayam, bahkan penjual mie ayam menginginkan 10 kilogram sayur untuk satu hari tetapi anggota kelompok tidak mampu untuk memenuhinya dan akhirnya kelompok tani hanya mampu mendistribusikan semampunya saja.

Musim pandemi seperti sekarang, penjualan justru meningkat termasuk penjualan bibit dan tanaman sayuran organik. Berbeda dengan wilayah pedesaan, pelaku pertanian perkotaan lebih minat membeli tanaman sekaligus medianya dalam satu paket yang biasa disebut tabulampot atau tanaman buah dalam pot. Selain lebih praktis juga menghemat waktu dan tempat.

Semantara itu, untuk bidang peternakan, ada ayam dan entok. Khusus untuk ayam yang lebih menghasilkan untuk bidang peternakan dibandingkan dengan entok, karena peminat ayam sangat banyak di wilayah Kalurahan Kricak apalagi waktu lebaran permintaan meningkat drastis, bisa beromzet sampai jutaan rupiah. Tidak hanya itu, bahkan setiap harinya ayam tersebut sebelum disembelih dapat bertelur setiap hari.

Ikan lele yang dibudidayakan kelompok tani di kampung sayur sudah beberapa kali panen, hasil panennya dijual kepada masyarakat sekitar, tentunya dengan harga lebih murah dari pasaran. Hal itulah yang semakin membuat warga masyarakat tertarik untuk membeli ikan lele yang di jual oleh KTD Ngremboko.

Kegiatan anggota kelompok tani untuk mengelola kampung sayur sudah di jadwal setiap harinya, jadi masing-masing anggota kelompok tani memiliki jadwal ke kampung sayur sayur minimal satu minggu sekali. Kegiatan yang dilakukan di kampung sayur di antaranya adalah siram-siram tanaman dan memberi makan ternak. Rata-rata aktivitas yang dilakukan biasanya di pagi hari dan di sore hari, di pagi hari dilakukan sebelum para anggota kelompok berangkat kerja dan kalau di sore hari dilakukan setelah pulang kerja. Karena yang perlu diketahui, anggota mengelola kampung sayur ini hanya sebagai sampingan dan sebagai hobi, belum bisa sebagai mata pencaharian tetap.

Kelompok tani membuat pupuk dari limbah jamur yang sudah difragmentasi untuk menjaga kualitas tanaman yang dihasilkan, selain membuat pupuk untuk digunakan sendiri, pupuk tersebut juga dijual kepada warga sekitar dengan harga 15 ribu untuk satu karung. Hal ini sangat bagus dilakukan, karena selain dari hasil pertanian, pemasukan dapat dilakukan dengan menjual pupuk ini.

Selain digunakan kebun pertanian, di tempat kampung sayur ini juga terdapat angkringan yang dimanfaatkan warga sekitar untuk berjualan, jadi sambil menikmati minuman dan hidangan yang tersedia di angkringan tersebut, warga juga bisa sambil melihat pemandangan kampung sayur yang hijau. Adanya angkringan tersebut merupakan sebagai wujud komitmen anggota kelompok tani untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar.

Ketua KTD Ngremboko yang bernama Sudiran mengungkapkan bahwa dia berharap kampung sayur ini dapat berjalan terus apa pun kondisinya dan yang terpenting ketahanan pangan lokal atau warga sekitar terpenuhi. Kelompok tani ini tidak mengharapkan profit dari kampung sayur, tapi yang terpenting adalah anggota kelompok tani ikhlas dalam mengelola kampung sayur dan bisa membuat guyub rukun masyarakat.

Bahan Bacaan

Haeruddin, dkk. 2019. ‘Ketahanan Pangan Masyarakat Kota Baubau’. Jurnal Pembangunan dan Budaya KAINAWA, Volume 1.

 

Add Comment